19 Januari 2015
Kamar – 07.20 AM waktu setempat

Hari ini aku akan mengulangi lagi kesyukuran yang kurasakan satu setengah tahun yang lalu. saat akhirnya aku masih berada di Gontor. Saat akhirnya aku memutuskan untuk meneruskan sekolah yang sudah aku masuki sejak lulus sekolah dasar.
Aku bersyukur.
Untuk tetap terjaga dalam lingkungan baik dan miliu yang mendukung untuk menjadi baik. Hingga bila kuberkaca diri tiap tahunnya, paling tidak selalu ada perubahan baik dari segi internal dan eksternal.
Aku bersyukur.
Masih dapat mendengar wejangan dan nasehat dari para kyai dan guru secara langsung. Yang tetntu saja relevan dengan kehidupan, kepondokan, diri untuk hubungan vertikal dan horizontal.
Aku bersyukur.
Melihat contoh langsung dari nilai-nilai yang diberikan oleh para kyai dan guru-guru untuk dapat kuaplikasikan juga di kehidupan sehari-hari. Itu pulalah yang membentuk pandangan hidup serta idealisme.
Aku bersyukur.
Kuliah di ISID terlebih Ushuluddin. Bukan hanya memberikanku ilmu, tapi juga nilai kehidupan yang sangat mahal harganya. Baik dari segi keislaman maupun kepondokmodernan yang tentu berabasis Islam.
Semalam kami menyelesaikan kajian kami dengan akhir yang bahagia. Meski lelah dan beberapa juga ada yang mengantuk, namun banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari obrolan malam itu bersama dosen pembimbing.
Maka memang benar. Ada relevansi dalam Risalah Nur dan Gontor. Mengambil kalimat salah seorang guruku, bahwa pemikiran pejuang Islam itu bersinergi dan bertemu dalam idealisme pemikiran. Baik dari dakwah islamiyah, aqidah salafiyah, keagamaan dan pendidikan.
Manhaj yang dipakai Rasail Nur tentu saja manhaj Qur’aniy. Salah satunya adalah agar kita dapat merasa selalu rendah diri. Kebaikan itu datangnya dari Allah dan keburukan datangnya dari diri sendiri. Hingga kita tak perlu lagi merasa bangga dan sombong. Benar maka istilah bahwa kekurangan kita (sebagai hamba) adalah kesempurnaan kita. Apa sih yang kita harapkan pada pondok? Asal dapat berbuat dan beramal sebanyak mungkin, itu sudah cukup. Tak perlulah orang tahu apa yang kita lakukan atau berikan dengan tambahan merasa berat. Itu yang disebut keikhlasan.
Dan dengan contoh yang masih banyak lagi.
Beruntunglah orang-orang yang masih atau pernah berada di Gontor (yang membuka hatinya). Karena kita diajarkan bukan hanya dari teori, namun juga praktek langsunnggal masalah kita, mau atau tidak mau menjadi baik dengan nilai-nilai tersebut.
Uusiikum wa iyyaya nafsii bitaqwallah.


Leave a Reply

Powered by Blogger.