Kemarin lalu saat Girl’s Talk di hari hujan, kami saling bertanya tentang kehidupan pribadi masing-masing. Dari orang tua, saudara, hingga urusan cinta. Salah seorang teman bertanya padaku. Apa aku pernah tertarik dengan seseorang? Karena sejauh ini aku terlihat sebagai orang yang lurus dan tak pernah ketahuan sedang ada rasa, bahkan affair dengan seseorang. Karena, kata temanku, bila tidak sama sekali itu gawat.
Aku tak dapat menjawab langsung. Di umur dua puluhan begini siapa pula yang tak pernah tertarik dengan lawan jenis? Namun tak perlu ditindaklanjuti, bukan? Karena urusan rasa bisa kita simpan. Dan kalau mau bisa juga kita musnahkan. Tapi untuk urusan dengan langit dan janji-janji untuk melakukan apayang Ia minta dan menjauhi apa yang Ia larang sudah barang tentu menjadi urusan yang lebih penting daripada sekedar rasa.
Saat question of life, kegiatan tak ada kerjaan karena hujan maupun mati lampu, kemarin juga menghadirkan pertanyaan yang agak serempet sama. “Kuliah S2 atau menikah?” pertanyaan ini diajukan kepada semua pihak yan ada di kamar. Setelah sebelumnya pertanyaan aneh seperti “bakso atau cilok?”, “Nggak bisa tidur atau nggak bisa makan?” dan lainnya.
Mayoritas temanku menjawab menikah. Karena pamali katanya menolak jodoh kalau sudah jelas kesholehannya. Namun aku menjawab untuk melanjutkan S2 yang diiringi dengan kehebohan reaksi teman-temanku. Bagi mereka aku terlalu idealis. Justru itulah yang kadng kutakutkan. Kita tak pernah tahu takir Tuhan, bukan? Namun bila bisa memilih tentu aku akan melanjutkan S2. Selain karena aku memiliki mimpi bagi agama, negara dan diriku sendiri, juga karena faktor bahwa menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban bagi tiap Muslim. Menjadi seorang istri a.k.a juga akan menjadi seorang ibu, tak cukup hanya dengan kemauan saja. Namun juga harus menjadi orang yang pintar.
Aaah... entahlah. Diskusi ini sepertinya masih akan terus berlanjut panjang. Kata ibu dan ayahku, lakukan terlebih dahulu apa yang ada di depan mata sembari merajut masa depan. Aku pun yakin. Karena hidup kita ini akan menentukan esok hari.
Maka karena apa yang ada di depan mata adalah setumpuk tugas, amanah dan kewajiban, mari singkirkan sejenak banyak hal yang dirasa tidak memiliki manfaat. Negosiasi pada diri sendiri tak ada salahnya juga.


Leave a Reply

Powered by Blogger.