18 Januari 2015
Kamar – 04.05 AM waktu setempat

Ada obrolan singkat antara aku dan kak Aisyah semalam. Sudah berapa lama sih kita disini. Dihitung-hitung baru tiga hari. Empat kalau dihitung kedatangan. Namun kami merasa sudah lama dan tak asing dengan kultur ataupun segala hal yang kami temui. Jujur saja. Masyarakat Turki adalah orang yang sangat ramah dan baik hati. Tak tahu itu siapa, ia akan dengan senang hati membatu kami untuk berfoto bersama. Dari mulai pejalan kaki asal lalu hingga pelayan restoran. Hingga kami selalu merasa nyaman dengannya. Baik untuk mata dan hati kami.
Kemarin lalu kami mendatangi panorama yang harus ditempuh menggunakan trem dari tempat kami tinggal. Sayangnya kami terlambat berangkat karena misscommunication dengan Betül abla. Ia menunggu di lobby bawah, sementara kami menunggu di atas sembari belajar Rasail Nur bersama dosen pembimbing. Jadilah kami memulai perjalanan pada pukul sebelas. Matahari menyilaukan namun suhu masih lima derajat.
Nama lengkap tempatnya adalah Panorama 1453. Dilihat dari tahunnya saja sudah ketahuan bahwa tempat itu adalah bukti sejarah bagaimana Islam dapat menembus Konstantinopel dan kemudian berjaya kembai di tangan Sultan Muhammad II al-Fatih. Panorama bukanlah gedung yang bertingkat ke atas, namun bertingkat ke bawah tanah. Di tingkat bawah pertama terdapat berbagai pigura beserta lukisan (atau banner?) yang disertai penjelasan menggunakan Bahasa Turki. Untuk itu kami menggunakan earphone yang akan menjelaskan dengan Bahasa Arab atau Inggris sesuai pilihan. Spot yang paling menakjubkan ada di bawahnya lagi. Ruangan tersebut sudah disulap sedemikian rupa sehingga terasa peperangan Fathu Konstantinopel. Di sekeliling dinding yang berbentuk bulat terlukiskan jalan cerita dari saat tentara Turki datang bersama al-Fatih membawa panji ke Konstantinopel hingga pemboman dinding kekuatan Konstantinopel. Di depan lukisan terdapat pasung, meriam dan panah asli. Ditambah lagi dengan backsound peperangan membuat kami terasa terjun ke saat itu. Tak hentinya aku berkomat kamit. Subhanallah... subhanallah..
Al-Fatih menaklukan Konstantinopel di umur 21 tahun. Ia adalah tokoh yang sangat menginspirasi. Di umur 21 tahun apa yang sudah kita lakukan? Atau adzimah besar apa yang kita miliki untuk sebuah perubahan yang baik?
Pejuang dan tentu saja pemimpin Fathu Konstantinopel sudah dinyatakan oleh Rasulullah sebagai sebaik-baiknya pemimpin dan tentara. Semangat dan gairah masa lalu terhadap janji Rasul di masa lalu lagi. Perlu kita selalu mengaca terhadap apa yang ada di lalu. Karena izin Allah, maka setelah Fathu Konstantinopel Islam lebih berjaya lagi. Sejarah Islam tak terputus hanya pada Khulafau ar-Rasyidin saja, namun para sahabat, tabi’in, tabi’ tabi’in dan seterusnya dan seterusnya. Bagaimana naik turunnya kejayaan Islam ada di cerita masa lalu. namun apa yang sedang kita lakukan kini juga merupakan bentuk dari sejarah Islam di masa mendatang. Lingkup kecilnya Islam di Indonesia. Bagaimana Indonesia yang awalnya menganut mistisme, kemudian Hindu-Buddha, lalu Islam masuk. Terdapat asimilasi kebudayaan hingga dapat kita temui Islam kejawen. Lalu ada tarekat, ulama-ulama Islam. Kemudian lagi muncul faham-faham Barat yang merasuki Islam Indonesia. Tersentuh ini-itu. Namun di samping itu juga masih ada bagian yang murni atau memurnikan Islam. terdapat gerakan One Day One Juz atau One Day One Ayat. Tahfidz. Dan jangan lupa masih ada Gontor yang menambah cerita tentang Islam di Indonesia.
Masa lalu tak bisa kembali lagi. Itu konsep yang sudah jelas. Kejayaan dan keterpurukannya hanya dapat kita jadikan pelajaran agar kita dapat melakukan sesuatu untuk masa depan. Tak dapat juga kita hanya melihat di masa lalu kemudian tak melakukan apapun. Iya. Memang Islam pernah berjaya. Bukan untuk dijadikan cerita saja. Tugas kita di masa kini untuk menjayakan Islam kembali. Dengan berbagai cara. Lewat pendidikan, ekonomi, sosial, politik dan lainnya. Namun perubahan yang paling besar, terpenting dan utama tentu saja adalah diri dan iman kita. Kata salah seorang dosenku, bila iman sudah baik maka ia akan memancar ke segala hal. Rebuild Islamic Civilization lewat iman. Uusiikum wa iyyaya nafsii bitaqwallah.


Leave a Reply

Powered by Blogger.