Jum’at, 23 Januari 2015
Ruang tengah – 07.45 waktu setempat

Kemarin kami diajak ke madrasah Rustam Pasha, salah satu tempat kajian Risalah Nur bagi wanita. Tempat tersebut didirikan sejak zaman Sultan Sulaiman dan masih dijaga keutuhannya hingga saat ini. Yang mengajak kami adalah menantu dari Ustadz Ihsan Qasim (yang sempat kami tanyakan pada beliau punya anak dan cucu berapa pada pertemuan sebelumnya) dan salah seorang pengajar disana. Tak begitu jauh. Hanya lima belas menit dengan jalan kaki (pastinya). Disana juga ada teks-teks dengan tulisan asli dan beberapa sejarah hidup Said Nursi.
Salah satu alasan kenapa Ustadz Ihsan Qasim mempelajari Rasail Nur adalah akhlak dari para pengikutnya. Sejenak meneruskan pelajaran kami tentang ikhlas, kami diajak untuk mengikuti pengajian Rasail Nur. Ia ingin kami tahu bagaimana pengajaran Rasail Nur di Rustam Pasha. Sama seperti kajian kebanyakan. Seorang guru menjelaskan dan yang lain mendengarkan kemudian bertanya. Yang menjadi guru adalah anak dari salah seorang perempuan penulis Rasail Nur. Rasail Nur sendiri hadir dalam pengasingan Said Nursi. Di tempat tersebut ia menyampaikan, kemudian ditulis kembali oleh murid-muridnya hingga tersebar ke Istanbul dan beberapa kota di Turki lainnya.
Kalau boleh jujur, mayoritas hadirin adalah nenek-nenek atau perempuan berumur. Hal ini mengingatkanku akan fenomena masjid yang mayoritas pengunjungnya dari kalangan atas (dari segi umur). Karena menggunakan Bahasa Turki maka kami hanya manggut-manggut sembari mendengarkan sesuatu yang tak kami pahami. Yang kurasakan walau sejenak adalah ruh dari Rasail Nur itu sendiri. Bagaimana hanya dengan membacanya (yang merupakan rangkuman dari banyak ilmu) membuat perubahan bagi akhlak.
Saat ini Rasail Nur sedang tumbuh dan baru menjadi tunas bagiku. Agar ia semakin besar dan lebat, maka perlu disirami dengan penekanan ilmu juga aplikasi yang nyata.



Leave a Reply

Powered by Blogger.