Lucu memang. Namun takdir Allah siapa yang tahu?
Beberapa hari sebelum aku membaca buku Felix Siaw yang berjudul Master Your Habits, aku thaharah dan memulai kebiasaan baru untuk shalat lebih tepat waktu, mencanangkan One Day One Juz pada diri dan memperbanyak berdzikir. Buku tersebut makin memantapkanku agar tak menggoyahkan diri pada kebiasaan baik baru tersebut.
Masa menjadi pengawas ujian juga aku manfaat sebagai ajang muhasabah. Berfikir kembali. Aku memang terlahir Islam, namun aku sendiri juga sadar bahwa bekaldari rumah dengan Islam keturunan ini tak cukup untuk memberikanku bekal menuju akhirat kelak. Aku harus bisa memperkuat keimanan dan memperkokoh keyakinan sendiri. Sebelum kelak aku akan terjun di masyarakat dengan isu-isu yang keagamaan yang lain.
Kindut entah kapan pernah bertanya apa sebenarnya cita-citaku. Apa ya? Menjadi waratawan kini hanya menjadi sampingan, aku pernah juga bermimpi tentang sekolah islamisasi. Namun kelak aku ingin menjadi cendekiawan muslim, atau lebih tepatnya menjadi ulama yang cendekia. Maka itu aku harus berbekal dari sekarang.
Ilmumu baru setetes air saja.
Untuk itulah habits baru yang ingin keseriusi adalah lebih tekun untuk membaca dan tidak mengakhirkan amalan. Amiin.




KH. Hasan Abdullah Sahal selalu mengatakan dalam pidatonya, ikhlas itu mahal harganya dan tidak bisa dibeli. Keikhlasan jugalah yang menjadi salah satu panca jiwa Gontor. Keikhlasan bukanlah barang yang bisa ditakar, namun dari hati nurani yang juga terasahkan karena pelatihan. Pelatihan keikhlasan di Gontor sudah ada sejak pertama kali menginjakan kaki di dalamnya. Dari hal remeh seperti piket kamar, mengambilkan makan bagi teman yang sakit, hingga kemudian makin senior di pondok makin tinggi pula tingkat keikhlasan (yang seharusnya) dimiliki para santrinya. Menjadi penguji yang ikhlas, pengawas ujian yang ikhlas, pengajar yang ikhlas, belum lagi saat sudah masuk ke dalam kepanitiaan dan masa pengabdian. Sekali ikhlas itu mahal harganya.
Kamu tidak dapat mengukur lelahnya mengawas ujian dengan konsumsi yang bisa dinilai harganya. Tidak bisa pula membeli keikhlasan untuk mengajar dengan apapun.
Beberapa fenomena namun terjadi juga. Pernah saat awal-awal aku menjadi guru, ibuku mengingatkan agar tidak jutek dan judes, terlebih apabila di hadapan wali santri. Wali santri sudah datang jauh-jauh ingin mengetahui kondisi anaknya tapi malah dibalas dengan ketus oleh anak dua puluhan. Kalau tidak salah jawabanku saat itu adalah kami disini bukan hanya mengajar dan mengurus satu dua anak saja, namun juga memiliki kewajiban sektor dan kuliah. Sungguh, saat itu aku menelan ludah. Apa sesibuk itu waktuku?
Pernah pula ada omongan. Kenapa pondok masih kurang bersih? Saat ada yang menjawab bahwa pekerja akan melakukan pekerjaannya lebih maksimal karena dibayar, seketika salah satu dosenku membalasnya. Apa kita harus dibayar dulu baru melakukan pekerjaan dengan maksimal? Bagaimana ikhlas yang katanya tidak ada takarannya itu?
Hal ini yang selalu menjadi renunganku. Untuk diriku dan sekitarku. Masih berada di pondok ini untuk mengabdi sambil belajar banyak hal. Baik akademis dari segi perkuliahan dan non-akademis untuk hidupku kini juga kelak. Pun juga masih belajar keikhlasan. Gontor tak membutuhkan balasan dari kita, bila kita berfikir untuk membalas jasa. Karena kita yang butuh, maka kita masih berada di sini. Untuk apa? Jawaban bisa relatif. Namun hingga kini aku sendiri masih menerima manfaat pondok untuk memaksimalkan dan mengoptimalkan diri sebelum benar-benar terjun pada masyarakat kemudian bertemu realita yang sesungguhnya.
Mantingan, 20 Desember 2014
Pusat Data-22.12



Sewaktu kelas satu dulu aku pernah belajar,
هلك امرء من لم يعرف قدره
Celakalah bagi orang yang tak mengetahui kemampuan dirinya.

