Bangunan istana ini adalah replika yang asli. Istano Basa asli terletak di atas bukit Batu Patah dan terbakar habis pada sebuah kerusuhan berdarah pada tahun 1804. Istana tersebut kemudian didirikan kembali namun kembali terbakar tahun 1966.
Proses pembangunan kembali Istano Basa dilakukan dengan peletakan tunggak tuo (tiang utama) pada 27 Desember 1976 oleh Gubernur Sumatera Barat waktu itu, Harun Zain. Bangunan baru ini tidak didirikan di tapak istana lama, tetapi di lokasi baru di sebelah selatannya. Pada akhir 1970-an, istana ini telah bisa dikunjungi oleh umum.
Di kawasan istana, para pengunjung dapat berfoto sepuasnya, ada juga penyewaan kuda poni untuk ditunggangi. Masuk areal rumah gadang harus melepas alas kaki, agar tetap terjaga keberishannya. Kayu yang dipakai sudah agak lapuk sebagai tanda dengan bersuaranya si kayu setiap kali kita akan menaiki tangga. Bangunan ini terdiri dari tiga tingkat.
Interior Istana Baso Pagaruyuang








Istano Basa yang lebih terkenal dengan nama Istana Pagaruyung, adalah sebuah istana yang terletak di kecamatan Tanjung Emas, kota Batusangkarkabupaten Tanah DatarSumatera Barat. Dari kota Padang lumayan jauh. Perjalanan memang melelahkan, namun semua itu terbayar dengan pemandangan yang justru rak ternilai harganya.
Jalan yang perlu ditembuh memang terlampau rumit. Kalau boleh jujur, ini adalah perjalanan paling ekstrem yang pernah kulakukan. Jalanan menanjak ke atas dan berkelok-kelok. Tukingannya pun tajam. Namun lihat apa yang dapat kita temukan setelahnya. Pemandangan yang begitu menakjubkan!




Kita juga akan melalui banyak sekali kebun teh yang dapat dilihat di kanan kiri jalan. Ada yang terawat, namun tak sedikit juga yang seakan tak terjamah dan diurus. Sehingga banyak sekali tumbuhan liar yang bersarang.


Karena perjalanan makin menanjak, maka sudah pasti hawa semakin dingin. Ada beberapa warung yang menyediakan makanan hangat. Mie bisa jadi salah satu cara menghangatkan diri.


Siapa pula di dunia ini yang tak punya masalah? Yang merasa tak punya masalah itu yang bermasalah. Orang yang sudah meninggal, di dalam kubur pun tetap memiliki masalah. Itulah bumbunya hidup. begitu pula perasaan sedih, senang, bangga, benci, semua hal tersebut bentuknya hanyalah sementara. (Sebenarnya) Bisa diatasi, ditanggulangi. Namun bila kita terlarut dalam yang sesaat itu, kita akan hancur.
semua perkara tak akan pernah menjadi besar bila kita tak membesar-besarkannya. Tergantung dari sudut pandang kita. Bagaimana kita melihatnya. Seperti melihat gajah. Akan terlihat besar bila kita membandingkan dengan ukuran yang kita miliki, namun bila diukur dari kaca mata makhluk Allah, maka gajah saja akan terlihat kecil. Karena ada yang Maha Besar.
Don't be frown. Tenang saja, semua akan baik-baik saja. Kita memang tidak bisa menentukan perasaan yang dapat menguasai kita kini, namun kita dapat mengatur tindakan apa yang dapat kita lakukan. Saat ini, untuk nanti. 


Powered by Blogger.