Besok sudah terakhir aku menjadi penguji untuk semester ini. Ya, kali ini pondok sedang mengadakan ujian lisan. Sederhana sebenarnya. Bila maksud diadakannya ujian adalah untuk mencari nilai, maka ujian di pondok lebih dari itu. Ada sisipan mental di dalamnya.
Untuk kali ini aku menjadi penguji kelas 3 untuk mata pelajran Bahasa Inggris. Sebelum aku menanyakan perihal soal-soal yang ada di buku teks pelajaran dan Grammar, terlebih dulu aku harus mengadakan conversation singkat pada mereka. Ngobrol ngalur-ngidul untuk mengetahui sejauh mana kemampuan mereka untuk berbahasa secara aktif.
Hamper semuanya aku beri pertanyaan yang sama, “What is your dream?” yang ternyata dijawab hamper 98% dari total anak yang kuuji ingin menjadi dokter tanpa ada bayangan bagaimana dan kenapa.
Ah, aku jadi teringat. Aku pernah membuat artikel tentang mimpi-mimpi kita saat masih kecil. Terangkum,ternyata ada 10 besar mimpi yang menjadi mayoritas saat kita masih kecil. Salah satunya adalah menjadi dokter, yang lain menyusul menjadi guru, polisi, pahlawan, astronot, menjadi seperti orang tua, dan lainnya.
Saat aku mendengar jawaban mereka, dalam hati aku berpikir,benarkah ini mimpi mereka yang sesungguhnya? Atau hanyalah mimpi saat kecil yang belum juga dibangkitkan? Atau hanya asal jawab karena belum memiliki mimpi apapun saat kutanya?
Aku juga kemudian berkaca pada diri sendiri. Banyak sekali mimpi yang kubangun sedari SD hingga kini. Berapa yang sudah tercapai? Berapa banyak yang sudah terbuang? Atau tergantikan?
Dalam hati aku berdoa, semoga mimpi yang mereka katakana dapat mereka pertahankan kelak. Amiin Ya Rabb.