Konsep ‘tahu diri’ ini (seharusnya) dipegang teguh oleh banyak orang. Karena merasa kurang, maka belajar. Mudah sakit, makanlah tepat waktu. Namun konsep in kadang pula disalahartikan oleh kaum pesimistis.
Karena tahu (atau belum mencoba?) tak bias acting, maka tak pernah casting. Tahu tak akan memiliki kans menang dalam perlombaan, maka tak pernah mau mencoba.
Seharusnya term pertama yang ‘tak bisa’ itu disandingkan dengan term positif untuk menanggulangi kekurangan pada kemampuan diri tersebut.
Knowing yourself. Itu kuncinya. Mengetahui tanpa merendahkan diri atau mempencundangi diri.



Entah berapa kali aku mengikuti perlombaan ataupun seleksi. Entah berapa kali pula aku mengalami kegagalan atau keberhasilan. Seringnya sih gagal. Tapi itu bukanlah sesuatu yang patut dirayakan, namun dijadikan pelajaran. Aku justru bangga pada diriku yang kalah setelah mencoba daripada tenang karena belum mencoba karena takut. Itulah saat dimana aku menjadi seorang pecundang. Takut pada hal yang belum pasti dan kalah sebelum perang.
Esensi terbaik yang dimiliki oleh para pemenang adalah saat berusaha. Pun disaat kita kalah pun esensi yang dimiliki adalah sebuah pelajaran untuk menjadi tetap tegar dan koreksi akan kesalahan yang dibuat.
Beberapa hari lalu dalam pembukaan muker DEMA, KH. Ahmad Suharto berkata, bahwa seorang anggota hanya dapat bermimpi, namun seorang pemimpin adalah orang yang dapat merealisasikan mimpi-mimpinya. Maka milikilah jiwa seorang pemimpin.
Korelasi yang kuambil dari kasus menang-kalah ini adalah ‘jiwa’-nya. Jiwa para pemenang adalah orang yang mempersiapkan bagi kemenangannya, meski tak menang, sudah memiliki jiwa dan persiapan layaknya pemenang. Maka saat bertanding bukan dalam posisi siap kalah.
We are the champion, my friend....



Menunggu memang bukanlah hal yang menyenangkan. Pun begitu masih saja kita melakukannya, atau sengaja melakukannya. Menunggu (katanya) waktu yang tepat.
Banyak orang yang ‘baru’ akan mengerjakan sesuatu setelah datang waktu yang tepat. Masalahnya, mau menunggu hingga berapa lama baru mengerjakan? Malah bisa jadi waktu yang tepat itu tidak pernah datang hingga kita membatalkan untuk mengerjakannya. Mereka berpikir bahwa waktu sangatlah panjang. Padahal justru waktu adalah pembunuh yang handal.
Kesempatan tak pernah tahu kapan kan datang, sementara waktu kita terbatas. Kadang kala kesempatan tak cukup hanya ditunggu, namun dijemput, diciptakan dan direbut. Yang lebih parahnya adalah saat kesempatan datang, namun kita tak sadar sehingga membuang kesempatan itu dengan perasaan pecundang. Setelah sadar, sakitnya dimana, coba?

-on rewrite setelah muraja’ah-
1/11/2014 Saturday. diwan




Judul : Rindu
Penulis : Tere Liye
Editor : Andriyati
Penerbit : Republika
Tebal Buku : ii + 544 hal; 13.5x20.5 cm
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2014

