Ceritanya kemarin ada salah seorang temanku yang curhat dan mengabarkan. Kini ia sedang melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Obrolan tengah malam itu tanpa diduga-duga. Biasalah perempuan. Kalau bicara suka nyambung kemana-mana. Setelah membahas tentang keadaan seorang teman yang di tengah masa shock akan perjalanan mimpinya, ia bercerita.
Dalam hidupnya tak hanya sekali ia merasa Allah membelokkan jalannya. Dari dulu, kini pun begitu. Rahasia Allah yang ia rasakan saat pembelokan pada saat kelas tiga KMI baru ia sadari saat kelas enam. Maka ia pun bingung apalagi rahasia Allah dalam pembelokkannya kini. Kapan akan ia sadari?
Apa aku tak merasa di belokkan jalannya? Mungkin saja. Kelanjutan dari postingan terdahulu, tentang jalan yang terpilih atau dipilihkan. Termasuk yang mana jalanku ini? Bisa jadi dua-duanya. Namun bukan tentang aku yang ingin kubahas saat ini.
Aku pun akhirnya bercerita padanya tentang apa yang kurasakan kini. Tentang merasa tersesat, kadang jenuh, rasa syukur, perbaikan diri, maksimalis dalam pekerjaan. Ia hanya manggut-manggut. “Gampang kalau berkata teori, pelaksanaannya itu susah,” katanya. Ah, bagaimana aku dapat berkata lagi?
Apa yang kutulis, kuceritakan tentang motivasi dan problem solving kemudian aku mengaca pada diri sendiri. Apakah aku sebaik itu dalam realita untuk membuat teori tentang hidup? Aku bukanlah orang bijak, orang baik, ataupun orang yang sempurna. Terkadang saat aku menulis, maka sesungguhnya aku juga sedang berbicara pada diri sendiri. Hei... perbaikilah hidupmu....
Manusia memang mudah sekali berencana dan berkata. Saat aku mendengar jawaban dari temanku ini, aku berpikir lagi. Mungkin saja karena apa yang kita teorikan itu belum sepenuhnya masuk ke dalam hati kita. Sehingga efek teori itu tak dapat memperbaiki aplikasi kita dalam hidup. Sama saja seperti pengarahan-pengarahan yang bertujuan untuk memperbaiki kinerja. Kalau hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri akhirnya tetap saja ada kesalahan dan pekerjaan yang tak maksimal. Mungkin analoginya seperti ini, tahu tapi tidak mau tahu atau pura-pura tak tahu.
Uusiikum wa iyyaya nafsii bitaqwallah


Leave a Reply

Powered by Blogger.