KH. Hasan Abdullah Sahal selalu mengatakan dalam pidatonya, ikhlas itu mahal harganya dan tidak bisa dibeli. Keikhlasan jugalah yang menjadi salah satu panca jiwa Gontor. Keikhlasan bukanlah barang yang bisa ditakar, namun dari hati nurani yang juga terasahkan karena pelatihan. Pelatihan keikhlasan di Gontor sudah ada sejak pertama kali menginjakan kaki di dalamnya. Dari hal remeh seperti piket kamar, mengambilkan makan bagi teman yang sakit, hingga kemudian makin senior di pondok makin tinggi pula tingkat keikhlasan (yang seharusnya) dimiliki para santrinya. Menjadi penguji yang ikhlas, pengawas ujian yang ikhlas, pengajar yang ikhlas, belum lagi saat sudah masuk ke dalam kepanitiaan dan masa pengabdian. Sekali ikhlas itu mahal harganya.
Kamu tidak dapat mengukur lelahnya mengawas ujian dengan konsumsi yang bisa dinilai harganya. Tidak bisa pula membeli keikhlasan untuk mengajar dengan apapun.
Beberapa fenomena namun terjadi juga. Pernah saat awal-awal aku menjadi guru, ibuku mengingatkan agar tidak jutek dan judes, terlebih apabila di hadapan wali santri. Wali santri sudah datang jauh-jauh ingin mengetahui kondisi anaknya tapi malah dibalas dengan ketus oleh anak dua puluhan. Kalau tidak salah jawabanku saat itu adalah kami disini bukan hanya mengajar dan mengurus satu dua anak saja, namun juga memiliki kewajiban sektor dan kuliah. Sungguh, saat itu aku menelan ludah. Apa sesibuk itu waktuku?
Pernah pula ada omongan. Kenapa pondok masih kurang bersih? Saat ada yang menjawab bahwa pekerja akan melakukan pekerjaannya lebih maksimal karena dibayar, seketika salah satu dosenku membalasnya. Apa kita harus dibayar dulu baru melakukan pekerjaan dengan maksimal? Bagaimana ikhlas yang katanya tidak ada takarannya itu?
Hal ini yang selalu menjadi renunganku. Untuk diriku dan sekitarku. Masih berada di pondok ini untuk mengabdi sambil belajar banyak hal. Baik akademis dari segi perkuliahan dan non-akademis untuk hidupku kini juga kelak. Pun juga masih belajar keikhlasan. Gontor tak membutuhkan balasan dari kita, bila kita berfikir untuk membalas jasa. Karena kita yang butuh, maka kita masih berada di sini. Untuk apa? Jawaban bisa relatif. Namun hingga kini aku sendiri masih menerima manfaat pondok untuk memaksimalkan dan mengoptimalkan diri sebelum benar-benar terjun pada masyarakat kemudian bertemu realita yang sesungguhnya.
Mantingan, 20 Desember 2014
Pusat Data-22.12


Leave a Reply

Powered by Blogger.