Rupanya tahun ini saya mendapat banyak pelajaran. Tentang berprasangka dan pranara lain yang tidak mungkin kita tahu. Ada hal yang dapat diusahakan dan tidak dapat diusahakan, itulah yang kita sebut rahasia Ilahi. Sudah berusaha dan berprasangka, namun tangan Allah yang bermain. Sikap menerimanya adalah tawakal.
Tak perlu menyesalkan apa yang sudah terjadi. Tak perlu pula menyalahkan keadaan. Menerima kenyataan dengan sikap lapang dada adalah kehebatan.




Allah menciptakan perasaan dan cinta bukan berarti harus selalu ditindaklanjuti terlebih pada tarafan yang tidak ada dalam jalan-Nya. Untuk itulah bagi setiap laki-laki dan perempuan diharapkan untuk menjaga diri dan hati. Bahkan setingkat pandangan saja sudah ada aturannya apalagi tindakan.
Tak ada yang bisa mengerti rahasia dari hati dan perasaan. Sama-sama penuh kejutan dan tiba-tiba. Keduanya pula tak bisa kita kendalikan. Yang bisa dilakukan hanyalah mengendalikan sikap dan pola pikir. Karena semua hal yang didasari dengan hati tak akan pernah bisa rasional. Namun ketidakrasionalan ini bukan berarti menjadikan alasan untuk merentaskan perasaan yang ada menjadi sebuah tindakan (yang tidak bersyari’at tentu saja, seperti pacaran, TTM, HTS dan lain-lain). Jika mau, seriuskanlah. Jika tidak, jangan main-main. Karena ada hati lain yang bisa jadi benar-benar menunggu dengan benar.
Kini aku menjadi sebuah saksi hidup dari mereka yang menjaga dan melangkah jauh. Ada yang diam dengan penjagaan dirinya dengan harapan kelak hanya akan ada satu laki-laki saja yang memiliki hatinya. Maka darinya akan diberikan seluruh hati yang ia miliki. Ada pula yang masih bermain-main dengan hati. Silih berganti pasangan yang bahkan seorang teman lain malah berkata, kamu itu laku atau murahan? Ada yang benar-benar menitipkan hatinya tanpa tahu apa yang terjadi kelak. Ia sedang di mabuk cinta hingga melupakan beberapa prioritas kehidupan. Ada pula yang tak peduli dan tak memikirkan. Bila tiba waktunya kelak akan datang tanpa harus dicari.
Hati-hatilah terhadap hati. Itu pesan kyaiku dulu.
Bagaimana ceritaku?
Kelak. Itu saja yang bisa kujawab.



