24 Januari 2015
22.30 waktu setempat

Kata ibuku aku mudah hilang.
Waktu kecil aku pernah merajuk dan jalan sendiri di kampung nenek. Untung berhasil ditemukan. Karena menurut kepercayaan setempat daerah tersebut ada Wewe Gombel. Entahlah. Dalam pikiranku yang masih kecil aku tak tahu dan tak mau tahu apapun.
Di Bogor aku pernah hilang arah karena salah naik angkot. Yang seharusnya ke jurusan kanan malah ke kiri. Alasan utamanya karena aku tak pakai kaca mata dan tak melihat. Padahal memang buta arah.
Di Bandung pernah cari-carian dengan teman. Aku dari Bogor, yang satu asli Bandung tapi tak pernah ke arah Timur dan yang satu lagi dari Karawang. Aku menunggu di Kantor Pos besar dan ia menunggu di Kantor Pos besar tapi dekat alun-alun. Saat kami sudah bertemu ternyata temanku tak tahu dimana. Kami cari-carian antara alun-alun dan terminal Leupanjang.
Beberapa hari yang lalu saat ke masjid Fatih juga hampir salah jalan. Karena hawa dingin yang menusuk (saat itu sedang 4 derajat) serta otak dan badan yang juga lelah, aku dan beberapa teman memutuskan jalan sendiri. Walhasil kami bingung di antara perempatan yang bentuknya sama semua.
Karena itu pulalah aku tidak suka jalan sendiri. Terkadang antara percaya diri dan sok tahu itu beda-beda tipis.
Sepulangnya dari Topkapı kami bergegas ke Eminönü, pusat perbelanjaan murah yang sangat kami (dan banyak orang tentunya) senangi. Dari oleh-oleh, barang tekstil hingga perhiasan ada di sana. Perjalanan ke Topkapı akan kubahas nanti.
Jarak Topkapı dan Eminönü tak begitu jauh dan dekat. Biasalah. Jalan kaki. Karena kondisinya yang riweuh dan naluri belanja wanita yang besar, kami memutuskan untuk berpisah dan berkumpul kembali di depan masjid pukul setengah lima. Oleh-oleh, checked. Barang epik Turki, checked. Pukul setengah lima beberapa dari kami sudah berkumpul. Dalam perjanjian kami tidak bersama guide karena sudah diyakini tahu jalan.
Saat semuanya berkumpul, dengan modal tanya kanan-kiri kami menuju foundation dengan masjid Bayazid sebagai patokan. Dengan pikiran, badan dan hati yang lelah serta belanjaan yang tidak sedikit kami berjalan. Dan ketakutanku sepertinya terbukti. Ada dua orang (dan kini bukan aku) yang antah berantah tak ada saat kami sudah mendekati masjid Bayazid. Dicari ke jalan yang hampir kami lalui dan ternyata salah pun tak ada. Berbagai ide dari yang rasional dan gila pun muncul. Entah menelpon dengan nomor Indonesia dan terkena roaming ataupun mencari lewat GPS. Khawatir lama dan semuanya kami kembalikan pada Allah. Ini bagian dari tawakkal.
Kami berhenti sejenak untuk makan malam. Sungguh hebat. Di warung kecil saja ada wifi. Itu pulalah yang menjadikan kami mengetahui kabar dua teman kami tersebut. Mereka sudah sampai foundation dengan selamat. Dengan alasan lelah dan berhenti sejenak, keduanya percaya diri untuk kembali. Tapi kenapa bisa lebih dulu? Aku yang buta arah ini tak bisa komentar. Yang jelas antara percaya diri dan sok tahu sering kali menimbulkan kekhawatiran atau kepercayaan.


Leave a Reply

Powered by Blogger.