Doha – 26 Januari 2015
18.33 waktu setempat

Kali ini adalah catatan yang benar-benar akhir.
Pelajaran hidup paling besar yang kurasakan adalah tentang mengambil kesempatan. Gila memang. Di hari terakhir aku memaksakan diri untuk shalat Ashar di Blue Mosque. Sebelum berangkat dari foundation tadi dengan tak tahu malunya aku meminta jurnal dan buku kecil Rasail Nur ke Ihsan Abi. Berangkat ke Turki pun bukan menjadi perhitungan. Karena sebenarnya medan ilmu ada di Jakarta yang teman-temanku sedang pergi kesana sekarang. Namun yang aku pikirkan lagi adalah rasa penyesalan bila tidak dilakukan. Kecewa bila telah dilakukan lebih baik daripada tidak kecewa tapi tidak melakukan. Pada akhirnya tak ada sedikitpun penyesalan yang ada.
Semuanya perlu tindakan yang nyata.
Seperti kata guruku yang juga sudah kutulis di awal tulisan ini, bahwa perjalanan kami adalah sebuah bentuk kesyukuran. Maka rasa syukur yang tiada tara tentunya kupanjatkan pada Ilahi Rabbi, Allah SWT, yang telah mendengar tumpukan doa dan mimpi yang kukumpulkan sedari dulu dan mempermudah jalan hingga aku mendapatkan pelajaran hidup dari rasa senang, bahagia, kekalahan, kekecewaan dan berbagai perasan lain yang sudah kualami selama ini.
Tak lupa juga terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua dan kedua adikku yang menyemangati baik dari segi moril maupun materi. Mereka meyakinkanku bahwa tidak ada yang sia-sia dalam hidup ini. Menurut bahasa Rasail Nurnya adalah kasih sayang orang tua adalah pantulan kasih sayang Allah. Tentu semua aku kembalikan pada-Nya.
Kepada para dosen yang sudah memperjuangkan perjalanan yang dikira mustahil untuk anak kemarin sore ini yang a.k.a adalah mahasiswa belum S1. Terbukti bahwa Rasail Nur memperdalam pengetahuan bahkan iman juga kepondokmodernan kami.
Tentunya terima kasih kepada bapak kami, Dr. M. Kholid Muslih yang sudah rela menghabiskan waktu berharganya menemani, mengajari baik qauly ataupun fi’ly, mengingatkan dan membimbing kami. Sungguh apa dayanya kami (menurut wahmun awal) di negri orang dengan materi berat.
Untuk roommate, kak Aisya Ayu yang tak bosan-bosannya bersamaku dan dengan mimpi tinggi (Insya Allah mustajab)-nya pada Istanbul. Pula Ridani Faulika yang ibarat ibu bagi aku yang suka lupa barang.
Dan teman-teman seperjalanan. Inayatul Maula, Najla Wildan, Siti Iffah, Farida Septiani, Dahniar Maharani, kak Vina, Faridah Ariyani dan Fatatia Mahera. Setelah ini grup WhatsApp thalibu an-Nur mungkin tak akan lagi dibuka. Dimana kita selalu update kabar, ilmu dan perasaan. Namun rasa itu tak mungkin hilang ataupun terlupa. Setelah ini mari ingat janji-janji untuk menghidupkan kembali kajian kemahasiswaan dengan sentuhan Rasail Nur.
Terakhir untuk teman-teman yang mendukung tulisan ini. Baik yang kukenal, baru kenal ataupun tak kenal sama sekali. Sebenarnya niat awal menulis hanya sebagai wadah inspirasi dan perasaan yang kumiliki. Segala kekurangan baik dalam gaya tulisan, referensi ataupun informasi tentu ada dalam tulisan ini. Lebih jauh aku merasa bahwa tulisanku agak akhir terlalu memaksa. Dari menulis pulalah aku belajar mengendalikan diri meski toh sudah tertulis.
Kelak, ranah mana lagi yang akan dituju untuk ditulis?
Wallahu a’lam.
Tapi aku tak pernah berhenti untuk bermimpi, berharap dan tentu saja berdoa. Mengutip kata Ahmad Fuadi, Bermimpilah maka Tuhan akan memeluk mimpimu.
 Setelah ini akan kembali pada rutinitas mengajar, menjadi mahasiswi yang tak pernah lelah perbaikan, pembimbing dan menjadi diri yang lebih baru.