Sebelum membaca novel ini yang saya pikirkan adalah novel percintaan layaknya Aku, Kau dan Sepucuk Angpau Merah atau Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin. Namun ternyata prasangka ini salah dari halaman awal.
Dalam sinopsisnya tertera,
Ini adalah kisah tentang masa lalu yang memilukan. Tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya disayangi. Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati. Tentang kemunafikan. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan.
Kisah dimulai dengan perjalanan awal kapal uap dari Makassar yang berlanjut ke Surabya, Semarang, Batavia, Lampung, Bengkulu, Padang dan Aceh untuk mengangkut penumpang haji menggunakan kapal uap Blitar Holland.
Dalam tiap perjalanan terdapat cerita berupa pertanyaan dan jawaban tentang kehidupan yang berbeda. Pertanyaan pertama tentang kisah masa lalu yang memilukan dari Bonda Upe. Seorang mualaf pecinan Manado yang masih belum bisa bangkit dari keterpurukan masa lalunya. Apakah Allah akan menerima hajinya? Bagaimana masyarakat kemudian akan memandangnya? Bagaimana bila anak-anak tahu bahwa guru ngajinya memiliki masa lalu yang kelam?
Jawaban dari pertanyaan ini tentu datang dari Burutta yang akan menjadi kunci dari segala kisah-kisah dan pertanyaan.
“.... Orang lain hanya melihat luar. Maka tidak relevan penilaian orang lain. Kita tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Itu kehidupan kita. Tidak perlu siapa pun mengakuinya untuk dibilang hebat. Kitalah yang tahu persis setiap perjalanan hidup yang kita lakukan...” (hlm. 313)
Pertanyaan kedua datang dari Daeng Andipati, seorang saudagar asal Makassar dari keluarga terpandang. Tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya disayangi. Meski semua orang menganggapnya sebagai orang yang paling bahagia di kapal Blitar Holland, memiliki harta benda, nama baik, pendidikan tinggi yang tak semua orang bahkan Belanda pun mendapatkannya, istri yang cantik dan menggemaskan, namun di balik itu ia masih merasakan kegelisahan pada kebenciannya yang pekat sejak puluhan tahun silam.
“... saat kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah, dan kita benar. Kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati...” (hlm. 374)
Selanjutnya adalah tentang kehilangan kekasih hati dari pasangan paling romantis di kapal itu. Mbah Kakung dan Mbah Putri, begitu orang lain memanggilnya. Betapa hancurnya hati Mbah Kakung kehilangan belahan jiwa yang selama lima puluhan tahun menemaninya melengkapi pertanyaan dalam hidupnya.
“... Takdir, kita menerima atau menolaknya, dia tetap terjadi. Takdir tidak pernah bertanya apa perasaan kita, takdir bahkan basa-basi menyapa pun tidak. Namun karena kita tidak bisa mengendalikannya, bukan berarti kita jadi makhluk tidak berdaya. Kita tetap bisa mengendalikan diri sendiri bagaimana menyikapinya. Apakah bersedia menerimanya, atau mendustakannya..” (hlm. 472)
Pertanyaan berikutnya adalah dari kelasi menarik kapal Blitar Holland, Ambo Uleng. Satu-satunya kelasi pribumi dari Pare-Pare dan menguasai bahasa Belanda. Pergi bersama kapal ini untuk melupakan sesuatu dari tempat asalnya. Pertanyaan yang ia miliki adalah apa itu cinta sejati? Dalam sesi ini Gurutta pun menceritakan sedikit potongan hidupnya tentang kehilangan cinta.
“... Sekali kau bisa mengendalikan harapan dan keinginan memliki, maka sebesar apa pun wujud kehilangan, kau akan siap menghadapinya..” (hlm. 493)
Dari empat pertanyaan dan jawaban yang diberikan oleh Gurutta, justru ialah pemilik pertanyaan kelima. Dalam hati ia selalu risau. Bagaimana bisa ia menjawab, berkata, didengarkan, menasihati di saat ia sendiri masih belum bisa menggerakan diri. Tentang kemunafikan. Jawaban pertanyaan terakhir ini bukan berupa kata, namun perbuatan yang disadarkan dari kelasi pendiam, Ambo Uleng.
Pertanyaan-pertanyaan yang menjadi inti dari kisah ini baru dimulai di pertengahan buku. Semula dengan alur yang lambat saya hampir menyerah meski disisipi unsur sejarah pada zaman itu, geografi Indonesia, pengetahuan perkapalan dan laut, kisah Anna bungsu Daeng Andipati, serdadu Belanda yang menyusahkan dan keharmonisan Belanda pada pribumi yang kontra dengan penjajahan. Namun bukan Tere Liye jika tak mempu menyembunyikan kejutan terbesarnya. Gaya penulisan yang tak dimiliki oleh penulis lain. Selalu ada pelajaran berharga yang dapat diambil. Terutama dari novel Rindu yang menampilkan pertanyaan kehidupan yang biasa kita temui disertai jawaban khas Tere Liye.
Entah kebetulan atau memang takdir Allah, sebelum membaca novel Rindu saya sendiri sudah tiga kali bermimpi tentang Makkah. Maka semakin lengkaplah kerinduan untuk mencapai Bait Haram. Allahumma haqqiq amalana ziyarata baytika..







