Hidup di dunia itu abstrak. Aku mengatakannya ini sebuah drama. Tiap orang punya skenario dan menjalankan perannya masing-masing.
Akhir-akhir ini di sekitarku sedang panas tentang siapa yang lebih baik dari siapa. Beberapa merasa dirinya lebih baik, kemudian memandang sebelah mata apa yang berlawanan dengannya.
Teman yang kini sudah di luar beberapa akan bilang bahwa hidupnya lebih baik karena tak terkekang dan bisa mengembangkan diri dengan apa yang dimau. Sementara teman yang masih di pondok akan berkata bahwa hidupnya lebih baik karena masih terjaga, membentuk diri bersama idealisme Gontor dan dapat beramal lebih banyak.
Teman yang menjadi mahasiswa murni tentu akan merasa lebih baik karena dapat kuliah dan melakukan aktivitas selayaknya mahasiswa normal lainnya. Sehingga di beberapa event terkesan memandang rendah posisi guru. Sementara mahasiswa yang notabene juga guru akan mengatakan bahwa waktunya diserahkan untuk mengabdi pada pondok. Mendidik generasi Islam selanjutnya. Namun di beberapa kesempatan meninggalkan kewajiban sebagai mahasiswa untuk menuntut ilmu.
Laki-laki akan selalu merasa lebih baik dari perempuan karena penggunaan akalnya lebih banyak daripada hati. Sehingga kadang kala memandang rendah perempuan dengan kemampuannya. Perempuan pun tidak akan mau merasa kalah dengan laki-laki. Meski menggunakan hati lebih dari akal, namun perempuan juga terkadang memandang bahwa meski kalah mereka lebih baik.
Apalagi kalau di-compare dengan RAS. Tak akan ada habisnya.
Namun yang menjadi persoalan adalah siapa yang lebih baik dari siapa? Allah sendiri memberikan kadar kepada tiap umat-Nya pas dengan apa yang akan dihadapi dalam kehidupannya. Sehingga sesuatu yang menurutnya baik, itu karena keadaan membuatnya terlihat seperti itu. Kalau kita mau memandang dengan kaca mata lawan, maka habislah segala keegoisan. Malah bisa jadi kita melihat diri sendiri menjadi lebih rendah dan tak ada apa-apanya.
Bukan berarti kita baik dengan model satu maka penilaian baik harus seperti apa yang kita miliki. Sehingga bila tidak, maka akan dianggap tak baik atau rendah. Hal ini bukan disebut toleransi dalam kamusku. Namun tenggang rasa dan tak menghakimi. Perasaan selalu menjadi lebih baik dari yang lain sebenarnya oke-oke saja untuk menimbulkan kebanggaan dalam diri dan bekerja. Yang jadi masalah adalah memandang rendah bahkan merendahkan orang lain. Itu saja.
Jadi sebenarnya siapa yang lebih baik?


Leave a Reply

Powered by Blogger.