Ayah kemarin lalu menanyakan, “Kok nggak pernah nulis lagi di blog?”
Ternyata sudah dua mingguan aku tak posting apapun. Blog memang menjadi salah satu sarana bagaimana ayah mengikuti perkembangan tulisanku. Karena ia adalah pembaca setia dari tulisan pertama saat kelas tiga SD hingga usiaku menginjak dua puluh.
Kali ini aku diberi kesemapatan menemani seorang tamu dari Amerika. Perempuan dua puluh sembilan tahun yang kukira muallaf dan ingin memantapkan keyakinan. Namun aku salah. Ia penulis. Lahir dalam keluarga Katolik something, menurutnya. Kemudian saat besar ia memilih atheis dan sudah melanglang buana di Indonesia selama lebih dari lima minggu untuk mengetahui hakikat agama-agama dan umatnya di Indonesia. Pilihan tepat, pikirku. Karena beraneka agama dan sekte hampir ada semua di Indonesia.
Kedatangannya ke Gontor bukanlah suatu hal yang mulanya direncanakan. Ia sudah ke Bali dan Lombok untuk mempelajari Hindu, ke Jakarta untuk Buddha dan Islam. Menariknya saat ia di Jakarta, bukan hanya satu orang atau Muslim saja menyarankannya untuk ke pergi ke Gontor untuk mempelajari Islam. Bahkan orang Buddha pun berkata demikian. Semakin penasaran dan berangkatlah ia ke Gontor.
Ada semacam perasaan takut. Karena beberapa kali aku membaca twitter, blog dan tulisan dalam bentuk lainnya milik orang atheis, mereka selalu menjelek-jelekkan Islam bahkan agama lain. Namun, Maria namanya, sangat open minded dan menerima apa yang kami jabarkan. Karena dalam hatinya ia sedang bertanya-tanya dan mencari sebuah kebenaran. Atau paling tidak mengetahui apa yang seorang beragama rasakan.
Sebelum keberangkatannya ke Indonesia, ia sudah diperingatkan oleh teman-temannya. Bahwa Indonesia negeri yang tak aman terlebih umat Islam di sana banyak yang notabene, menurut mereka, adalah teroris. Namun ia tak menemukan hal tersebut selama lima minggu di Indonesia. Yang membuat ia merasa beruntung adalah pengalamannya yang sangat berharga dan mengetahui langsung apa yang temannya tak tahu tapi katakan. Baginilah Indonesia, beginilah Islam. Sama seperti kita yang menghakimi Amerika sebelah pihak. Beberapa alasan mengapa Muslim dikucilkan karena mereka menarik diri dari masyarakat. Umat Islam kebanyakan adalah imigran dari negara Asia dan Timur Tengah. Karena perasaan awal takut hingga membuat komunitas sendiri tanpa berbaur pada masyarakat yang lain. Padahal, menurutnya, kamu mau melakukan apapun, beragama apapun, selama itu bukan tindakan kriminal, lakukan saja. Tidak semua umat Islam memilih untuk menjadi ekstrimis dan tidak semua orang Amerika memilih untuk menjadi anti-Islam. Tapi ya lumayan banyak juga. Hehehe...
Banyak dialog yang sudah kami lakukan dan bicarakan. Dari seputar kebebasan, hijab, peran wanita, ekstrimis, terorisme, pandangan Amerika tentang Islam dan sebaliknya. Mungkin ini ujian sebagai muslim pada umumya dan sebagai mahasiswa Ushuluddin pada khususnya. Seringkali aku membuka memori materi kuliah dan tidak jarang harus memakai logika serta nalar yang (sepertinya) benar meski dengan Bahasa Inggris yang pas-pasan. Orang seperti Maria tidak akan mau menerima jawaban bahwa semua itu perintah dari Allah. Butuh jawaban rasional dan masuk akal.
Refleksi yang kuambil dari dua hari ini malah tentang penguatan iman. Meski kita terlahir Muslim namun bukan berarti tidak belajar Islam. Kalau bahasa dosenku, dari ilmu menimbulkan keyakinan yang benar dan menghasilkan amal yang benar pula. Itulah mengapa Imam Ghazali menitikberatkan ilmu dalam buku fenomenalnya al-Ihya’. Karena dari ilmu kita mengetahui yang benar dan bathil.
Dalam salah satu pertanyaannya tentang bagaimana iman kita bisa bertambah saat kita semakin dewasa terlebih setelah masuk Gontor, aku menjawab bahwa saat kecil aku hanya mengikuti apa yang orang tuaku katakan. Untuk shalat, mengaji, berdoa dan puasa. Namun semakin dewasa dan ilmu bertambah, keyakinan yang dimiliki bukan karena suruhan atau Islam warisan. Seperti bertambah baiknya daya berikir kita, seperti itu pulalah iman yang sudah diberi infus pengetahuan dan pengalaman. Shalat bukan lagi tentang kewajiban, tapi di samping itu ada perasaan butuh yang menghubungkan secara langsung kepada Sang Pencipta.
Siang tadi ia pergi. Lewat bandara Yogyakarta ia bertolak ke Jakarta untuk beberapa hari sebelum kembali ke New York. Kami sudah melakukan dakwah sebisa ilmu yang kami miliki. Bisa jadi kurang, aku malah khawatir salah penjelasan. Ia pun menyadari diri. Bahwa ia tahu kalau yang kami katakan adalah benar. Namun masih belum bisa mengatakan bahwa itu adalah benar. Apalagi yang bisa kami lakukan? Selain tawakkal kepada Allah setelah usaha yang kami berikan. Semoga Allah memberikan hidayah padanya agar mendapatkan jalan yang ia cari.
Yang baik belum tentu benar dan yang benar sudah tentu baik.
Uusiikum wa iyyaya nafsii bitaqwallah.

Rabu, 11 Februari 2015
Kantor Data- Lab. Komputer gedung Mesir
21.00


Leave a Reply

Powered by Blogger.