25 Januari 2015
Ruang tengah – 08.58 waktu setempat

Pagi ini bisa menjadi pagi terakhir untuk menulis di tempat ini. Perkara bisa ditulis di bandara itu cerita lain. Maka akan kuselesaikan hutang-hutang perjalanan sebelum terlupa.
Dalam kunjungan lalu ke Fatih Sultan Mehmet Wakvi University salah seorang dosen berkata, “Setiap Muslim harus bisa menjaga warisannya.” Warisan disini tentu saja dalam bentuk sejarah yang tak ternilai harganya.
Kemarin lalu nafasku sampai tercekat. Sisa-sisa sejarah itu masih ada dan terawat. Tepatnya di Topkapı. Ia dibangun oleh Sultan Mehmet pada tahun 1460-1478 pada masa kekhalifahan Utsmani. Jaraknya tak terlalu jauh dari Aya Sophia dan Blue Mosque. Dari sana pulalah kami mengambil jalan untuk ke Eminönü.
Ia terbagi menjadi beberapa ruangan yang diklasifikasikan menurut barang. Jam pemberian dari negara asing untuk kekhalifahan, pedang dan alat perang dari zaman Rasul, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Muawiyah, para sahabat dan zaman kekhalifahan Utsmaniyah, perhiasan para Ratu juga selir, dan masih banyak lagi hingga kami tak sempat memasukinya semua.
Kuakui bahwa Turki sangat menjaga warisan budaya dan sejarahnya. Mereka bahkan tak mau mengakui bahwa Istanbul adalah Konstantinopel karena sudah dikuasai oleh Muslim pada zaman Utsmani. Yang bagiku adalah simbol kebanggaan.
Sama seperti di Aya Sophia lalu. aku hanya bisa takjub dan tak bisa berkata-kata. Sejarah di masa lalu sebagai kebangkitan di masa mendatang.


Leave a Reply

Powered by Blogger.