Ceritanya kemarin ada salah seorang temanku yang curhat dan mengabarkan. Kini ia sedang melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Obrolan tengah malam itu tanpa diduga-duga. Biasalah perempuan. Kalau bicara suka nyambung kemana-mana. Setelah membahas tentang keadaan seorang teman yang di tengah masa shock akan perjalanan mimpinya, ia bercerita.
Dalam hidupnya tak hanya sekali ia merasa Allah membelokkan jalannya. Dari dulu, kini pun begitu. Rahasia Allah yang ia rasakan saat pembelokan pada saat kelas tiga KMI baru ia sadari saat kelas enam. Maka ia pun bingung apalagi rahasia Allah dalam pembelokkannya kini. Kapan akan ia sadari?
Apa aku tak merasa di belokkan jalannya? Mungkin saja. Kelanjutan dari postingan terdahulu, tentang jalan yang terpilih atau dipilihkan. Termasuk yang mana jalanku ini? Bisa jadi dua-duanya. Namun bukan tentang aku yang ingin kubahas saat ini.
Aku pun akhirnya bercerita padanya tentang apa yang kurasakan kini. Tentang merasa tersesat, kadang jenuh, rasa syukur, perbaikan diri, maksimalis dalam pekerjaan. Ia hanya manggut-manggut. “Gampang kalau berkata teori, pelaksanaannya itu susah,” katanya. Ah, bagaimana aku dapat berkata lagi?
Apa yang kutulis, kuceritakan tentang motivasi dan problem solving kemudian aku mengaca pada diri sendiri. Apakah aku sebaik itu dalam realita untuk membuat teori tentang hidup? Aku bukanlah orang bijak, orang baik, ataupun orang yang sempurna. Terkadang saat aku menulis, maka sesungguhnya aku juga sedang berbicara pada diri sendiri. Hei... perbaikilah hidupmu....
Manusia memang mudah sekali berencana dan berkata. Saat aku mendengar jawaban dari temanku ini, aku berpikir lagi. Mungkin saja karena apa yang kita teorikan itu belum sepenuhnya masuk ke dalam hati kita. Sehingga efek teori itu tak dapat memperbaiki aplikasi kita dalam hidup. Sama saja seperti pengarahan-pengarahan yang bertujuan untuk memperbaiki kinerja. Kalau hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri akhirnya tetap saja ada kesalahan dan pekerjaan yang tak maksimal. Mungkin analoginya seperti ini, tahu tapi tidak mau tahu atau pura-pura tak tahu.
Uusiikum wa iyyaya nafsii bitaqwallah


Ceritanya angkatanku kini belum boleh pulang sampai selesai yudisium kelas 6 untuk mengurus persiapan Ospek. Sebenarnya tak melulu 24 jam kumpul. Ada jadwalnya yang hanya menghabiskan kira-kira 1/7 waktu dalam sehari. Sisanya? Urus diri sendiri.
Tak sepenuhnya aku menyukai liburan. Memang benar kata pak kyai. Ar-rohatuintiqalu 'amalin ila 'amalin akhor, Istirahat adalah pergantian suatu pekerjaan ke pekerjaan lainnya. Ini yang suka membingungkan. Biasanya sibuk lalu diberikan kekosongan. jujur saja, setiap liburan aku malah sering merasakan stress karena bingung akan melakukan apa. 
Maka aku sangat merindukan waktu dimana kami harus berkumpul untuk bekerja menyiapkan apapun itu. Al-faraghah mafsadah itu memang benar adanya. Kalau yang tak mengetahui konsep rohah (istirahat) ya pasti akan memilih mengganti pekerjaan dengan sesuatu yang tak dapat disebut pekerjaan. Aku selalu menekankan pada diriku setiap harinya. What's your value today? Meski kadang bablas, aku cukup merasa menyesal juga bila mengerjakan suatu hal yang tak berguna dan melewati batas.
Kita memang butuh untuk mengistirahatkan diri, otak dan hati. Asal tak berlebihan yang malah menumpulkan ketiganya tadi. Refresh secukupnya, bekerja semaksimalnya. 



Melihat postingan kemarin, mungkin dewasa ibaratku adalah saat seseorang sudah dapat menentukan pilihan hidup. Sebagai orang yang sudah lebih besar biasanya kita selalu ingin mengarahkan bagaimana orang yang lebih junior dari kita itu untuk berjalan ke jalan yang (menurut kita) baik. Padahal belum tentu. Sama seperti saat kita tak ingin apa yang menjadi pilihan hidup kita itu terusik, maka jangan usik pula jalan yang dipilih orang lain. kecuali apabila memang terlihat jelas itu tidak baik baginya, sudah sepatutnyalah kita untuk mengingatkan.
Sering pula seseorang akan merasa seperti tersesat dari jalan yang ia pilih. Tak tahu arah. Akhirnya malah terjebak. Sudah begini mau bagaimana? Kalau keluar tak bisa menjadi alternatif yang baik, mari kita usahakan dengan kesesatan yang kita pilih. Bisa jadi itu hanya karena beberapa sisi hati kita yang belum mau melebarkan pandangan atau hati yang tak mau terbuka. maka kita lebarkan dan buka sedikit-demi sedikit dengan sudut pandang yang mungkin berbeda.
Kita memang tak akan pernah tahu kapan hari Kiamat, kapan waktu kita akan habis, bagaimana masa depan kita nanti, ilmunya hanya milik Allah semata. Tapi mengapa kita tak mengusahakan yang terbaik?
Entah itu jalan yang terpilih, dipilihkan (saya lebih cocok yang pertama. karena itu bentuk dari konsekuensi terhadap diri), maka jalani dengan maksimal.
Selamat berjalan!