Dalam setiap angket aku paling tidak suka menjawab kolom suku. Bila dikatakan aku tiak bersuku mana ada yang percaya? Aku lahir dari orang tua yang berbeda suku. Ibu Jawa dan Ayah Padang. Hidup memang lebih lama di Jawa daripada pulau manapun yang pernah kami tinggali, seperti Kalimantan dan Sumatra. Namun itupun kami juga berpindah dari Jawa Timur hingga Jawa Barat. Jadi aku bersuku apa? Aku tak bisa menjawab pasti.
Orang bilang lingkungan, selain orang tua, juga mendapat peran untuk pembentukan diri pribadi. Maka aku campuran dari semua itu. Aku bisa menjadi tidak enakannya orang Jawa Tengah, nekatnya orang Jawa Timur, kerasnya orang Padang, dan lain-lain. Namun tak bisa dipungkiri pula bahwa Gontor juga turut membentukku. Hal paling dasar adalah untuk mengetahui apa yang sebenarnya ingin aku lakukan.
Sejak dulu aku sadar sangat suka menulis. Dari asal-asalan membuat cerpen yang hanya dua halaman saat SD hingga berlanjut pada paper tugas kuliah. Hingga aku memutuskan untuk menjadi seorang wartawan pada kelas 5 SD. Dan cita-cita tersebut tak pernah berubah hingga akhir-akhir ini. Niat awalku untuk menjadi wartawan pun sebenarnya atas dasar menulis. Ternyata tanpa menjadi wartawan pun aku bisa menulis.
Setelah lulus dan menjalani pengabdian, aku tak jadi melanjutkan kuliah untuk mengambil jurusan jurnalistik. Tetap di pondok dan melanjutkan studi dengan jurusan ilmu aqidah. Namun siapa pula yang pernah tahu rahasia Tuhan? Aku malah mendapatkan kesempatan yang lebih banyak untuk menulis. Menjadi koresponden Majalah Gontor dan website pondok. Belum lagi tetap menjadi kepala redaksi majalah kampus. Tak lupa juga beberapa pelatihan hebat yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Kita memang harus selalu membuat pilihan dalam hidup. Untuk menjadi dan bersikap. Namun ada Tuhan yang juga mengatur pilihan-pilihan tersebut agar tetap menjadi yang paling baik bagi hamba-Nya. Entah bagaimana awal hidup kita berproses kemudian bagaimana menjadi. Rentetan hidup itu akan saling bersinambungan kalau kita sadar. Karena tidak ada yang sia-sia di dunia ini. Denganku yang harus selalu berpindah-pindah, masuk pondok dan masih mencari diri,
Di titik ini aku hanya bisa mengatakan.
Aku bersyukur.




Kemarin lalu saat Girl’s Talk di hari hujan, kami saling bertanya tentang kehidupan pribadi masing-masing. Dari orang tua, saudara, hingga urusan cinta. Salah seorang teman bertanya padaku. Apa aku pernah tertarik dengan seseorang? Karena sejauh ini aku terlihat sebagai orang yang lurus dan tak pernah ketahuan sedang ada rasa, bahkan affair dengan seseorang. Karena, kata temanku, bila tidak sama sekali itu gawat.
Aku tak dapat menjawab langsung. Di umur dua puluhan begini siapa pula yang tak pernah tertarik dengan lawan jenis? Namun tak perlu ditindaklanjuti, bukan? Karena urusan rasa bisa kita simpan. Dan kalau mau bisa juga kita musnahkan. Tapi untuk urusan dengan langit dan janji-janji untuk melakukan apayang Ia minta dan menjauhi apa yang Ia larang sudah barang tentu menjadi urusan yang lebih penting daripada sekedar rasa.
Saat question of life, kegiatan tak ada kerjaan karena hujan maupun mati lampu, kemarin juga menghadirkan pertanyaan yang agak serempet sama. “Kuliah S2 atau menikah?” pertanyaan ini diajukan kepada semua pihak yan ada di kamar. Setelah sebelumnya pertanyaan aneh seperti “bakso atau cilok?”, “Nggak bisa tidur atau nggak bisa makan?” dan lainnya.
Mayoritas temanku menjawab menikah. Karena pamali katanya menolak jodoh kalau sudah jelas kesholehannya. Namun aku menjawab untuk melanjutkan S2 yang diiringi dengan kehebohan reaksi teman-temanku. Bagi mereka aku terlalu idealis. Justru itulah yang kadng kutakutkan. Kita tak pernah tahu takir Tuhan, bukan? Namun bila bisa memilih tentu aku akan melanjutkan S2. Selain karena aku memiliki mimpi bagi agama, negara dan diriku sendiri, juga karena faktor bahwa menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban bagi tiap Muslim. Menjadi seorang istri a.k.a juga akan menjadi seorang ibu, tak cukup hanya dengan kemauan saja. Namun juga harus menjadi orang yang pintar.
Aaah... entahlah. Diskusi ini sepertinya masih akan terus berlanjut panjang. Kata ibu dan ayahku, lakukan terlebih dahulu apa yang ada di depan mata sembari merajut masa depan. Aku pun yakin. Karena hidup kita ini akan menentukan esok hari.
Maka karena apa yang ada di depan mata adalah setumpuk tugas, amanah dan kewajiban, mari singkirkan sejenak banyak hal yang dirasa tidak memiliki manfaat. Negosiasi pada diri sendiri tak ada salahnya juga.



