18 Januari 2015
Kamar - 05.05 AM waktu setempat sembari menanti adzan Subuh

Postingan lalu aku bercerita bahwa kami mengunjungi panorama. Setelahnya kami menaiki trem menuju Sultan Mehmet Mosque yang punya alias Blue Mosque untuk shalat Dzuhur disana. Karena tahu diri bahwa Blue Mosque termasuk salah satu objek wisata yang diminati, maka ia selalu berbenah dan menjaga diri. Terdapat banyak petugas yang mengatur tertibnya pengunjung yang ingin shalat atau sekedar berkunjung. Masuk Blue Mosque memiliki aturan sama dengan Sunan Ampel. Semua pengunjung harus mengenakan baju syar’i. Maka banyak terdapat penjual kerudung di pelataran sebelum kita memasuki area Blue Mosque.
Siapa yang takjub dengan keadaannya? Subhanallah... Subhanallah... Subhanallah...
Ada cerita lucu saat kami menaiki trem sebelum itu. Kebetulan trem sangat penuh dan harus berdiri di dekat pintu. Kami dan dua guide dari Istanbul Foundation sedang asyik bertukar bahasa keseharian. Terima kasih, sama-sama, hati-hati tasnya dan lain-lain. Tak disangka seorang laki-laki Turki yang berdiri di sampingku sebelum akan keluar saat aku mempersilakannya lewat ia mengucapkan terima kasih dengan Bahasa Indonesia. Itu yang kubilang setiap perjalanan selalu ada pelajaran. Maka jangan melek walang. Dapat mufradat bahasa baru, kan?
Aya Sophia, yang kini menjadi museum, ada tepat di seberang Blue Mosque. Karena keduanya adalah icon Turki, maka kami memutuskan untuk berfoto menggunakan banner berkali-kali yang pada akhirnya harus kami ulang lagi beberapa jam setelah makan karena silaunya matahari siang itu.
Restaurant yang akan kami tuju memang tak begitu jauh dari area Blue Mosque. Namun bagi orang Indonesia, jalan kaki lima belas atau sepuluh menit di cuaca bersuhu lima derajat adalah sesuatu. Pulangnya pun ternyata kami kembali lagi ke area Blue Mosque (kemudian foto ulang) dan berjalan kaki ke daerah Istanbul University, lanjut terus sampai tempat kami tinggal yang membutuhkan waktu lima belas menit.
Berjalan sudah menjadi kebiasaan masyarakat Turki. Bahkan kata kak Nabila, IKPM Turki, sepatu kalau yang abal-abal hanya tahan satu bulan. Ia saja harus selalu mengganti sepatu musim dingin tiap tahunnya dikarenakan budaya jalan tersebut. Dikit sekali kami menemukan motor dan mobil pribadi. Masyarakat Turki lebih memilih menggunakan transportasi umum atau berjalan.
Ah... kadang kala aku malu pada diri sendiri. Sedikit-sedikit harus menggunakan kendaraan. Setiap orang paling tidak harus mempunyai kendaraan paling tidak motor. Bahkan berjalan kaki menjadi simbol kesusahan. Hal ini juga didasari (mungkin) akan kurang memadainya transportasi umum.
Hal seperti di atas (baca: Turki) tadi bukan hanya terdapat di negara ini, namun juga di negara lain yang bahkan besar. Apa sih Indonesia kalau dibandingkan dengan semua itu? Sama seperti postingan yang menceritakan penumpang pesawat Garuda Indonesia ditegur oleh penumpang lain berkebangsaan Jerman karena memakai ponsel. Sebenarnya Indonesia hebat, tapi tidak dapat memposisikan kehebatannya. Sikap permisif menjadi sok-sokan. Uusiikum wa iyyaya nafsii bitaqwallah. Semoga hal ini dapat menjadi sebuah sikap baik.


Leave a Reply

Powered by Blogger.