Shabahul khoir.
Ada ketergantungan yang sangat mendalam antara aku dan pagi. Serius.
Entah berapa kali aku memposting tentang keindahan pagi,namun pagi bagiku bukan sekedar keindahan dan esensinya yang menyegarkan. Aku selalu rindu bersama pagi. Pagi untukku bukan saat matahari belum naik, namun makna pagi yang sebenarnya adalah saat semua hari dimulai. Sepertiga penghujung malam,ataupun paling tidak sebelum semua kewajiban (atau kebutuhan) seperti shalat Subuh dimulai. Itulah saat-saat yang berharga. Yang membuatku merasa sangat kaya memilikinya.
Jujur saja aku bukan penganut sekte orang malam. Maksudnya dalam melakukan aktivitas apapun. Baik itu untuk belajar, mengerjakan tugas, atau hal-hal lainnya mulai dari hal yang remeh sampai penting. Ah, malam bagiku adalah saat keluhan satu hari tertumpuk menjadi satu. Aku membiarkan jiwa terbang bersama malam. Tidur tepat waktu seperti bayi, agar waktu juga memberikan kesempatan untukku bertemu pagiku yang sesungguhnya.
Mungkin karena alasan itu pulalah aku bergantung pada pagi. Saat semua orang menghabiskan waktunya pada malam hari untuk mencicil pekerjaan, maka pagi adalah waktuku. Pagi adalah saat paling produktif. Nilai kita satu hari lebih besar dipengaruhi oleh bagaimana kita di pagi hari. Mau coba?
Shalat fajr lebih berharga dari apapun yang ada di dunia.
Beberapa hari ini aku merasa miskin karena kehilangan momen pagi yang indah, yang membuatku kaya dalam makna bathini. Ah, menyesalku membuat hidup satu hari itu menjadi kacau. Hatiku kacau lebih tepatnya.
Semoga hari esok aku masih berkesempatan bertemu pagiku.



6.13-2/6/2014




 Ada dua hal yang dapat berpengaruh dalam kehidupan kita. Apabila rusak salah satu, apalagi keduanya, maka rusaklah amal perbuatan yang kita lakukan. Yaitu rusaknya kemauan (fasadu-l-iradah) dan rusaknya ilmu (fasadu-l-‘ilm). Bila iradah kita yang rusak, maka amal yang kita lakukan bisa jadi tidak ikhlas, riya, hasad, padahal
الحسد تأكل الحسنات كما تأكل النار الحطب
Sama juga bila ‘ilm yang rusak (tanpa ilmu atau bisa jadi ada imu tapi tidak benar) akan menghasilkan amal yang tidak benar juga. Karena iman sesungguhnya juga dibangun dari ilmu. Kita tidak bisa langsung saja dapat beriman, percaya, tanpa memiliki ilmu atas apa yang akan kita percayai tersebut. Kalau tidak, berarti sama saja taqlidu-l-a’ma. Mengikuti tapi tidak tahu sebenarnya hakikat apa yang diikuti.
Rumus gampangnya, iradah+’ilm=’amal
Setelah berkemauan dan berilmu yang kemudian menghasilkan amal yang benar dan ikhlas, kemudian ditambah lagi dengan amalan yang bermanfaat. Setelah itu, maka prioritas. Kita mungkin tahu banyak sekali amalan baik dan bermanfaat, namun kita harus dapat membuat skala priiritas dari amal bermanfaat itu bagi hidup kita. Bisa jadi amal yang bermanfaat menurut kita, ternyata ada yang lebih bermanfaat lagi untuk kita sendiri ataupun umat. Kemudian istiqomah. Melakukannya dengan konsisten, sungguh-sungguh dan tidak setengah-setengah.
Begitu besar bukan manfaat ilmu dan kemauan itu? Dalam hidup kita itu jangan pernah berhenti untuk belajar, di saat kita berhenti belajar maka sesungguhnya orang-orang yang bodoh itu ibarat ia mati dalam kehidupan ini. Orang yang sudah pintar dan banyak ilmu saja akan bertambah kesadarannya bahwa sebenarnya ia masih belum memiliki apapun. Apalagi yang tidak memiliki sama sekali.
فوق كلّ ذي علم عليم
Ilmu untuk dimanfaatkan dan diamalkan. Untuk apa kita mempelajari sesuatu kalau seandainya tidak memiliki proses yang benar sehingga ilmu yang rencananya kita usahakan tadi tidak menjadi manfaat? Nilai dan kesuksesan tidak akan pernah ada artinya bila tanpa proses dan diamalkan dengan baik.
Ada quotes yang kupegang untuk hal ini:
Life is never ending leraning, dan
When you stop learning, you stop growing
Mari mencari ilmu tanpa henti…