Senin, 26 Januari 2015
Attaturk Airport – 11.05 waktu setempat

Aku sudah pindah rumah sembilan kali. Pindah rayon lebih dari enam kali. Pindah kamar lebih dari sepuluh kali. Dan hal yang peling menyebalkan dari semua itu adalah tentang akhir.
Akhir selalu menjadi misteri bila kita bayangkan di awal. Akhir memiliki peran penting dalam perasaan. Akhir pula yang kata banyak orang menentukan segalanya. Saat berada pada titik akhir maka sesungguhnya kita sedang mengukir sejarah baru kehidupan. Karena setelah akhir akan kembali pada awal yang baru. Seperti yang kutulis dulu bahwa hidup harus selalu dinamis.
Akhirnya hari ini kami kembali. Dalam perjalanan menuju bandara kami tak banyak cakap. Menikmati setiap inchi terakhir yang dapat kami rasakan. Suhu hari ini kembali berkurang. Sungguh beruntung kata seorang teman. Kami datang disaat hawa baik dan pulang disaat hawa memburuk.
Ini akhir dalam perjalanan singkat. Namun menjadi awal baru dalam rangkaian mimpi yang sealu berganti. Subuh tadi aku sendiri ke masjid Sehzade dekat foundation tempat kami tinggal. Dalam doa aku berbisik, “Hari ini akan menjadi shalat terakhir di Istanbul. Semoga kelak aku akan kembali lagi dengan cara apapun. Baik studi ataupun list travel di masa mendatang.”




Senin, 26 Januari 2015
Kamar – 06.03 waktu setempat. Menanti Subuh sejenak

Gagak depan kamarku sudah berkaok sejak tadi. Mungkin ia juga menyambut Subuh selayaknya ayam berkokok di pagi hari. Pagi esok tak akan sehening ini.
Suhu sudah mulai menaik. Maka kawan-kawan bilang bahwa kami datang di waktu yang tepat. Ekstrimisme musim dingin selesai tepat saat kedatangan. Meski pun begitu dingin tetap saja dingin. Dan pagi esok tak akan sedingin ini.
-aku jeda sejenak. Adzan sudah berkumandang-
Ruang tengah – 07.08 waku setempat
Seperti hari yang terus berganti. Seperti langit yang terus bergerak. (Ada apa pula aku pagi ini?) Ia terbiasa melakukan aktivitasnya. Banyak pohon di musim dingin kita sangka mati. Tak berdaun apalagi berbuah. Namun sebenarnya ia sedang hidup dalam kondisinya. Terbiasa dan tahu.
Aaah... memang susah untuk dapat menilai diri sendiri. Hal yang seharusnya menjadi kebiasaan justru menjadi masalah di langit junjungan orang. Kalau tak ada yang mengingatkan bahkan menegur, bisa jadi tak sadar. Itulah mengapa hidup di lingkungan pondok bisa menjadi masa untuk mengaca, menimbang dan mengetahui diri.
Sama seperti pohon tadi. Dengan perubahan musim yang ia alami maka ia harus dapat terbiasa dengan keadaan hawa yang menerpa. Gugur meranggas, dingin berhenti sejenak dan semi tumbuh kembali.
Semalam ternyata aku tertampar oleh kenyataan akan kebiasaan. Menjadi malam terakhir kami untuk bersama dan diingatkan oleh hal-hal yang dianggap biasa ternyata bernilai lain. Tentu menjadi renungan untuk difikirkan dan diubah kembali (menjadi lebih). Karena apa yang kita nilai baik belum tentu baik untuk orang lain. Begitu pula sebaliknya.
Kita ada untuk menjadi pribadi yang selalu lebih baik, bukan?
Aku sendiri merasa berubah sedikit demi sedikit semenjak belajar singkat disini. Guruku mengharapkan perubahan total saat kembali. Namun yang kudapatkan baru perubahan kecil. Seperti kata Felix Siauw dalam bukunya Master Your Habits bahwa sesuatu bila kita lakukan terus menerus akan menjadi kebiasaan.



