Kurun dua hari saja aku sudah dapat melihat bahkan memasuki 3 masjid. Yang paling dekat dengan tempat kami adalah masjid yang sering kami pakai untuk shalat berjama’ah. Aku lupa namanya. Almuhim bahasa Turki. Tak jauh ada masjid Sulaiman dan masjid Fatih yang bisa ditempuh dengan jalan kaki. Jarak tiap masjid lumayan berdekatan dengan arsitektur yang tentunya menawan. Bahkan menurut penjelasan Ustadz Nur Kholiq kemarin, terdapat 6000 masjid di Istanbul. Itu baru satu kota. Bagaimana yang lainnya?
Saat shalat Maghrib di masjid Fatih lusa lalu aku sangat takjub. Jama’ahnya sedikit sekali. Dengan masjid berkapasitas besar seperti itu ia hanya didatangi sekitar 5 sampai 7 shaf laki-laki. Mungkin karena hawa dingin. Namun shalat Jum’at juga masih tidak penuh. Mungkin karena masjidnya yang banyak hingga jama’ah terbagi-bagi di tiap masjid.
Di Indonesia Alhamdulillah masyarakat masih sadar berjama’ah. Meski yang sering kulihat adalah kaum tua. Terutama Subuh. Aku diapit oleh nenek-nenek yang ternyata depan dan belakang juga para nenek.
Banyak sekali kita dapatkan orang-orang yang meminta sumbangan untuk pendirian masjid dengan berbagai cara. Kalau di bis akan ada satu orang yang muqaddimah di depan. “Kami dari yayasan ini minta sumbangan ini untuk pendirian masjid di tempat ini”. Ada juga yang membagikan edaran di rumah-rumah. Atau yang paling ekstrem, orang-orang yang nongkrong di tengah jalan sambil bawa jaring ikan. Masih menemukan nggak?
Suka seklai dengan komik islami d-vjanggoten. Dalam salah satu bukunya ada yang membahas fenomena sumbangan masjid. Fakta. Banyak sekali masjid yang ada di Indonesia. Mendirikannya berarti kita sedang mendirikan fondasi di surga. Betul. Tapi jika ada dananya. Bila harus dengan cara meminta seperti contoh di atas, kemudian masjid didirikan atas dasar dana yang ditunggu sekian lama dengan jaring, lalu saat didirikan ternyata tak menghasilkan jama’ah. Hal yang paling mubadzir adalah waktu yang tersia-siakan untuk menunggu uang di jalan. Kalau saja ia menggunakan jaring tersebut untuk menangkap ikan sungguhan. Kemudian satu hari dapat sekian. Dikumpulkan. Maka tak ada yang sia-sia. Namun aku malah pernah mendengar bahwa penghasilan pengemis itu lebih besar dari penghasilan orang-orang yang bekerja dengan upah minimum.
Balik lagi ke fenomena masjid yang akan kusambungkan dengan tulisan Super Bismillah kemarin.
Bila dipanggil oleh atasan tentu kita akan datang secepat mungkin. Apalagi bila atasannya memiliki posisi yang tinggi dan akan memberikan bonus. Akan lebih cepat lagi menghadapnya. Namun bagaimana bila kita dipanggil oleh Tuhan tiap lima waktu yang bahkan akan memberikan kita hal melebihi bonus berupa materi? Allah itu tentu memiliki posisi yang melebihi sangaaaaaaat jauh dari atasan kita. Kenapa tak tersegerakan? Kenapa pula tak tergiur dengan pahala, kedekatan, waktu untuk curhat eksklusif, berdoa dan hal lainnya?
Uusiikum wa iyyaya nafsii bitaqwallah.


Leave a Reply

Powered by Blogger.