Wednesday, April 30, 2014 – 5.44 AM




Dalam ajaran Buddha ada istilah kendaraan besar dan kendaraan kecil. Kendaraan besar yang berarti seluruh umat Buddha harus saling tolong menolong untuk mencapai Bodhi, sedangkan kendaraan kecil berarti harus sendiri-sendiri.
Bila di Islam, kita mengenal amar ma’ruf nahi munkar. Mengajak pada kebaikan dan mencegah kemunkaran. Artinya hidup dalam bentuk ibadah dan sosial, tidak kenal dengan istilah egois dalam beribadah. Dalam arti, saling mengajak pada kebaikan (ibadah) tanpa harus takut waktu yang kita miliki akan berkurang akibat harus menegur orang lain. Membangunkan ataupun saling mengingatkan di jam-jam shalat (terutama shalat Subuh mungkin?), menegur teman yang sedang berisik di jam-jam tenang Maghrib. Karena pengaruh kebaikan bukan hanya datang untuk diri kita sendiri, namun juga untuk orang lain bahkan umat dalam skala yang lebih besar lagi.
Seringnya manusia itu berkomentar tanpa ada tindakan. Mengatakan si anu kalau shalat suka di akhir waktunya, bahkan ada istilah subha dan tasyabuh. Apakah kita sudah melakukan sebuah gerakan untuk menuntaskan kemunkaran tersebut? Atau hanya sebatas di alam feeling dan perkataan, lebih parahnya lagi bila hal tersebut dipakai menjadi objek penggunjingan. Lengkaplah sudah!
Di agama lain saja konsep saling tolong menolong ada, di Islam apalagi. Sudah termaktub dengan jelas dalam Al-Qur’an. Apa kita ingin maksud surga sendirian?

Selasa, 29 April 2014 – 6.21 AM



Ada dua model belajar saat ujian.
Pertama, yang ujian untuk belajar,
Kedua, uang belajar untuk ujian.
Kelompok pertama yang menggunakan kondisi ujian sebagai moen asik untuk belajar, sedangkan kelopok kedua yang belajarnya hanya demi ujian.
Bila saya Tanya, nilai atau hasil itu penting nggak sih?
Penting, tapi bukan prioritas. Kemudian apa prioritas sebenarnya? Ya proses kita untuk belajar dan menjadikan ilmu yang kita pelajari itu bermanfaat. Kalau prosesnya benar, otomatis hasilnya akan benar juga, kan?
Selamat berperang dalam ujian….
Selamat berproses…



18/5/14-9.50



Besok sudah terakhir aku menjadi penguji untuk semester ini. Ya, kali ini pondok sedang mengadakan ujian lisan. Sederhana sebenarnya. Bila maksud diadakannya ujian adalah untuk mencari nilai, maka ujian di pondok lebih dari itu. Ada sisipan mental di dalamnya.
Untuk kali ini aku menjadi penguji kelas 3 untuk mata pelajran Bahasa Inggris. Sebelum aku menanyakan perihal soal-soal yang ada di buku teks pelajaran dan Grammar, terlebih dulu aku harus mengadakan conversation singkat pada mereka. Ngobrol ngalur-ngidul untuk mengetahui sejauh mana kemampuan mereka untuk berbahasa secara aktif.
Hamper semuanya aku beri pertanyaan yang sama, “What is your dream?” yang ternyata dijawab hamper 98% dari total anak yang kuuji ingin menjadi dokter tanpa ada bayangan bagaimana dan kenapa.
Ah, aku jadi teringat. Aku pernah membuat artikel tentang mimpi-mimpi kita saat masih kecil. Terangkum,ternyata ada 10 besar mimpi yang menjadi mayoritas saat kita masih kecil. Salah satunya adalah menjadi dokter, yang lain menyusul menjadi guru, polisi, pahlawan, astronot, menjadi seperti orang tua, dan lainnya.
Saat aku mendengar jawaban mereka, dalam hati aku berpikir,benarkah ini mimpi mereka yang sesungguhnya? Atau hanyalah mimpi saat kecil yang belum juga dibangkitkan? Atau hanya asal jawab karena belum memiliki mimpi apapun saat kutanya?
Aku juga kemudian berkaca pada diri sendiri. Banyak sekali mimpi yang kubangun sedari SD hingga kini. Berapa yang sudah tercapai? Berapa banyak yang sudah terbuang? Atau tergantikan?
Dalam hati aku berdoa, semoga mimpi yang mereka katakana dapat mereka pertahankan kelak. Amiin Ya Rabb.



