(Ini hasil diskusi singkat bersama Pak Muhammad Muslih, MA dalam mata kuliah Filsafat Barat)

Kata seorang filsuf Barat, sori aku lupa namanya, orang beragama itu seperti anak kecil. Mari kita analogikan.
Heru memiliki mobil-mobilan sedangkan Tomi memiliki robot-robotan. Keduanya kakak beradik. Saling ingin pinjam mainan, namun juga saling tidak mau meminjamkan. Akirnya kedua anak itu mengadu kepada orang tua agar saudaranya dihukum karena tidak mau meminjamkan barang
Sama seperti orang beragama, katanya. Filsif ini bukan mendoktrin. Tapi mengamati. Bahwasanya orang beragama akan kembali pada Tuhannya saat kesulitan. Sama seperti kita yang akan berdoa di kala susah.
Jangan sangsi dulu. Ini beragama gaya anak kecil. We need to grow up. Bagaimana beragama yang sudah mulai remaja apalagi dewasa?
Saat kita beristighfar, Astaghfirullah, kita merasakan bahwa sebenarnya kita banyak dosa dan memikirkan segala dosa yang kita perbuat barusan atau selama hari ini. Bertasbih, Subhanallah, kita merasa takjub dengan segala kekuasaan Allah. Bertahmid, Alhamdulillah, merasa bersyukur akan karunia yang Allah beri selama ini atau paling tidak hari ini. Agar berdoa tak hanya asal keluar dari mulut saja, namun didasari dari hati.
Meski sebenarnya Allah itu MahaTahu akan segala sesuatu sampai apa yang kita pikirkan dan rasakan, bukan berarti kita tidak perlu berdoa. Doa menjadi life guide karena doa yang kita utarakan adalah apa yang kita rasakan dan inginkan. Allah itukasih sayangnya sangat luas, ud’uni astajib lakum. Berdoalah maka akan kukabulkan. Seperti kirim massage, ada tanda D dan R. kalau doa kita sudah D, tinggal menunggu di R, lalu dapat balasan. Apa kamu mau buka massage dari orang yang nggak dikenal lalu tiba-tiba minta isi pulsa. Kecuali dengan orang orang-prang yang sudah dekat dengan kita, atau paling tidak sudah berinteraksi dengan kita.
Make your pray be your life guide.


Leave a Reply

Powered by Blogger.