Ceritanya angkatanku kini belum boleh pulang sampai selesai yudisium kelas 6 untuk mengurus persiapan Ospek. Sebenarnya tak melulu 24 jam kumpul. Ada jadwalnya yang hanya menghabiskan kira-kira 1/7 waktu dalam sehari. Sisanya? Urus diri sendiri.
Tak sepenuhnya aku menyukai liburan. Memang benar kata pak kyai. Ar-rohatuintiqalu 'amalin ila 'amalin akhor, Istirahat adalah pergantian suatu pekerjaan ke pekerjaan lainnya. Ini yang suka membingungkan. Biasanya sibuk lalu diberikan kekosongan. jujur saja, setiap liburan aku malah sering merasakan stress karena bingung akan melakukan apa. 
Maka aku sangat merindukan waktu dimana kami harus berkumpul untuk bekerja menyiapkan apapun itu. Al-faraghah mafsadah itu memang benar adanya. Kalau yang tak mengetahui konsep rohah (istirahat) ya pasti akan memilih mengganti pekerjaan dengan sesuatu yang tak dapat disebut pekerjaan. Aku selalu menekankan pada diriku setiap harinya. What's your value today? Meski kadang bablas, aku cukup merasa menyesal juga bila mengerjakan suatu hal yang tak berguna dan melewati batas.
Kita memang butuh untuk mengistirahatkan diri, otak dan hati. Asal tak berlebihan yang malah menumpulkan ketiganya tadi. Refresh secukupnya, bekerja semaksimalnya. 



Melihat postingan kemarin, mungkin dewasa ibaratku adalah saat seseorang sudah dapat menentukan pilihan hidup. Sebagai orang yang sudah lebih besar biasanya kita selalu ingin mengarahkan bagaimana orang yang lebih junior dari kita itu untuk berjalan ke jalan yang (menurut kita) baik. Padahal belum tentu. Sama seperti saat kita tak ingin apa yang menjadi pilihan hidup kita itu terusik, maka jangan usik pula jalan yang dipilih orang lain. kecuali apabila memang terlihat jelas itu tidak baik baginya, sudah sepatutnyalah kita untuk mengingatkan.
Sering pula seseorang akan merasa seperti tersesat dari jalan yang ia pilih. Tak tahu arah. Akhirnya malah terjebak. Sudah begini mau bagaimana? Kalau keluar tak bisa menjadi alternatif yang baik, mari kita usahakan dengan kesesatan yang kita pilih. Bisa jadi itu hanya karena beberapa sisi hati kita yang belum mau melebarkan pandangan atau hati yang tak mau terbuka. maka kita lebarkan dan buka sedikit-demi sedikit dengan sudut pandang yang mungkin berbeda.
Kita memang tak akan pernah tahu kapan hari Kiamat, kapan waktu kita akan habis, bagaimana masa depan kita nanti, ilmunya hanya milik Allah semata. Tapi mengapa kita tak mengusahakan yang terbaik?
Entah itu jalan yang terpilih, dipilihkan (saya lebih cocok yang pertama. karena itu bentuk dari konsekuensi terhadap diri), maka jalani dengan maksimal.
Selamat berjalan!



Shabahul khoir.
Ada ketergantungan yang sangat mendalam antara aku dan pagi. Serius.
Entah berapa kali aku memposting tentang keindahan pagi,namun pagi bagiku bukan sekedar keindahan dan esensinya yang menyegarkan. Aku selalu rindu bersama pagi. Pagi untukku bukan saat matahari belum naik, namun makna pagi yang sebenarnya adalah saat semua hari dimulai. Sepertiga penghujung malam,ataupun paling tidak sebelum semua kewajiban (atau kebutuhan) seperti shalat Subuh dimulai. Itulah saat-saat yang berharga. Yang membuatku merasa sangat kaya memilikinya.
Jujur saja aku bukan penganut sekte orang malam. Maksudnya dalam melakukan aktivitas apapun. Baik itu untuk belajar, mengerjakan tugas, atau hal-hal lainnya mulai dari hal yang remeh sampai penting. Ah, malam bagiku adalah saat keluhan satu hari tertumpuk menjadi satu. Aku membiarkan jiwa terbang bersama malam. Tidur tepat waktu seperti bayi, agar waktu juga memberikan kesempatan untukku bertemu pagiku yang sesungguhnya.
Mungkin karena alasan itu pulalah aku bergantung pada pagi. Saat semua orang menghabiskan waktunya pada malam hari untuk mencicil pekerjaan, maka pagi adalah waktuku. Pagi adalah saat paling produktif. Nilai kita satu hari lebih besar dipengaruhi oleh bagaimana kita di pagi hari. Mau coba?
Shalat fajr lebih berharga dari apapun yang ada di dunia.
Beberapa hari ini aku merasa miskin karena kehilangan momen pagi yang indah, yang membuatku kaya dalam makna bathini. Ah, menyesalku membuat hidup satu hari itu menjadi kacau. Hatiku kacau lebih tepatnya.
Semoga hari esok aku masih berkesempatan bertemu pagiku.