Keindahan menurut etimologi berasal dari kata Latin bellum akar kata bonum yang berarti kebaikan. Menurut cakupannya dibedakan keindahan sebagai kualitas abstrak (beauty) dan sebuah benda yang indah (the beautiful)[1].
            إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ وَ يُحِبُّ الجَمَالَ
Islam sangat menghargai keindahan. Terbukti dalam bentuk arsitektur, kaligrafi, syair dan lain sebagainya yang sudah muncul berabad-abad silam. Namun bagaimana dengan fenomena masyarakat yang ada saat ini? Sudah semakin banyak muslimah yang mulai menutup auratnya terlebih dengan munculnya tren model hijab dan pakaian khusus muslimah yang beraneka macam jenisnya dengan berdalilkan asas keindahan.
Jilbab dan khimar (penutup muka) telah disebutkan secara jelas di dalam Al-Qur’an agar wanita tidak bermode dalam membuat penutup kepala dan pakaian terbuka yang lebih banyak terbukanya dari menutupnya[2].
Seperti tren model hijab yang sering kita temui saat ini. Jilbab yang tertuntut akan perkembangan zaman, mode, fashion dan stylish. Warna jilbab dan baju yang menyala, bermotif, belum lagi dengan beraneka macam kreasi hijab dari berkonde yang menyerupai punuk unta, berjuntai-juntai yang lebih mirip dengan tichels Yahudi dan kerudung Nasrani, hingga melupakan niat awal jilbab untuk menutup aurat.
Inilah yang kita sebut dengan tabarruj. Tabarruj adalah memperlihatkan perhiasan dan keindahan tubuh wanita serta semua bagian badan yang seharusnya tertutup yang dapat mengundang syahwat lelaki[3].
Tabarruj bisa terjadi dengan dandanan wajah, bisa pula dengan menggunakan parfum, atau mengenakan pakaian yang bercorak mentereng, bertingkah genit dan menggoda lelaki dengan ucapan ataupun gaya jalan, atau mengenakan hijab yang tidak sempurna (semisal ketat, transparan, atau menyingkap sebagian aurat yang tertutup)[4]
Rasul pun pernah bersabda, “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi unutk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tetapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian” (HR. Muslim)
Umumnya, semua ulama menyepakati bahwa yang dimaksud berpakaian tetapi telanjang adalah memakai pakaian tipis, atau menyingkap sebagian aurat. Sedangkan kata berlenggak-lenggok adalah wanita yang tidak menjaga kehormatan dan kemaluan mereka. Yang cenderung suka mencari perhatian laki-leki. Adapun kepala mereka seperti punuk unta yang miring sebagai Muslimah yang memilin atau menumpuk rambutnya ke atas hingga terlihat seperti punuk unta, atau Muslimah yang mengenakan kain tambahan hingga terlihat menonjol[5].
Padahal, dalam Al-Qur’an sudah dijelaskan dengan jelas bagaimana seharusnya wanita berpakaian.
@è%ur ÏM»uZÏB÷sßJù=Ïj9 z`ôÒàÒøótƒ ô`ÏB £`Ïd̍»|Áö/r& z`ôàxÿøtsur £`ßgy_rãèù Ÿwur šúïÏö7ム£`ßgtFt^ƒÎ žwÎ) $tB tygsß $yg÷YÏB ( tûøóÎŽôØuø9ur £`Ïd̍ßJ胿2 4n?tã £`ÍkÍ5qãŠã_ ( Ÿwur šúïÏö7ム£`ßgtFt^ƒÎ žwÎ)  ÆÎgÏFs9qãèç7Ï9 ÷rr&  ÆÎgͬ!$t/#uä ÷rr& Ïä!$t/#uä  ÆÎgÏGs9qãèç/ ÷rr&  ÆÎgͬ!$oYö/r& ÷rr& Ïä!$oYö/r&  ÆÎgÏGs9qãèç/ ÷rr& £`ÎgÏRºuq÷zÎ) ÷rr& ûÓÍ_t/  ÆÎgÏRºuq÷zÎ) ÷rr& ûÓÍ_t/ £`ÎgÏ?ºuqyzr& ÷rr& £`Îgͬ!$|¡ÎS ÷rr& $tB ôMs3n=tB £`ßgãZ»yJ÷ƒr& Írr& šúüÏèÎ7»­F9$# ÎŽöxî Í<'ré& Ïpt/öM}$# z`ÏB ÉA%y`Ìh9$# Írr& È@øÿÏeÜ9$# šúïÏ%©!$# óOs9 (#rãygôàtƒ 4n?tã ÏNºuöqtã Ïä!$|¡ÏiY9$# ( Ÿwur tûøóÎŽôØo £`ÎgÎ=ã_ör'Î/ zNn=÷èãÏ9 $tB tûüÏÿøƒä `ÏB £`ÎgÏFt^ƒÎ 4 (#þqç/qè?ur n<Î) «!$# $·èŠÏHsd tmƒr& šcqãZÏB÷sßJø9$# ÷/ä3ª=yès9 šcqßsÎ=øÿè? ÇÌÊÈ  [6]
Terdapat syarat-syarat berpakaian wanita, yaitu:
1.      Menutup seluruh badannya. Hanya saja ulama berbeda pendapat tentang hukum menutup wajah dan telapak tangan
2.      Pakaian wanita tidak boleh termasuk bagian dari perhiasannya. Pakaian yang termasuk perhiasan adalah pakaian yang bersulam dengan aneka warna, atau pakaian yang dihias dengan lukisan-lukisan yang terbuat dari emas dan perak, dan mencolok di mata.
3.      Bahan baju harus tebal sehingga tidak tampak bagian dalamnya
4.      Pakaian tidak boleh diharumkan dengan dupa atau parfum
أَيُّمَا امْرَأَةٌ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا رِيْحُهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ (رواه النسائي وأبو داود والترمذي)
5.      Pakaian wanita tidak mirip pakaian lelaki
6.      Tidak meniru pakaian orang kafir
7.      Tidak berupa pakaian syuhrah. Pengertian pakaian syuhrah adalah setiap pakaian yang dipakai dengan tujuan untuk mengangkat popularitasnya dalam pandangan masyarakat[7].
Tidak pernah diwajibkan mengikuti satu mode tertentu dalam berpakaian. Yang diwajibkan adalah menutupi badan. Tidaklah berdosa mengikuti beberapa mode dengan kondisi cuaca dan lingungan sosial[8].
Bila hijab justru jadi perhiasan yang menyebabkan Muslimah menjadi pusat perhatian di mana pun ia pergi dengan mengikuti fashion dan tren masa kini, tentu tujuan hijab, yaitu menutupi perhiasan tidak terjadi. Karena hijab justru telah menjadi perhiasan baru.
Termasuk semakin maraknya Muslimah yang mulai mengenakan hijab saat ini. Seorang Muslimah awam yang belum memahami hakikat berhijab kemudian dihadapi dengan tren fashion berhijab yang semarak, makin membuat mereka mendapatkan angin segar untuk tetap dapat tampil fashionable dengan berhijab. Berhijab untuk fashion atau menutup aurat? Kemudian setelah tren fashion hijab sudah pudar apakah hijab degan seketika akan ditanggalkan?
Bukankah kita mengharapkan ridha Allah dalam menggunakan hijab? Dengan berhijab yang fashionable, modis, stylish, dan sejenisnya, berarti kita memakai pakaian syuhrah dan melakukan tabarruj seperti yang dijelaskan sebelumnya. Menggunakan hijab bukan lagi menjadi sebuah pengamalan perintah Allah, namun tuntutan perkembangan zaman yang ingin mengajak kita untuk turut serta di dalamnya.
Dengan berbagai alasan yang dikemukakan di atas bukan berarti Islam tidak menghargai estetika atau keindahan, namun Islam ingin menjaga keindahan yang dimiliki wanita dengan syarat-syarat khusus tanpa harus mengikuti mode atau tren fashion yang dibawa Barat dengan mengusung gaya hidup yang modern. Dalam hal ini kita lebih memilih menggunakan kata beauty daripada beautiful yang berbentuk dan terlihat.




[1] Drs. Surajiyo, Ilmu Filsafat: Suatu Pengantar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012) Cet. kelima
[2] Ummu Mahmud Al-Asymuni, Shafa’ Jalal dan Dr. Amal Saami, (Jakarta: Pustaka Elba, 2010)
[3] Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim, Fiqih Sunah Untuk Wanita, (Jakarta: Al-I’tishom Cahaya Umat, 2013) cet. Ketujuh. Judul asli: Fiqh as-Sunnah li-n-Nisa’: Ma Yajibu ‘An Ta’rifuhu Kullu Muslimatin Min Ahkamihi. Penerj: Asep Sobari, Lc.

[4] Felix Y. Siauw, Yuk, berhijab! (Bandung: Mizania, 2012) cet. keempat
[5] Op. Cit
[6] QS An-Nur: 31
[7] Ibid.
[8] Prof. Dr. Abdul Halim Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita jilid 1 (Jakarta: Gema Insani press, 2008), judul asli: Tahriru al-Mar’ah Fii ‘Asri ar-Risalah. Penerj: Chairul Halim, Lc


Powered by Blogger.