25 Januari 2015
Kamar – adzan Isya’ 18.47 waktu setempat

Sepertinya semua orang sedang membereskan barang atau sekedar merasakan detik terakhir Istanbul. Setelah menuntaskan bucket list untuk shalat di Blue Mosque, sedari tadi aku (seharusnya) duduk manis di ruang tengah untuk menuntaskan catatan yang belum sempurna ini. Namun ternyata anggota IKPM datang berkumpul dan aku pindah markas.
Dua pagi lalu kami berkumpul. Menyatakan apa yang telah kami dapat selama ini baik dari segi pelajaran dan perjalanan. Tentang ikhlas, berkah, habits yang baik, hidup di negeri orang, ukhuwah islamiyah, sejarah dan aku hanya bisa merangkum kata dengan keterbatasan waktu yang ada. Semua ada di catatan ini.
Aku merenung sejenak.
Sepuluh hari bukanlah waktu yang lama ataupun sebentar. Dalam kurun waktu itu kami sudah bisa menangis saat berpisah dengan guide, mengetahui watak dan kebiasaan satu sama lain, terbiasa jalan (bahkan cepat) selayaknya masyarakat Turki, berbahasa Turki meski hanya obrolan harian, tahu arah (namun aku masih buta arah) sekitar, dan belajar banyak sekali hal.
Aaah... sedih juga.
Namun hidup harus selalu dinamis, kan? Kali ini untuk SPL, lalu akan ujian bahasa, Juni KKN, tak lama lagi skripsi, S2 dan selanjutnya... dan selanjutnya...
Aku cukupkan menulis untuk malam ini. Masih ada beberapa note pamungkas penutup seluruh perjalanan. Insya Allah.



25 Januari 2015
Ruang tengah-17.53 waktu setempat

Aku masih ingat perkataan Ustadz Ihsan Qasim lalu bahwa derajat sahabat selamanya tak akan pernah sama dengan Nabi. Pun sama juga dengan tak akan pernah samanya derajat para thabi’in dengan sahabat. Jadi meski Umar bin Abdul Aziz disebut sebagai khalifah kelima, namun derajatnya tak akan sama dengan para sahabat. Ia baik di zamannya.
Itu pula yang aku rasakan tatkala bertemu dengan murid langsung Said Nursi. Di Istanbul Asia lalu, Ustadz Faronji yang selalu membantu dan menemani Badiuzzaman semasa hidupnya dan Ustadz Ali Cakmak di Bursa. Umurnya sudah terpaut sembilan puluh ke atas, namun tetap dinamis dalam mengajarkan Rasail Nur. Ilmu dan penjelasan yang dimiliki tentu saja berbeda
Badiuzzaman menyebarkan Rasail Nur dalam pengasingan. Lembar demi lembar dipindahtangankan oleh para pengikutnya. Ajaran yang sejak awalnya ditentang pemerintah kini sudah tersebar hingga penjuru dunia. Akar pemikiran beliau sebenarnya dari tokoh tasawuf. Bila ditanya darimana rujukan yang diambil Said Nursi, para guru akan menyebutkan dari Al-Qur’an. Namun dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa ia memiliki konsep tasawuf baru selayaknya Hamka. Asas al-Qur’an dan tasawuf yang tak memunculkan tarekat baru. Model pembelajaran Rasail Nur sendiri hanya dengan membaca. Kendati pada masa itu menggunakan bahasa Utsmani ber-rasm Arab, maka Said Nursi hanya mempersilakan pertanyaan perihal mufradat.
Banyak cara untuk belajar dan mengajar. Setiap guru memiliki tekniknya masing-masing. Pengetahuanku masih belum mantap perihal biografi dan pemikirannya. Maka jujur saja. Dengan program yang ternyata meleset dari jadwal belum membuatku puas dan maksimal.
Aaah... dan besok harus kembali.