6.13-2/6/2014




 Ada dua hal yang dapat berpengaruh dalam kehidupan kita. Apabila rusak salah satu, apalagi keduanya, maka rusaklah amal perbuatan yang kita lakukan. Yaitu rusaknya kemauan (fasadu-l-iradah) dan rusaknya ilmu (fasadu-l-‘ilm). Bila iradah kita yang rusak, maka amal yang kita lakukan bisa jadi tidak ikhlas, riya, hasad, padahal
الحسد تأكل الحسنات كما تأكل النار الحطب
Sama juga bila ‘ilm yang rusak (tanpa ilmu atau bisa jadi ada imu tapi tidak benar) akan menghasilkan amal yang tidak benar juga. Karena iman sesungguhnya juga dibangun dari ilmu. Kita tidak bisa langsung saja dapat beriman, percaya, tanpa memiliki ilmu atas apa yang akan kita percayai tersebut. Kalau tidak, berarti sama saja taqlidu-l-a’ma. Mengikuti tapi tidak tahu sebenarnya hakikat apa yang diikuti.
Rumus gampangnya, iradah+’ilm=’amal
Setelah berkemauan dan berilmu yang kemudian menghasilkan amal yang benar dan ikhlas, kemudian ditambah lagi dengan amalan yang bermanfaat. Setelah itu, maka prioritas. Kita mungkin tahu banyak sekali amalan baik dan bermanfaat, namun kita harus dapat membuat skala priiritas dari amal bermanfaat itu bagi hidup kita. Bisa jadi amal yang bermanfaat menurut kita, ternyata ada yang lebih bermanfaat lagi untuk kita sendiri ataupun umat. Kemudian istiqomah. Melakukannya dengan konsisten, sungguh-sungguh dan tidak setengah-setengah.
Begitu besar bukan manfaat ilmu dan kemauan itu? Dalam hidup kita itu jangan pernah berhenti untuk belajar, di saat kita berhenti belajar maka sesungguhnya orang-orang yang bodoh itu ibarat ia mati dalam kehidupan ini. Orang yang sudah pintar dan banyak ilmu saja akan bertambah kesadarannya bahwa sebenarnya ia masih belum memiliki apapun. Apalagi yang tidak memiliki sama sekali.
فوق كلّ ذي علم عليم
Ilmu untuk dimanfaatkan dan diamalkan. Untuk apa kita mempelajari sesuatu kalau seandainya tidak memiliki proses yang benar sehingga ilmu yang rencananya kita usahakan tadi tidak menjadi manfaat? Nilai dan kesuksesan tidak akan pernah ada artinya bila tanpa proses dan diamalkan dengan baik.
Ada quotes yang kupegang untuk hal ini:
Life is never ending leraning, dan
When you stop learning, you stop growing
Mari mencari ilmu tanpa henti…

Wednesday, April 30, 2014 – 5.44 AM




Dalam ajaran Buddha ada istilah kendaraan besar dan kendaraan kecil. Kendaraan besar yang berarti seluruh umat Buddha harus saling tolong menolong untuk mencapai Bodhi, sedangkan kendaraan kecil berarti harus sendiri-sendiri.
Bila di Islam, kita mengenal amar ma’ruf nahi munkar. Mengajak pada kebaikan dan mencegah kemunkaran. Artinya hidup dalam bentuk ibadah dan sosial, tidak kenal dengan istilah egois dalam beribadah. Dalam arti, saling mengajak pada kebaikan (ibadah) tanpa harus takut waktu yang kita miliki akan berkurang akibat harus menegur orang lain. Membangunkan ataupun saling mengingatkan di jam-jam shalat (terutama shalat Subuh mungkin?), menegur teman yang sedang berisik di jam-jam tenang Maghrib. Karena pengaruh kebaikan bukan hanya datang untuk diri kita sendiri, namun juga untuk orang lain bahkan umat dalam skala yang lebih besar lagi.
Seringnya manusia itu berkomentar tanpa ada tindakan. Mengatakan si anu kalau shalat suka di akhir waktunya, bahkan ada istilah subha dan tasyabuh. Apakah kita sudah melakukan sebuah gerakan untuk menuntaskan kemunkaran tersebut? Atau hanya sebatas di alam feeling dan perkataan, lebih parahnya lagi bila hal tersebut dipakai menjadi objek penggunjingan. Lengkaplah sudah!
Di agama lain saja konsep saling tolong menolong ada, di Islam apalagi. Sudah termaktub dengan jelas dalam Al-Qur’an. Apa kita ingin maksud surga sendirian?

Selasa, 29 April 2014 – 6.21 AM



Ada dua model belajar saat ujian.
Pertama, yang ujian untuk belajar,
Kedua, uang belajar untuk ujian.
Kelompok pertama yang menggunakan kondisi ujian sebagai moen asik untuk belajar, sedangkan kelopok kedua yang belajarnya hanya demi ujian.
Bila saya Tanya, nilai atau hasil itu penting nggak sih?
Penting, tapi bukan prioritas. Kemudian apa prioritas sebenarnya? Ya proses kita untuk belajar dan menjadikan ilmu yang kita pelajari itu bermanfaat. Kalau prosesnya benar, otomatis hasilnya akan benar juga, kan?
Selamat berperang dalam ujian….
Selamat berproses…



18/5/14-9.50


Powered by Blogger.