Hidup di dunia itu abstrak. Aku mengatakannya ini sebuah drama. Tiap orang punya skenario dan menjalankan perannya masing-masing.
Akhir-akhir ini di sekitarku sedang panas tentang siapa yang lebih baik dari siapa. Beberapa merasa dirinya lebih baik, kemudian memandang sebelah mata apa yang berlawanan dengannya.
Teman yang kini sudah di luar beberapa akan bilang bahwa hidupnya lebih baik karena tak terkekang dan bisa mengembangkan diri dengan apa yang dimau. Sementara teman yang masih di pondok akan berkata bahwa hidupnya lebih baik karena masih terjaga, membentuk diri bersama idealisme Gontor dan dapat beramal lebih banyak.
Teman yang menjadi mahasiswa murni tentu akan merasa lebih baik karena dapat kuliah dan melakukan aktivitas selayaknya mahasiswa normal lainnya. Sehingga di beberapa event terkesan memandang rendah posisi guru. Sementara mahasiswa yang notabene juga guru akan mengatakan bahwa waktunya diserahkan untuk mengabdi pada pondok. Mendidik generasi Islam selanjutnya. Namun di beberapa kesempatan meninggalkan kewajiban sebagai mahasiswa untuk menuntut ilmu.
Laki-laki akan selalu merasa lebih baik dari perempuan karena penggunaan akalnya lebih banyak daripada hati. Sehingga kadang kala memandang rendah perempuan dengan kemampuannya. Perempuan pun tidak akan mau merasa kalah dengan laki-laki. Meski menggunakan hati lebih dari akal, namun perempuan juga terkadang memandang bahwa meski kalah mereka lebih baik.
Apalagi kalau di-compare dengan RAS. Tak akan ada habisnya.
Namun yang menjadi persoalan adalah siapa yang lebih baik dari siapa? Allah sendiri memberikan kadar kepada tiap umat-Nya pas dengan apa yang akan dihadapi dalam kehidupannya. Sehingga sesuatu yang menurutnya baik, itu karena keadaan membuatnya terlihat seperti itu. Kalau kita mau memandang dengan kaca mata lawan, maka habislah segala keegoisan. Malah bisa jadi kita melihat diri sendiri menjadi lebih rendah dan tak ada apa-apanya.
Bukan berarti kita baik dengan model satu maka penilaian baik harus seperti apa yang kita miliki. Sehingga bila tidak, maka akan dianggap tak baik atau rendah. Hal ini bukan disebut toleransi dalam kamusku. Namun tenggang rasa dan tak menghakimi. Perasaan selalu menjadi lebih baik dari yang lain sebenarnya oke-oke saja untuk menimbulkan kebanggaan dalam diri dan bekerja. Yang jadi masalah adalah memandang rendah bahkan merendahkan orang lain. Itu saja.
Jadi sebenarnya siapa yang lebih baik?



