25 Januari 2015
Ruang tengah-17.53 waktu setempat

Aku masih ingat perkataan Ustadz Ihsan Qasim lalu bahwa derajat sahabat selamanya tak akan pernah sama dengan Nabi. Pun sama juga dengan tak akan pernah samanya derajat para thabi’in dengan sahabat. Jadi meski Umar bin Abdul Aziz disebut sebagai khalifah kelima, namun derajatnya tak akan sama dengan para sahabat. Ia baik di zamannya.
Itu pula yang aku rasakan tatkala bertemu dengan murid langsung Said Nursi. Di Istanbul Asia lalu, Ustadz Faronji yang selalu membantu dan menemani Badiuzzaman semasa hidupnya dan Ustadz Ali Cakmak di Bursa. Umurnya sudah terpaut sembilan puluh ke atas, namun tetap dinamis dalam mengajarkan Rasail Nur. Ilmu dan penjelasan yang dimiliki tentu saja berbeda
Badiuzzaman menyebarkan Rasail Nur dalam pengasingan. Lembar demi lembar dipindahtangankan oleh para pengikutnya. Ajaran yang sejak awalnya ditentang pemerintah kini sudah tersebar hingga penjuru dunia. Akar pemikiran beliau sebenarnya dari tokoh tasawuf. Bila ditanya darimana rujukan yang diambil Said Nursi, para guru akan menyebutkan dari Al-Qur’an. Namun dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa ia memiliki konsep tasawuf baru selayaknya Hamka. Asas al-Qur’an dan tasawuf yang tak memunculkan tarekat baru. Model pembelajaran Rasail Nur sendiri hanya dengan membaca. Kendati pada masa itu menggunakan bahasa Utsmani ber-rasm Arab, maka Said Nursi hanya mempersilakan pertanyaan perihal mufradat.
Banyak cara untuk belajar dan mengajar. Setiap guru memiliki tekniknya masing-masing. Pengetahuanku masih belum mantap perihal biografi dan pemikirannya. Maka jujur saja. Dengan program yang ternyata meleset dari jadwal belum membuatku puas dan maksimal.
Aaah... dan besok harus kembali.


Leave a Reply

Powered by Blogger.