Sewaktu kelas satu dulu aku pernah belajar,
هلك امرء من لم يعرف قدره
Celakalah bagi orang yang tak mengetahui kemampuan dirinya.

Konsep ‘tahu diri’ ini (seharusnya) dipegang teguh oleh banyak orang. Karena merasa kurang, maka belajar. Mudah sakit, makanlah tepat waktu. Namun konsep in kadang pula disalahartikan oleh kaum pesimistis.
Karena tahu (atau belum mencoba?) tak bias acting, maka tak pernah casting. Tahu tak akan memiliki kans menang dalam perlombaan, maka tak pernah mau mencoba.
Seharusnya term pertama yang ‘tak bisa’ itu disandingkan dengan term positif untuk menanggulangi kekurangan pada kemampuan diri tersebut.
Knowing yourself. Itu kuncinya. Mengetahui tanpa merendahkan diri atau mempencundangi diri.



Entah berapa kali aku mengikuti perlombaan ataupun seleksi. Entah berapa kali pula aku mengalami kegagalan atau keberhasilan. Seringnya sih gagal. Tapi itu bukanlah sesuatu yang patut dirayakan, namun dijadikan pelajaran. Aku justru bangga pada diriku yang kalah setelah mencoba daripada tenang karena belum mencoba karena takut. Itulah saat dimana aku menjadi seorang pecundang. Takut pada hal yang belum pasti dan kalah sebelum perang.
Esensi terbaik yang dimiliki oleh para pemenang adalah saat berusaha. Pun disaat kita kalah pun esensi yang dimiliki adalah sebuah pelajaran untuk menjadi tetap tegar dan koreksi akan kesalahan yang dibuat.
Beberapa hari lalu dalam pembukaan muker DEMA, KH. Ahmad Suharto berkata, bahwa seorang anggota hanya dapat bermimpi, namun seorang pemimpin adalah orang yang dapat merealisasikan mimpi-mimpinya. Maka milikilah jiwa seorang pemimpin.
Korelasi yang kuambil dari kasus menang-kalah ini adalah ‘jiwa’-nya. Jiwa para pemenang adalah orang yang mempersiapkan bagi kemenangannya, meski tak menang, sudah memiliki jiwa dan persiapan layaknya pemenang. Maka saat bertanding bukan dalam posisi siap kalah.
We are the champion, my friend....



Menunggu memang bukanlah hal yang menyenangkan. Pun begitu masih saja kita melakukannya, atau sengaja melakukannya. Menunggu (katanya) waktu yang tepat.
Banyak orang yang ‘baru’ akan mengerjakan sesuatu setelah datang waktu yang tepat. Masalahnya, mau menunggu hingga berapa lama baru mengerjakan? Malah bisa jadi waktu yang tepat itu tidak pernah datang hingga kita membatalkan untuk mengerjakannya. Mereka berpikir bahwa waktu sangatlah panjang. Padahal justru waktu adalah pembunuh yang handal.
Kesempatan tak pernah tahu kapan kan datang, sementara waktu kita terbatas. Kadang kala kesempatan tak cukup hanya ditunggu, namun dijemput, diciptakan dan direbut. Yang lebih parahnya adalah saat kesempatan datang, namun kita tak sadar sehingga membuang kesempatan itu dengan perasaan pecundang. Setelah sadar, sakitnya dimana, coba?

-on rewrite setelah muraja’ah-
1/11/2014 Saturday. diwan


Powered by Blogger.