Ayah kemarin lalu menanyakan, “Kok nggak pernah nulis lagi di blog?”
Ternyata sudah dua mingguan aku tak posting apapun. Blog memang menjadi salah satu sarana bagaimana ayah mengikuti perkembangan tulisanku. Karena ia adalah pembaca setia dari tulisan pertama saat kelas tiga SD hingga usiaku menginjak dua puluh.
Kali ini aku diberi kesemapatan menemani seorang tamu dari Amerika. Perempuan dua puluh sembilan tahun yang kukira muallaf dan ingin memantapkan keyakinan. Namun aku salah. Ia penulis. Lahir dalam keluarga Katolik something, menurutnya. Kemudian saat besar ia memilih atheis dan sudah melanglang buana di Indonesia selama lebih dari lima minggu untuk mengetahui hakikat agama-agama dan umatnya di Indonesia. Pilihan tepat, pikirku. Karena beraneka agama dan sekte hampir ada semua di Indonesia.
Kedatangannya ke Gontor bukanlah suatu hal yang mulanya direncanakan. Ia sudah ke Bali dan Lombok untuk mempelajari Hindu, ke Jakarta untuk Buddha dan Islam. Menariknya saat ia di Jakarta, bukan hanya satu orang atau Muslim saja menyarankannya untuk ke pergi ke Gontor untuk mempelajari Islam. Bahkan orang Buddha pun berkata demikian. Semakin penasaran dan berangkatlah ia ke Gontor.
Ada semacam perasaan takut. Karena beberapa kali aku membaca twitter, blog dan tulisan dalam bentuk lainnya milik orang atheis, mereka selalu menjelek-jelekkan Islam bahkan agama lain. Namun, Maria namanya, sangat open minded dan menerima apa yang kami jabarkan. Karena dalam hatinya ia sedang bertanya-tanya dan mencari sebuah kebenaran. Atau paling tidak mengetahui apa yang seorang beragama rasakan.
Sebelum keberangkatannya ke Indonesia, ia sudah diperingatkan oleh teman-temannya. Bahwa Indonesia negeri yang tak aman terlebih umat Islam di sana banyak yang notabene, menurut mereka, adalah teroris. Namun ia tak menemukan hal tersebut selama lima minggu di Indonesia. Yang membuat ia merasa beruntung adalah pengalamannya yang sangat berharga dan mengetahui langsung apa yang temannya tak tahu tapi katakan. Baginilah Indonesia, beginilah Islam. Sama seperti kita yang menghakimi Amerika sebelah pihak. Beberapa alasan mengapa Muslim dikucilkan karena mereka menarik diri dari masyarakat. Umat Islam kebanyakan adalah imigran dari negara Asia dan Timur Tengah. Karena perasaan awal takut hingga membuat komunitas sendiri tanpa berbaur pada masyarakat yang lain. Padahal, menurutnya, kamu mau melakukan apapun, beragama apapun, selama itu bukan tindakan kriminal, lakukan saja. Tidak semua umat Islam memilih untuk menjadi ekstrimis dan tidak semua orang Amerika memilih untuk menjadi anti-Islam. Tapi ya lumayan banyak juga. Hehehe...
Banyak dialog yang sudah kami lakukan dan bicarakan. Dari seputar kebebasan, hijab, peran wanita, ekstrimis, terorisme, pandangan Amerika tentang Islam dan sebaliknya. Mungkin ini ujian sebagai muslim pada umumya dan sebagai mahasiswa Ushuluddin pada khususnya. Seringkali aku membuka memori materi kuliah dan tidak jarang harus memakai logika serta nalar yang (sepertinya) benar meski dengan Bahasa Inggris yang pas-pasan. Orang seperti Maria tidak akan mau menerima jawaban bahwa semua itu perintah dari Allah. Butuh jawaban rasional dan masuk akal.
Refleksi yang kuambil dari dua hari ini malah tentang penguatan iman. Meski kita terlahir Muslim namun bukan berarti tidak belajar Islam. Kalau bahasa dosenku, dari ilmu menimbulkan keyakinan yang benar dan menghasilkan amal yang benar pula. Itulah mengapa Imam Ghazali menitikberatkan ilmu dalam buku fenomenalnya al-Ihya’. Karena dari ilmu kita mengetahui yang benar dan bathil.
Dalam salah satu pertanyaannya tentang bagaimana iman kita bisa bertambah saat kita semakin dewasa terlebih setelah masuk Gontor, aku menjawab bahwa saat kecil aku hanya mengikuti apa yang orang tuaku katakan. Untuk shalat, mengaji, berdoa dan puasa. Namun semakin dewasa dan ilmu bertambah, keyakinan yang dimiliki bukan karena suruhan atau Islam warisan. Seperti bertambah baiknya daya berikir kita, seperti itu pulalah iman yang sudah diberi infus pengetahuan dan pengalaman. Shalat bukan lagi tentang kewajiban, tapi di samping itu ada perasaan butuh yang menghubungkan secara langsung kepada Sang Pencipta.
Siang tadi ia pergi. Lewat bandara Yogyakarta ia bertolak ke Jakarta untuk beberapa hari sebelum kembali ke New York. Kami sudah melakukan dakwah sebisa ilmu yang kami miliki. Bisa jadi kurang, aku malah khawatir salah penjelasan. Ia pun menyadari diri. Bahwa ia tahu kalau yang kami katakan adalah benar. Namun masih belum bisa mengatakan bahwa itu adalah benar. Apalagi yang bisa kami lakukan? Selain tawakkal kepada Allah setelah usaha yang kami berikan. Semoga Allah memberikan hidayah padanya agar mendapatkan jalan yang ia cari.
Yang baik belum tentu benar dan yang benar sudah tentu baik.
Uusiikum wa iyyaya nafsii bitaqwallah.

