Seperti biasa, setiap malam kami akan membahas kembali apa yang sudah kami bahas dari pagi hingga sore atau sharing dengan pembimbing kami, Ustadz Kholid Muslih. Semalam kami kedatangan ketua IKPM Turki, Nur Kholiq. Alumni 2009 yang kini menjadi mahasiswa akhir Istanbul University. Ditemani jeruk dan apel sisa tadi sore kami berbincang.
Sebelumnya kami sedang membahas keistimewaan thulabu an-Nur yang ditemukan oleh Ustadz Ihsan Qasim sebelum ia menerjemahkan Rasail nur ke Bahasa Arab. Yang kemudian disangkut pautkan dengan penilaian orang-orang terhadap anak Gontor. Dilempar dimana saja akan dinamis. Bergerak lagi menggerakkan. Hal itu juga yang akan dijelaskan oleh Ustadz Nur Kholiq nanti tentang alumni Gontor di Turki.
Namun yang paling aku simpan dalam folder otak adalah tentang sejarah Turki dan tipikal orang Turki itu sendiri. Bagian tentang beasiswa dan kuliah aku sudah tidak konsen karena sudah mempunyai idealisme sendiri yang tak perlu kita bahas disini.
Orang Turki mirip tidak mirip dengan orang Arab. Tipikal keras yang lebih ramah. Namun tetnu saja keramahan itu masih jauh dengan orang Indonesia (yang katanya) santun. Yang sudah aku rasakan adalah orang Turki suka menolong dan murah hati. Dan tentu saja mereka adalah bangsa yang memiliki nasionalisme tinggi. Hal ini ternyata sudah dipupuk sedari kecil dengan mengatakan pada diri sendiri bahwa ia adalah bangsa Turki, ia bahagia dan bangga. Maka sulit sekali kultur asing bisa masuk ke negara ini. Tak seperti Indonesia yang terlalu permisif hingga hilang jati diri. Ternyata hal ini berpengaruh sekali ke bahasa. Mereka sangat bangga dengan bahasanya hingga merasa tak perlu belajar bahasa asing. Untuk apa? Bahasa Turki saja sudah keren, ngapain belajar bahasa lain? Itu mungkin kalau aku bahasakan.
Bahkan Ustadz Nur Kholiq memberikan bocoran bahwa orang Turki suka dengan orang Indonesia dengan kulitnya yang sawo matang dan hidungnya yang pesek. Sudah banyak juga orang Indonesia yang menikah dengan orang Turki. Hal ini yang membuat teman-temanku dapat berbesar hati. Beda sekali dengan penilaian kita yang sering kali tidak mensyukuri apa yang dimiliki.
Beliau sangat mempromosikan untuk melanjutkan studi di Turki. Karena menurutnya medan jihad serta lahan ibadah yang dimiliki lebih besar dan luas. Setelah enam puluh tahun tidak diperbolehkan menggunakan bahasa Arab dan hanya menggunakan bahasa Turki dengan tulisan latin membuat Muslim di Turki susah untuk belajar Islam dengan baik kembali. Jangan harapkan ada TPA di tiap masjid meski banyak sekali.
Turki sudah menjadi negara Eropa yang masih bercorak ketimuran. Tentu dengan sejarahnya yang panjang ia memiliki banyak sekali corak keyakinan. Sekuler, Muslim, Yahudi, Nasrani, Syi’ah, Alawiyah dan lain-lain. Ini unik. Sebagai negara mayoritas Muslim, clash yang dimiliki Indonesia antar umat beragama sangat tinggi. Jangankan antar agama, sesama Muslim saja masih banyak clash dengan fanatisme golongan masing-masing.
Semester lalu dalam mata kuliah Filsafat Agama, dosenku pernah berkata bahwa Muslim di Amerika tidak pernah ribut. Karena sesama Muslim tidak pernah atau merasa perlu menanyakan, “Kamu Islam yang mana?”.
Perbedaan adalah sesuatu yang tidak bisa dipungkiri lagi. Ia adalah keniscayaan yang justru menjadi rahmat. Ini topik yang selalu sensitif dibahas. Pluralitas yes, pluralisme no. Dari bangsa lain kita bisa mengaca diri. Menghormati orang lain dan toleransi tinggi tentu perlu dalam ranah sosial. Namun kita jangan sampai hilang jati diri dengan goyah terhadap keyakinan atau idealisme. 


Leave a Reply

Powered by Blogger.