Sudah lama juga tidak menulis. Kini aku sedang berada di Doha untuk transit sebelum bertolak ke Istanbul satu jam lagi. Jujur saja, ini adalah perjalanan paling panjang dan melelahkan serta menjadi perjalanan internasionalku yang pertama. banyak sekali hal yang terjadi dalam kurun waktu dua hari tiga malam ini.

Kenapa bisa kesana? 
Jawaban jujur pertamaku tentu saja karena kesempatan, kemudian Allah mendengar doa dan memudahkan jalan menujunya. 

Kemudian pertanyaan lagi. Kenapa harus ditulis?
Dari semua wejangan standar seperti, "Jangan lupa makan." "Jaga kesehatan.", Ayahku memberikan pesan, "Jangan lupa tulisannya.". Bilang saja aku mentaati pesan Ayah. Sebut saja aku ingin merekam jejak. Setidaknya bila aku mati nanti akan ada yang diingat tentang seorang Dhita Ayomi.

Memang. Dalam perjalanan selalu ada pelajaran. Kata dosenku, perjalanan pula yang membentuk diri kita. Seperti halnya Nabi Muhammad yang sudah diprogram oleh Allah untuk mengadakan perjalanan panjang menuju Syam sejak kecil ditambah perjalanan penting Isra' Mi'raj. Perjalanan pula yang membuat kita lebih mengenali teman lebih dalam. Perjalanan juga yang akan menunjukkan diri kita yang sebenarnya.

Banyak sekali yang perlu kutulis. Namun karena katanya mahasiswi Ushuluddin itu harus sistematis, maka tulisan ini aku buat per bagian. Aku tentu tak akan menulis bagaimana runtut perjalanan ini bagaimana dari jam ke jam. Payah sekali aku dalam bercerita. Tulisan selanjutnya akan berupa refleksi diri selama perjalanan. Sama seperti tulisan-tulisan sebelumnya.


Leave a Reply

Powered by Blogger.