Rabu, 11 Februari 2015
Kantor Data- Lab. Komputer gedung Mesir
21.00




Doha – 26 Januari 2015
18.33 waktu setempat

Kali ini adalah catatan yang benar-benar akhir.
Pelajaran hidup paling besar yang kurasakan adalah tentang mengambil kesempatan. Gila memang. Di hari terakhir aku memaksakan diri untuk shalat Ashar di Blue Mosque. Sebelum berangkat dari foundation tadi dengan tak tahu malunya aku meminta jurnal dan buku kecil Rasail Nur ke Ihsan Abi. Berangkat ke Turki pun bukan menjadi perhitungan. Karena sebenarnya medan ilmu ada di Jakarta yang teman-temanku sedang pergi kesana sekarang. Namun yang aku pikirkan lagi adalah rasa penyesalan bila tidak dilakukan. Kecewa bila telah dilakukan lebih baik daripada tidak kecewa tapi tidak melakukan. Pada akhirnya tak ada sedikitpun penyesalan yang ada.
Semuanya perlu tindakan yang nyata.
Seperti kata guruku yang juga sudah kutulis di awal tulisan ini, bahwa perjalanan kami adalah sebuah bentuk kesyukuran. Maka rasa syukur yang tiada tara tentunya kupanjatkan pada Ilahi Rabbi, Allah SWT, yang telah mendengar tumpukan doa dan mimpi yang kukumpulkan sedari dulu dan mempermudah jalan hingga aku mendapatkan pelajaran hidup dari rasa senang, bahagia, kekalahan, kekecewaan dan berbagai perasan lain yang sudah kualami selama ini.
Tak lupa juga terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua dan kedua adikku yang menyemangati baik dari segi moril maupun materi. Mereka meyakinkanku bahwa tidak ada yang sia-sia dalam hidup ini. Menurut bahasa Rasail Nurnya adalah kasih sayang orang tua adalah pantulan kasih sayang Allah. Tentu semua aku kembalikan pada-Nya.
Kepada para dosen yang sudah memperjuangkan perjalanan yang dikira mustahil untuk anak kemarin sore ini yang a.k.a adalah mahasiswa belum S1. Terbukti bahwa Rasail Nur memperdalam pengetahuan bahkan iman juga kepondokmodernan kami.
Tentunya terima kasih kepada bapak kami, Dr. M. Kholid Muslih yang sudah rela menghabiskan waktu berharganya menemani, mengajari baik qauly ataupun fi’ly, mengingatkan dan membimbing kami. Sungguh apa dayanya kami (menurut wahmun awal) di negri orang dengan materi berat.
Untuk roommate, kak Aisya Ayu yang tak bosan-bosannya bersamaku dan dengan mimpi tinggi (Insya Allah mustajab)-nya pada Istanbul. Pula Ridani Faulika yang ibarat ibu bagi aku yang suka lupa barang.
Dan teman-teman seperjalanan. Inayatul Maula, Najla Wildan, Siti Iffah, Farida Septiani, Dahniar Maharani, kak Vina, Faridah Ariyani dan Fatatia Mahera. Setelah ini grup WhatsApp thalibu an-Nur mungkin tak akan lagi dibuka. Dimana kita selalu update kabar, ilmu dan perasaan. Namun rasa itu tak mungkin hilang ataupun terlupa. Setelah ini mari ingat janji-janji untuk menghidupkan kembali kajian kemahasiswaan dengan sentuhan Rasail Nur.
Terakhir untuk teman-teman yang mendukung tulisan ini. Baik yang kukenal, baru kenal ataupun tak kenal sama sekali. Sebenarnya niat awal menulis hanya sebagai wadah inspirasi dan perasaan yang kumiliki. Segala kekurangan baik dalam gaya tulisan, referensi ataupun informasi tentu ada dalam tulisan ini. Lebih jauh aku merasa bahwa tulisanku agak akhir terlalu memaksa. Dari menulis pulalah aku belajar mengendalikan diri meski toh sudah tertulis.
Kelak, ranah mana lagi yang akan dituju untuk ditulis?
Wallahu a’lam.
Tapi aku tak pernah berhenti untuk bermimpi, berharap dan tentu saja berdoa. Mengutip kata Ahmad Fuadi, Bermimpilah maka Tuhan akan memeluk mimpimu.
 Setelah ini akan kembali pada rutinitas mengajar, menjadi mahasiswi yang tak pernah lelah perbaikan, pembimbing dan menjadi diri yang lebih baru.