25 Januari 2015
Ruang tengah – 10.00 waktu setempat

Kini perjalanan panjang bin melelahkan yang sudah terbayang benar-benar terlaksana. Baru saja kemarin lalu yang berefek pada kelinglungan sesaat sesampainya kami di foundation. Bursa dan Iznik adalah tujuan kami yang harus ditempuh melalui jalanan panjang, jembatan penghubung Asia-Eropa dan masih harus menyebrang menggunakan feri untuk sampai ke tempat tujuan.
Iznik adalah sebuah kota kecil di belahan Asia Turki. Meski perjalanan melelahkan, namun agar menjadi mahasiswi Ushuluddin yang maksimal, rasa itu hanya ada saat kembali yang sungguh sangat terbayar.

Sebenarnya ia hanya sebuah bangunan kecil, tapi pengaruhnya bagi sejarah manusia sangatlah besar. Konsili Nicea ketujuh yang menentukan trinitas umat Kristiani dilaksanakan di Aya Sophia Iznik (yang kini menjadi masjid). Sedari awal gedung ini adalah gereja, namun saat kekuasaan Utsmani ia dipindah alihkan. Namun tetap dijaga keasliannya. Pada masa itu ia turut terkena imbas bakar peperangan. Baru pada tahun 2010 ia dirawat menjadi museum kemudian masjid (meski dengan space kecil). Untuk mencapai gedung ini bisa melalui empat pintu. Kalau kata mbak Aisya Ayu, dipilihnya gereja ini karena bagian depan ditutupi danau dan belakang ditutupi gunung. Agar pendeta peserta konsili tidak dapat kabur. Untuk selengkapnya bisa digoogling.
Yang masih menjadi pertanyaanku hingga saat ini adalah keadaan bangunan tersebut. Terjaga tapi terlihat sangat tua. Bila Aya Sophia di Istanbul pada awal mulanya menjadi masjid sisa-sisa gereja dihapus, tapi tidak untuk Aya Sophia yang satu ini. Saat pindah kepemilikan ia masih belum manjadi masjid. Aaah... sepertinya pengetahuanku masih sedikit.
Beberapa kebenaran tentang konsili ini mengingatkanku dengan kabar politik Indonesia. Tak ingin banyak komentar. Kekuasaan selalu menang, namun kebenaran harus tetap berada di posisinya yang sebenarnya.



25 Januari 2015
Ruang tengah – 08.58 waktu setempat

Pagi ini bisa menjadi pagi terakhir untuk menulis di tempat ini. Perkara bisa ditulis di bandara itu cerita lain. Maka akan kuselesaikan hutang-hutang perjalanan sebelum terlupa.
Dalam kunjungan lalu ke Fatih Sultan Mehmet Wakvi University salah seorang dosen berkata, “Setiap Muslim harus bisa menjaga warisannya.” Warisan disini tentu saja dalam bentuk sejarah yang tak ternilai harganya.
Kemarin lalu nafasku sampai tercekat. Sisa-sisa sejarah itu masih ada dan terawat. Tepatnya di Topkapı. Ia dibangun oleh Sultan Mehmet pada tahun 1460-1478 pada masa kekhalifahan Utsmani. Jaraknya tak terlalu jauh dari Aya Sophia dan Blue Mosque. Dari sana pulalah kami mengambil jalan untuk ke Eminönü.
Ia terbagi menjadi beberapa ruangan yang diklasifikasikan menurut barang. Jam pemberian dari negara asing untuk kekhalifahan, pedang dan alat perang dari zaman Rasul, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Muawiyah, para sahabat dan zaman kekhalifahan Utsmaniyah, perhiasan para Ratu juga selir, dan masih banyak lagi hingga kami tak sempat memasukinya semua.
Kuakui bahwa Turki sangat menjaga warisan budaya dan sejarahnya. Mereka bahkan tak mau mengakui bahwa Istanbul adalah Konstantinopel karena sudah dikuasai oleh Muslim pada zaman Utsmani. Yang bagiku adalah simbol kebanggaan.
Sama seperti di Aya Sophia lalu. aku hanya bisa takjub dan tak bisa berkata-kata. Sejarah di masa lalu sebagai kebangkitan di masa mendatang.




