Suhu Istanbul perlahan mulai meningkat. Menurut teman kami, cuaca ekstrem sudah lewat sejak seminggu lalu. Kami datang di waktu yang pas. Namun tentu saja bagi kami yang orang tropis 7 derajat adalah sesuatu.
Kemarin pula menjadi hari pertama kami untuk mempelajari secara intensif Rasail Nur Badiuzzaman Said Nursi. Salah seorang guruku pernah berkata begini saat kuliah, “Bila kamu ingin mencari ilmu, datanglah pada guru gurumu. Semakin dekat dari sumber ilmu, maka ilmu yang didapatkan akan semakin mantap.”
Beberapa kali aku membaca Rasail Nur yang sudah dibukukan tematik. A Guide for Youth dan Rahasia Kenikmatan Ibadah. Pemahaman yang kumiliki hanyalah sebatas pemahaman derajat mahasiswa. Namun setelah kemarin menerima penjelasan dari Ustadz Ihsan Qasim, beliau adalah seorang Irak yang telah menerjemahkan Rasail Nur ke Bahasa Arab, baru terbukalah ilmu yang kubaca dulu.
Tulisan kali ini dan mungkin sampai ke beberapa tulisan selanjutnya tidak sepenuhnya refleksiku. Ada beberapa tulisan yang menjadi hasil review dari pelajaran yang kuambil.
Kelas kemarin lumayan berat. Kami mulai pada pukul 9 yang seharusnya pukul 10. Break sebentar untuk tea time. Kemudian lanjut hingga waktu shalat Dzuhur dan makan siang. Diteruskan pukul dua hingga shalat Ashar. Dan diteruskan kembali hingga pukul empat.
Di bab pertama beberapa dari kami ada yang menangis. Bayangkan. Dari kata Bismillah saja kita sudah dapat penjelasan yang sangat banyak. Hal yang kita anggap remeh dan sepele.
Ustadz Ihsan mengibaratkan, dua lelaki yang ingin ke luar negeri. Yang satu memiliki passport dan yang satu lagi tidak memilii passport. Lelaki yang pertama akan merasa tenang selama perjalanan. Karena ia dilindungi oleh Negara. Sedangkan yang kedua akan selalu merasa cemas dan khawatir.
Penjelasan yang lebih ringannya seperti ini. Saat seorang polisi memerintahkan sesuatu, yang kita takuti dan turuti adalah kedudukan dia sebagai polisi. Bukan orangnya. Kalau penjelasan secara Gontory-nya kita takut akan Bagian Keamanan karena posisi ia sebagai Bagian Keamanan. Bukan karena dirinya. Dirinya sendiri sebelum menjadi Bagian Keamanan adalah pribadi yang biasa saja. Bahkan beberapa temanku yang menjadi Bagian Keamanan adalah tipikal orang yang tidak bisa marah dan tidak ditakuti. Namun saat ia sudah dilantik menjadi Bagian Keamanan, haybah seorang Bagian Keamanan datang padanya dan ia melakukan pekerjaan serta menegur santriwati dalam posisinya. Kalau bahasa pondoknya yahanu.
Apalagi jika kita melakukan banyak hal dengan memulai Bismillah. Dzat yang Maha dari segala Maha. Keren dan hebatnya pekerjaan tersebut.
Kita semua ini adalah individu yang sangat miskin, lemah dan tak punya kendali. Namun bolehlah kita yahanu menggunakan Nama yang memiliki kekuatan tanpa batas untuk melakukan sesuatu. Bismillah. Agar di dalamnya terdapat DZKR, ILMU dan SYUKUR.
Memulai segala hal dengan Bismillahdan diakhiri dengan Alhamdulillah. Diantara itu kita berfikir. Sebelum minum kita memulai dengan Bismillah, saat minum kita berfikir kemudian mengetahui bahwa yang menciptakan air (bahkan air sendiri juga dengan Bismillah menurut lisan halnya) hingga mendapatkan pemahaman yang lebih sempurna untuk mencapai syukur saat kita akan mengakhiri dengan Alhamdulillah.
Semua makhluk dan kejadian alam tentu saja dengan Bismillah. Air Bismillah. Ada untuk melepaskan dahaga kita. Pohon ada dengan Bismillah membuat kerindangan dan datang bersamanya buah-buahan yang dapat kita ambil menfaatnya. Bahkan sesuatu, hal, keadaan serta kondisi baik positif maupun negatif juga mengandung Bismillah.
Aaah... betapa sangat dangkalnya pemahaman kita sebelum ini. Aku setuju sekali dengan perkataan: jangan berhenti untuk belajar Islam meski kita tidak terlahir Islam. Maka masuklah Fakultas Ushuluddin.


Leave a Reply

Powered by Blogger.