Senin, 26 Januari 2015
Attaturk Airport – 11.05 waktu setempat

Aku sudah pindah rumah sembilan kali. Pindah rayon lebih dari enam kali. Pindah kamar lebih dari sepuluh kali. Dan hal yang peling menyebalkan dari semua itu adalah tentang akhir.
Akhir selalu menjadi misteri bila kita bayangkan di awal. Akhir memiliki peran penting dalam perasaan. Akhir pula yang kata banyak orang menentukan segalanya. Saat berada pada titik akhir maka sesungguhnya kita sedang mengukir sejarah baru kehidupan. Karena setelah akhir akan kembali pada awal yang baru. Seperti yang kutulis dulu bahwa hidup harus selalu dinamis.
Akhirnya hari ini kami kembali. Dalam perjalanan menuju bandara kami tak banyak cakap. Menikmati setiap inchi terakhir yang dapat kami rasakan. Suhu hari ini kembali berkurang. Sungguh beruntung kata seorang teman. Kami datang disaat hawa baik dan pulang disaat hawa memburuk.
Ini akhir dalam perjalanan singkat. Namun menjadi awal baru dalam rangkaian mimpi yang sealu berganti. Subuh tadi aku sendiri ke masjid Sehzade dekat foundation tempat kami tinggal. Dalam doa aku berbisik, “Hari ini akan menjadi shalat terakhir di Istanbul. Semoga kelak aku akan kembali lagi dengan cara apapun. Baik studi ataupun list travel di masa mendatang.”