24 Januari 2015
22.30 waktu setempat

Kata ibuku aku mudah hilang.
Waktu kecil aku pernah merajuk dan jalan sendiri di kampung nenek. Untung berhasil ditemukan. Karena menurut kepercayaan setempat daerah tersebut ada Wewe Gombel. Entahlah. Dalam pikiranku yang masih kecil aku tak tahu dan tak mau tahu apapun.
Di Bogor aku pernah hilang arah karena salah naik angkot. Yang seharusnya ke jurusan kanan malah ke kiri. Alasan utamanya karena aku tak pakai kaca mata dan tak melihat. Padahal memang buta arah.
Di Bandung pernah cari-carian dengan teman. Aku dari Bogor, yang satu asli Bandung tapi tak pernah ke arah Timur dan yang satu lagi dari Karawang. Aku menunggu di Kantor Pos besar dan ia menunggu di Kantor Pos besar tapi dekat alun-alun. Saat kami sudah bertemu ternyata temanku tak tahu dimana. Kami cari-carian antara alun-alun dan terminal Leupanjang.
Beberapa hari yang lalu saat ke masjid Fatih juga hampir salah jalan. Karena hawa dingin yang menusuk (saat itu sedang 4 derajat) serta otak dan badan yang juga lelah, aku dan beberapa teman memutuskan jalan sendiri. Walhasil kami bingung di antara perempatan yang bentuknya sama semua.
Karena itu pulalah aku tidak suka jalan sendiri. Terkadang antara percaya diri dan sok tahu itu beda-beda tipis.
Sepulangnya dari Topkapı kami bergegas ke Eminönü, pusat perbelanjaan murah yang sangat kami (dan banyak orang tentunya) senangi. Dari oleh-oleh, barang tekstil hingga perhiasan ada di sana. Perjalanan ke Topkapı akan kubahas nanti.
Jarak Topkapı dan Eminönü tak begitu jauh dan dekat. Biasalah. Jalan kaki. Karena kondisinya yang riweuh dan naluri belanja wanita yang besar, kami memutuskan untuk berpisah dan berkumpul kembali di depan masjid pukul setengah lima. Oleh-oleh, checked. Barang epik Turki, checked. Pukul setengah lima beberapa dari kami sudah berkumpul. Dalam perjanjian kami tidak bersama guide karena sudah diyakini tahu jalan.
Saat semuanya berkumpul, dengan modal tanya kanan-kiri kami menuju foundation dengan masjid Bayazid sebagai patokan. Dengan pikiran, badan dan hati yang lelah serta belanjaan yang tidak sedikit kami berjalan. Dan ketakutanku sepertinya terbukti. Ada dua orang (dan kini bukan aku) yang antah berantah tak ada saat kami sudah mendekati masjid Bayazid. Dicari ke jalan yang hampir kami lalui dan ternyata salah pun tak ada. Berbagai ide dari yang rasional dan gila pun muncul. Entah menelpon dengan nomor Indonesia dan terkena roaming ataupun mencari lewat GPS. Khawatir lama dan semuanya kami kembalikan pada Allah. Ini bagian dari tawakkal.
Kami berhenti sejenak untuk makan malam. Sungguh hebat. Di warung kecil saja ada wifi. Itu pulalah yang menjadikan kami mengetahui kabar dua teman kami tersebut. Mereka sudah sampai foundation dengan selamat. Dengan alasan lelah dan berhenti sejenak, keduanya percaya diri untuk kembali. Tapi kenapa bisa lebih dulu? Aku yang buta arah ini tak bisa komentar. Yang jelas antara percaya diri dan sok tahu sering kali menimbulkan kekhawatiran atau kepercayaan.