Keindahan menurut etimologi berasal dari kata Latin bellum akar kata bonum yang berarti kebaikan. Menurut cakupannya dibedakan keindahan sebagai kualitas abstrak (beauty) dan sebuah benda yang indah (the beautiful)[1].
            إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ وَ يُحِبُّ الجَمَالَ
Islam sangat menghargai keindahan. Terbukti dalam bentuk arsitektur, kaligrafi, syair dan lain sebagainya yang sudah muncul berabad-abad silam. Namun bagaimana dengan fenomena masyarakat yang ada saat ini? Sudah semakin banyak muslimah yang mulai menutup auratnya terlebih dengan munculnya tren model hijab dan pakaian khusus muslimah yang beraneka macam jenisnya dengan berdalilkan asas keindahan.
Jilbab dan khimar (penutup muka) telah disebutkan secara jelas di dalam Al-Qur’an agar wanita tidak bermode dalam membuat penutup kepala dan pakaian terbuka yang lebih banyak terbukanya dari menutupnya[2].
Seperti tren model hijab yang sering kita temui saat ini. Jilbab yang tertuntut akan perkembangan zaman, mode, fashion dan stylish. Warna jilbab dan baju yang menyala, bermotif, belum lagi dengan beraneka macam kreasi hijab dari berkonde yang menyerupai punuk unta, berjuntai-juntai yang lebih mirip dengan tichels Yahudi dan kerudung Nasrani, hingga melupakan niat awal jilbab untuk menutup aurat.
Inilah yang kita sebut dengan tabarruj. Tabarruj adalah memperlihatkan perhiasan dan keindahan tubuh wanita serta semua bagian badan yang seharusnya tertutup yang dapat mengundang syahwat lelaki[3].
Tabarruj bisa terjadi dengan dandanan wajah, bisa pula dengan menggunakan parfum, atau mengenakan pakaian yang bercorak mentereng, bertingkah genit dan menggoda lelaki dengan ucapan ataupun gaya jalan, atau mengenakan hijab yang tidak sempurna (semisal ketat, transparan, atau menyingkap sebagian aurat yang tertutup)[4]
Rasul pun pernah bersabda, “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi unutk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tetapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian” (HR. Muslim)
Umumnya, semua ulama menyepakati bahwa yang dimaksud berpakaian tetapi telanjang adalah memakai pakaian tipis, atau menyingkap sebagian aurat. Sedangkan kata berlenggak-lenggok adalah wanita yang tidak menjaga kehormatan dan kemaluan mereka. Yang cenderung suka mencari perhatian laki-leki. Adapun kepala mereka seperti punuk unta yang miring sebagai Muslimah yang memilin atau menumpuk rambutnya ke atas hingga terlihat seperti punuk unta, atau Muslimah yang mengenakan kain tambahan hingga terlihat menonjol[5].
Padahal, dalam Al-Qur’an sudah dijelaskan dengan jelas bagaimana seharusnya wanita berpakaian.
@è%ur ÏM»uZÏB÷sßJù=Ïj9 z`ôÒàÒøótƒ ô`ÏB £`Ïd̍»|Áö/r& z`ôàxÿøtsur £`ßgy_rãèù Ÿwur šúïÏö7ム£`ßgtFt^ƒÎ žwÎ) $tB tygsß $yg÷YÏB ( tûøóÎŽôØuø9ur £`Ïd̍ßJ胿2 4n?tã £`ÍkÍ5qãŠã_ ( Ÿwur šúïÏö7ム£`ßgtFt^ƒÎ žwÎ)  ÆÎgÏFs9qãèç7Ï9 ÷rr&  ÆÎgͬ!$t/#uä ÷rr& Ïä!$t/#uä  ÆÎgÏGs9qãèç/ ÷rr&  ÆÎgͬ!$oYö/r& ÷rr& Ïä!$oYö/r&  ÆÎgÏGs9qãèç/ ÷rr& £`ÎgÏRºuq÷zÎ) ÷rr& ûÓÍ_t/  ÆÎgÏRºuq÷zÎ) ÷rr& ûÓÍ_t/ £`ÎgÏ?ºuqyzr& ÷rr& £`Îgͬ!$|¡ÎS ÷rr& $tB ôMs3n=tB £`ßgãZ»yJ÷ƒr& Írr& šúüÏèÎ7»­F9$# ÎŽöxî Í<'ré& Ïpt/öM}$# z`ÏB ÉA%y`Ìh9$# Írr& È@øÿÏeÜ9$# šúïÏ%©!$# óOs9 (#rãygôàtƒ 4n?tã ÏNºuöqtã Ïä!$|¡ÏiY9$# ( Ÿwur tûøóÎŽôØo £`ÎgÎ=ã_ör'Î/ zNn=÷èãÏ9 $tB tûüÏÿøƒä `ÏB £`ÎgÏFt^ƒÎ 4 (#þqç/qè?ur n<Î) «!$# $·èŠÏHsd tmƒr& šcqãZÏB÷sßJø9$# ÷/ä3ª=yès9 šcqßsÎ=øÿè? ÇÌÊÈ  [6]
Terdapat syarat-syarat berpakaian wanita, yaitu:
1.      Menutup seluruh badannya. Hanya saja ulama berbeda pendapat tentang hukum menutup wajah dan telapak tangan
2.      Pakaian wanita tidak boleh termasuk bagian dari perhiasannya. Pakaian yang termasuk perhiasan adalah pakaian yang bersulam dengan aneka warna, atau pakaian yang dihias dengan lukisan-lukisan yang terbuat dari emas dan perak, dan mencolok di mata.
3.      Bahan baju harus tebal sehingga tidak tampak bagian dalamnya
4.      Pakaian tidak boleh diharumkan dengan dupa atau parfum
أَيُّمَا امْرَأَةٌ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا رِيْحُهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ (رواه النسائي وأبو داود والترمذي)
5.      Pakaian wanita tidak mirip pakaian lelaki
6.      Tidak meniru pakaian orang kafir
7.      Tidak berupa pakaian syuhrah. Pengertian pakaian syuhrah adalah setiap pakaian yang dipakai dengan tujuan untuk mengangkat popularitasnya dalam pandangan masyarakat[7].
Tidak pernah diwajibkan mengikuti satu mode tertentu dalam berpakaian. Yang diwajibkan adalah menutupi badan. Tidaklah berdosa mengikuti beberapa mode dengan kondisi cuaca dan lingungan sosial[8].
Bila hijab justru jadi perhiasan yang menyebabkan Muslimah menjadi pusat perhatian di mana pun ia pergi dengan mengikuti fashion dan tren masa kini, tentu tujuan hijab, yaitu menutupi perhiasan tidak terjadi. Karena hijab justru telah menjadi perhiasan baru.
Termasuk semakin maraknya Muslimah yang mulai mengenakan hijab saat ini. Seorang Muslimah awam yang belum memahami hakikat berhijab kemudian dihadapi dengan tren fashion berhijab yang semarak, makin membuat mereka mendapatkan angin segar untuk tetap dapat tampil fashionable dengan berhijab. Berhijab untuk fashion atau menutup aurat? Kemudian setelah tren fashion hijab sudah pudar apakah hijab degan seketika akan ditanggalkan?
Bukankah kita mengharapkan ridha Allah dalam menggunakan hijab? Dengan berhijab yang fashionable, modis, stylish, dan sejenisnya, berarti kita memakai pakaian syuhrah dan melakukan tabarruj seperti yang dijelaskan sebelumnya. Menggunakan hijab bukan lagi menjadi sebuah pengamalan perintah Allah, namun tuntutan perkembangan zaman yang ingin mengajak kita untuk turut serta di dalamnya.
Dengan berbagai alasan yang dikemukakan di atas bukan berarti Islam tidak menghargai estetika atau keindahan, namun Islam ingin menjaga keindahan yang dimiliki wanita dengan syarat-syarat khusus tanpa harus mengikuti mode atau tren fashion yang dibawa Barat dengan mengusung gaya hidup yang modern. Dalam hal ini kita lebih memilih menggunakan kata beauty daripada beautiful yang berbentuk dan terlihat.




[1] Drs. Surajiyo, Ilmu Filsafat: Suatu Pengantar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012) Cet. kelima
[2] Ummu Mahmud Al-Asymuni, Shafa’ Jalal dan Dr. Amal Saami, (Jakarta: Pustaka Elba, 2010)
[3] Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim, Fiqih Sunah Untuk Wanita, (Jakarta: Al-I’tishom Cahaya Umat, 2013) cet. Ketujuh. Judul asli: Fiqh as-Sunnah li-n-Nisa’: Ma Yajibu ‘An Ta’rifuhu Kullu Muslimatin Min Ahkamihi. Penerj: Asep Sobari, Lc.

[4] Felix Y. Siauw, Yuk, berhijab! (Bandung: Mizania, 2012) cet. keempat
[5] Op. Cit
[6] QS An-Nur: 31
[7] Ibid.
[8] Prof. Dr. Abdul Halim Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita jilid 1 (Jakarta: Gema Insani press, 2008), judul asli: Tahriru al-Mar’ah Fii ‘Asri ar-Risalah. Penerj: Chairul Halim, Lc


Powered by Blogger.