Senin, 26 Januari 2015
Kamar – 06.03 waktu setempat. Menanti Subuh sejenak

Gagak depan kamarku sudah berkaok sejak tadi. Mungkin ia juga menyambut Subuh selayaknya ayam berkokok di pagi hari. Pagi esok tak akan sehening ini.
Suhu sudah mulai menaik. Maka kawan-kawan bilang bahwa kami datang di waktu yang tepat. Ekstrimisme musim dingin selesai tepat saat kedatangan. Meski pun begitu dingin tetap saja dingin. Dan pagi esok tak akan sedingin ini.
-aku jeda sejenak. Adzan sudah berkumandang-
Ruang tengah – 07.08 waku setempat
Seperti hari yang terus berganti. Seperti langit yang terus bergerak. (Ada apa pula aku pagi ini?) Ia terbiasa melakukan aktivitasnya. Banyak pohon di musim dingin kita sangka mati. Tak berdaun apalagi berbuah. Namun sebenarnya ia sedang hidup dalam kondisinya. Terbiasa dan tahu.
Aaah... memang susah untuk dapat menilai diri sendiri. Hal yang seharusnya menjadi kebiasaan justru menjadi masalah di langit junjungan orang. Kalau tak ada yang mengingatkan bahkan menegur, bisa jadi tak sadar. Itulah mengapa hidup di lingkungan pondok bisa menjadi masa untuk mengaca, menimbang dan mengetahui diri.
Sama seperti pohon tadi. Dengan perubahan musim yang ia alami maka ia harus dapat terbiasa dengan keadaan hawa yang menerpa. Gugur meranggas, dingin berhenti sejenak dan semi tumbuh kembali.
Semalam ternyata aku tertampar oleh kenyataan akan kebiasaan. Menjadi malam terakhir kami untuk bersama dan diingatkan oleh hal-hal yang dianggap biasa ternyata bernilai lain. Tentu menjadi renungan untuk difikirkan dan diubah kembali (menjadi lebih). Karena apa yang kita nilai baik belum tentu baik untuk orang lain. Begitu pula sebaliknya.
Kita ada untuk menjadi pribadi yang selalu lebih baik, bukan?
Aku sendiri merasa berubah sedikit demi sedikit semenjak belajar singkat disini. Guruku mengharapkan perubahan total saat kembali. Namun yang kudapatkan baru perubahan kecil. Seperti kata Felix Siauw dalam bukunya Master Your Habits bahwa sesuatu bila kita lakukan terus menerus akan menjadi kebiasaan.



25 Januari 2015
Kamar – adzan Isya’ 18.47 waktu setempat

Sepertinya semua orang sedang membereskan barang atau sekedar merasakan detik terakhir Istanbul. Setelah menuntaskan bucket list untuk shalat di Blue Mosque, sedari tadi aku (seharusnya) duduk manis di ruang tengah untuk menuntaskan catatan yang belum sempurna ini. Namun ternyata anggota IKPM datang berkumpul dan aku pindah markas.
Dua pagi lalu kami berkumpul. Menyatakan apa yang telah kami dapat selama ini baik dari segi pelajaran dan perjalanan. Tentang ikhlas, berkah, habits yang baik, hidup di negeri orang, ukhuwah islamiyah, sejarah dan aku hanya bisa merangkum kata dengan keterbatasan waktu yang ada. Semua ada di catatan ini.
Aku merenung sejenak.
Sepuluh hari bukanlah waktu yang lama ataupun sebentar. Dalam kurun waktu itu kami sudah bisa menangis saat berpisah dengan guide, mengetahui watak dan kebiasaan satu sama lain, terbiasa jalan (bahkan cepat) selayaknya masyarakat Turki, berbahasa Turki meski hanya obrolan harian, tahu arah (namun aku masih buta arah) sekitar, dan belajar banyak sekali hal.
Aaah... sedih juga.
Namun hidup harus selalu dinamis, kan? Kali ini untuk SPL, lalu akan ujian bahasa, Juni KKN, tak lama lagi skripsi, S2 dan selanjutnya... dan selanjutnya...
Aku cukupkan menulis untuk malam ini. Masih ada beberapa note pamungkas penutup seluruh perjalanan. Insya Allah.



