Di awal kedatangan Fatma dan Buşra aku dipercaya menjadi pembimbing sementara. Hanya sebentar. Sekitar satu minggu namun dari sanalah awal pertemanan kami. Jujur saja. Buşra tidak menguasai Bahasa Inggris lancar terlebih Bahasa Arab. Komunikasi kami terjalan dengan banyak isyarat dan bantuan dari Google Translate.
Semalam kami kedatangan dan berkenalan dengan tiga orang pembimbing. Layla, Zainab dan Betul. Salah seorang bisa sedikit Bahasa Arab, yang lain lumayan Bahasa Inggris dan satunya lagi tidak bisa Bahasa Arab dan Inggris sama sekali. Baiklah. Sepertinya komunikasi dengan Buşra dulu harus terulang lagi.
Tak jadi masalah. Bagiku ada yang namanya Bahasa Dunia. Bukan Bahasa Inggris yang kata orang sebagai Bahasa internasional. Ada sebuah anonim, “Miskin sekali orang yang tidak bisa Bahasa Inggris. Tidak mengenal dunia. Namun lebih miskin lagi orang yang tidak bisa Bahasa Arab. Tidak mengenal Allah dan Qur’an.”
Banyak sekali bahasa yang tidak perlu kita bahasakan dan tuliskan. Hari ini menjadi hari awal untuk mempelajari Rasail Nur. Aku mendapatkan sebuah kata menarik. Bahasa Makna.
Dalam bab tentang Al-Qur’an dijelaskan. Al-Qur’an untuk menafsirkan kejadian alam. Begitu pula kejadian alam untuk menafsirkan Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kitab dan dalil yang dibaca. Sementara kejadian alam terbaca dengan bahasa maknawi. Tidak perlu tertuliskan dengan Bahasa Arab laa ilaha illa Allah di awan. Melihatnya saja kita tahu bahwa memang laa ilaha illa Allah dengan tanda-tanda alam.
-di ruang tengah. Pukul satu waktu setempat



Leave a Reply

Powered by Blogger.