02.40 AM waktu setempat

Hawa Istanbul masih dingin (tentu saja). Beberapa saat sebelum landing, matahari bersinar sangat cerah. Bahkan saat sudah turun di airport pun hawa masih terasa standar bagi kami. Sekeluarnya dari airport yang kami rasakan adalah hawa sejuk. Mungkin efek dari rasa gerah dan lelah sebelumnya. Namun lama kelamaan rasa dingin mulai nyata. Kalau ingin mengambil istilah pondok, hal yang kami alami ini adalah seperti kera memakan manggis. Kalau bahasa harian, akan kami katakan nggak usah komen sebelum merasakan betul.
Di salah satu segmen acara travel, salah seorang pemuda Bandung mengatakan, “Bandung itu bukan noun, tapi verb. Jadi, kamu Bandung banget.”
Sudah lama aku berfikir, bahwa Gontor bukan hanya sebagai nama tempat dan almameter. Tapi juga menjelma sebagai kata sifat dan kata kerja. Ente Gontor jiddan. Bukan hanya saat makan tajammu’, namun saat diri benar-benar tersifati oleh keikhlasan, kesederhanaan, mandiri, ukhuwah islamiyah dan berfikir bebas. Itu adalah panca jiwa yang pondok miliki. Mengutip kata guru kami, pondok bukan karena bangunannya, tapi karena orang yang ada di dalamnya. Gontor bukan berarti gedung Rabithoh yang empat tingkat atau gedung Mesir yang megah, tapi karena guru, murid, bahkan para pekerja di dalamnya.
Seperti yang kukatakan lalu, aku bertemu dengan istri dari salah seorang Badan Wakaf di bandara Jogja. Actually, Gontor is everywhere. Bagaimana beliau bercerita tentang pondok beserta kondisinya dan para alumni-alumninya. Saat itu aku merasakan, Gontor itu connecting people. Tak peduli siapa kamu dan dari mana kamu berasal, asal sesama Gontor kita akan terpaut dengan satu rasa. Kita pernah merasakan hal yang sama. Itu salah satu sifat yang bisa dikatakan kemudian Gontor jiddan.  
Banyak sekali hal yang kita lakukan di pondok dan ternyata berefek pengaplikasiannya di luar. Dari hal kecil hingga besar. Namun banyak juga orang-orang yang masih berada di pondok tak paham hingga mengeluh. Tahun lalu ada salah seorang santri yang mengaku malu bila ketahuan ia anak pondok apalagi Gontor karena anggapan khalayak umum tentang Gontor sangat besar. Bahkan kelewat besar. Aku sendiri ingat bagaimana cerita para alumni yang sudah di luar. Malu mengaku berarti kita belum tersifati sifat Gontor. Anggapan orang yang besar itu juga standar bagaimana seharusnya kita berlaku.
Jadi apa kita sudah Gontor jiddan?


Leave a Reply

Powered by Blogger.