25 Januari 2015
Ruang tengah-17.53 waktu setempat

Aku masih ingat perkataan Ustadz Ihsan Qasim lalu bahwa derajat sahabat selamanya tak akan pernah sama dengan Nabi. Pun sama juga dengan tak akan pernah samanya derajat para thabi’in dengan sahabat. Jadi meski Umar bin Abdul Aziz disebut sebagai khalifah kelima, namun derajatnya tak akan sama dengan para sahabat. Ia baik di zamannya.
Itu pula yang aku rasakan tatkala bertemu dengan murid langsung Said Nursi. Di Istanbul Asia lalu, Ustadz Faronji yang selalu membantu dan menemani Badiuzzaman semasa hidupnya dan Ustadz Ali Cakmak di Bursa. Umurnya sudah terpaut sembilan puluh ke atas, namun tetap dinamis dalam mengajarkan Rasail Nur. Ilmu dan penjelasan yang dimiliki tentu saja berbeda
Badiuzzaman menyebarkan Rasail Nur dalam pengasingan. Lembar demi lembar dipindahtangankan oleh para pengikutnya. Ajaran yang sejak awalnya ditentang pemerintah kini sudah tersebar hingga penjuru dunia. Akar pemikiran beliau sebenarnya dari tokoh tasawuf. Bila ditanya darimana rujukan yang diambil Said Nursi, para guru akan menyebutkan dari Al-Qur’an. Namun dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa ia memiliki konsep tasawuf baru selayaknya Hamka. Asas al-Qur’an dan tasawuf yang tak memunculkan tarekat baru. Model pembelajaran Rasail Nur sendiri hanya dengan membaca. Kendati pada masa itu menggunakan bahasa Utsmani ber-rasm Arab, maka Said Nursi hanya mempersilakan pertanyaan perihal mufradat.
Banyak cara untuk belajar dan mengajar. Setiap guru memiliki tekniknya masing-masing. Pengetahuanku masih belum mantap perihal biografi dan pemikirannya. Maka jujur saja. Dengan program yang ternyata meleset dari jadwal belum membuatku puas dan maksimal.
Aaah... dan besok harus kembali.



25 Januari 2015
Ruang tengah – 10.00 waktu setempat

Kini perjalanan panjang bin melelahkan yang sudah terbayang benar-benar terlaksana. Baru saja kemarin lalu yang berefek pada kelinglungan sesaat sesampainya kami di foundation. Bursa dan Iznik adalah tujuan kami yang harus ditempuh melalui jalanan panjang, jembatan penghubung Asia-Eropa dan masih harus menyebrang menggunakan feri untuk sampai ke tempat tujuan.
Iznik adalah sebuah kota kecil di belahan Asia Turki. Meski perjalanan melelahkan, namun agar menjadi mahasiswi Ushuluddin yang maksimal, rasa itu hanya ada saat kembali yang sungguh sangat terbayar.

Sebenarnya ia hanya sebuah bangunan kecil, tapi pengaruhnya bagi sejarah manusia sangatlah besar. Konsili Nicea ketujuh yang menentukan trinitas umat Kristiani dilaksanakan di Aya Sophia Iznik (yang kini menjadi masjid). Sedari awal gedung ini adalah gereja, namun saat kekuasaan Utsmani ia dipindah alihkan. Namun tetap dijaga keasliannya. Pada masa itu ia turut terkena imbas bakar peperangan. Baru pada tahun 2010 ia dirawat menjadi museum kemudian masjid (meski dengan space kecil). Untuk mencapai gedung ini bisa melalui empat pintu. Kalau kata mbak Aisya Ayu, dipilihnya gereja ini karena bagian depan ditutupi danau dan belakang ditutupi gunung. Agar pendeta peserta konsili tidak dapat kabur. Untuk selengkapnya bisa digoogling.
Yang masih menjadi pertanyaanku hingga saat ini adalah keadaan bangunan tersebut. Terjaga tapi terlihat sangat tua. Bila Aya Sophia di Istanbul pada awal mulanya menjadi masjid sisa-sisa gereja dihapus, tapi tidak untuk Aya Sophia yang satu ini. Saat pindah kepemilikan ia masih belum manjadi masjid. Aaah... sepertinya pengetahuanku masih sedikit.
Beberapa kebenaran tentang konsili ini mengingatkanku dengan kabar politik Indonesia. Tak ingin banyak komentar. Kekuasaan selalu menang, namun kebenaran harus tetap berada di posisinya yang sebenarnya.


Powered by Blogger.