Jum’at, 23 Januari 2015
Kamar – 05.35 waktu setempat menanti adzan Subuh

Seharian kemarin aku tak menulis apapun. Melihat notebook pun hanya sejenak. Alih-alih mencoba menulis kemudian aku hapus lagi.
Di awal kami sudah berencana untuk menonton tarian Sufi atau ziarah ke makam Jalaluddin Rumi di Konya. Namun karena tempatnya yang sangat jauh dan kebetulan pementasan tersebut diadakan bertepatan dengan kedatangan kami di Universitas Fatih Sultan Mehmet, maka jadilah kami kesana sembari menyambung silaturahim antara UNIDA dan universitas tersebut yang sudah menjalin MoU. http://www.fatihsultan.edu.tr/
Pementasan tersebut baru akan diadakan pukul tujuh. Setelah bertemu dengan salah seorang mahasiswi Indonesia (Aceh), kami bertemu dengan rektor dan beberapa dosen di ruangan yang dulunya dipakai oleh Sultan untuk menyambut tamu-tamu besarnya. Sekali lagi Bahasa Arab menyatukan para muslim. Universitas tersebut menggunakan Bahasa Arab sebagai pengantar dan dosen yang sebagian besar dari Timur Tengah di tingkatan S1.
Di tempat itu aku merasa besar dan kecil. Bisa bertemu dengan orang-orang besar seperti beliau tentu membanggakan, tapi saat dialog aku kembali merasa kecil. Kalau kata Imam Syafi’i, ilmu itu ibarat cahaya. Disini aku merasakan bahwa bila ingin bersinar maka seringlah mendekati sumber cahaya agar tersinar ataupu terkena pantulannya. Imam Ghazali dalam bukunya Ihya’ Ulumuddin mengatakan bahwa hati bila tidak diberi hikmah dan ilmu selama tiga hari maka akan mati.
Rektornya, doktor Ahmet, memperlihatkan pada kami kaligrafi bersejarah dari zaman Utsmaniyah. Dua kali dalam kurun waktu setengah jam aku mendengar istilah ini, “Al-Qur’an turun di Makkah, dibaca di Mesir dan ditulis di Turki.” Suatu kebanggaan. Dalam dialog singkat kami membahas ahwal umat Islam. Turki, seperti yang kutulis lalu, saat dilarang untuk menyentuh Bahasa Arab, sehingga Muslim Turki (hingga saat ini) tidak semuanya bisa baca Al-Qur’an dengan lancar ataupun shalat dengan benar. Terlebih Istanbul yang merupakan bagian Asia dan Eropa. Pergolakan budaya serta pandangan hidup benar-benar terjadi. Di titik ini aku terpekur. Bahkan Indonesia yang jauh dari Eropa saja sudah hampir hilang jati dirinya. Kalau tidak ke-Eropa-Eropaan, ya ke-Jepang-Jepangan atau ke-Korea-Koreaan.
Salah seorang dosen menceritakan kepergiannya ke Makkah untuk haji beberapa tahun lalu. Sebelum menaruh kembali al-Qur’an pada tempatnya, ia menciumnya. Salah seorang pemuda yang melihatnya mengatakan itu bid’ah. Padahal Utsman juga melakukan hal yang sama. Saat ia mengangkat tangan di depan makam Nabi, salah seorang penjaga menegurnya dan mengatakan itu haram. Padahal ia berdoa pada Allah dan bershalawat pada Nabi. Sering kali kita hanya tahu dari apa yang dikatakan orang lain dan mengklaim bahwa itu benar. Ini yang namanya validasi kebenaran. Tak cukup dari apa yang dikatakan, namun perlu dibaca dan dibuktikan sehingga kita mencapai kebenaran. Kalau kata seorang teman, “Banyak baca banyak tahu, tak banyak baca jadi sok tahu.”
Uusiikum wa iyyaya nafsi bitaqwallah.


Leave a Reply

Powered by Blogger.