24 Januari 2015
Kamar – 22.05
Lelah sebenarnya. Kami baru saja sampai satu jam yang lalu setelah perjalanan panjang dari Bursa. Alasan kenapa ada di postingan setelahnya Insya Allah. Seharusnya tulisan ini sudah ada sejak kemarin lalu karena perjalanan ke Aya Sophia (aku lebih senang menyebut begitu) adalah setelah pelajaran kami di Rustam Pasha.
Memang benar bahwa Aya Sophia dan Blue Mosque adalah maskot Istanbul (Turki bahkan). Sehingga bisa dikatakan bahwa belum ke Turki kalau belum keduanya seperti kita yang mengatakan bahwa belum ke Madura kalau belum makan bebek Sinjay. Letak yang berdekatan ditambah Topkapı membuat kawasan ini sangat ramai didatangi.
Aya Sophia sendiri melegenda karena bangunan yang asalnya gereja kemudian dijadikan masjid saat pemerintahan Muhammad II lalu dijadikan museum pada masa Attaturk. Saat menjadi masjid, simbol-simbol kekristenan ditutup dengan semen dan diberikan sentuhan Islam seperti masjid-masjid kebanyakan. Kaligrafi tulisan Allah, Muhammad, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Hasan dan Husein. Namun saat menjadi museum semen tersebut dibuka sehingga kita dapat melihat lukisan Maria antara kaligrafi Allah dan Muhammad di tengah-tengah bangunan. Belum lagi beberapa peninggalan zaman ia masih menjadi gereja dan masjid yang dijaga dengan baik. Penjual souvenir pun membagi cindera mata menjadi khas Islam dan Kristen.
Aku berdecak kagum melihat semua fakta tersebut. Di awal aku pun sudah mengunjungi masjid kecil yang aslinya gereja tak jauh dari foundation. Sebagai bukti bahwa kekuatan Islam sangat besar dulu (dan sekarang sedang bangkit). Untuk kali ini tak cukup diceritakan, namun harus dirasakan. Karena energinya akan muncul saat melihatnya sendiri secara langsung.
Dari perjalanan awal kami selalu dikira orang Malaysia. Baik dari penjual sok tahu yang merayu gombal atau orang asal lewat. Namun sekeluarnya dari Aya Sophia aku dikejutkan oleh seorang perempuan asal Belgia yang bekerja di Turki menyapaku dengan Bahasa Indonesia. Rupanya ia sedang kursus Bahasa Indonesia di kedutaan dan sedang praktek dengan temannya. Ia langsung tahu bentuk wajah kami yang sangat Indonesia. Namun kejutan tersebut belum berakhir. Saat akan keluar Aya Sophia, seorang lelaki Turki menyapaku dengan Bahasa Indonesia. Ia sangat kenal dengan mata perempuan Indonesia. Rupanya ia sudah lancar bicara Bahasa Indonesia selama dua tahun dan bolak-balik Indonesia lebih dari sepuluh kali. Saat itu ia sedang menjadi guide dari rombongan umrah plus Indonesia.
Aku sendiri sudah berjanji. Bila suatu saat pergi ke luar negri lagi, aku akan pakai tas batik atau tas Bali atau apapun yang bisa menunjukkan Indonesia. Tak hentinya seorang teman selalu sewot menjawab, “I am Indonesian. Not Malaysia.”


Powered by Blogger.