Bahwa memang hidup itu tentang menerima. Menerima kepastian bahkan ketidakpastian.
Bahwa memang hidup juga tentang proses. Proses menjadi seperti apa yang hidup tentukan atau kita yang menentukan hidup tersebut.
Aku termangu kembali dengan apa yang sudah terjadi selama satu tahun terakhir. Baik yang terjadi pada diriku maupun pada orang-orang yang ada di sekitarku. Kali ini aku lebih banyak membuka mata, diri dan hati. Karena ternyata hidup bukan tentang ceritaku saja. Namun juga cerita banyak orang yang alih-alih hanya kudengarkan kemudian menjadi pelajaran bahkan bagi diriku sendiri. Untuk mengetahui dan mencapai proses pada titik ini saja aku harus melalui bertahun-tahun menjadi seorang angin bahkan batu.
Bentuk proses hidupku yang seperti ini tentu menyisakan banyak penyesalan di masa lalu. aku berhak untuk menyesal. Namun segala penyesalan itu hanya boleh menjadi sebuah pelajaran penting, bukan sebuah ratapan. Proses hidup orang lain bisa jadi lebih mudah atau malah lebih berat dariku. Itulah proses dengan ukuran kadar masing-masing yang sudah Allah tetapkan.
Aku (harus) bahagia dengan hidupku seperti ini. Dengan catatan bahwa hidup yang kadang tak mudah (atau malah aku yang menyulitkan) ini harus bisa bermanfaat bagi orang lain. khairunnasi anfa’uhum linnasi.





Mungkin memang benar bahwa selamanya manusia tidak akan pernah sempurna. Tapi Dr. Kholid dalam pembukaan kuliah kemarin mengatakan bahwa kita bisa menuju kesempurnaan dengan dua hal, yaitu ilmu dan ruh. Ilmu yang lazim kita cari karena Allah meninggikan derajat hamba-Nya dengan hal tersebut. Kemudian ruh yang menyala dengan iman serta kebaikan. Bila jadinya demikian, paling tidak kita menjadi pribadi yang lebih baik karena dijaga dan menjaga dua hal penting di atas. Itu proses.
Pada kenyataannya memang tidak ada manusia yang sangat sempurna baik dari segi keilmuan dan ruhnya. Ujung-ujungnya kita akan menemukan kesalahan dan kekurangan. Namun sayang, ada juga sebagian dari kita yang malah suka memandang sedikitnya kekurangan daripada banyaknya kelebihan. Itu yang dulu kita pelajari di kelas enam sebagai at-thab’u as-sakhith.
Proses berubah menjadi lebih baik itu tidak mudah. Dibutuhkan istiqamah dan semangat tanpa batas. Setidaknya bila kita sudah lebih baik daripada pribadi kita yang dulu, gangguan serta tantangan bukan hanya datang dari diri sendiri yang seringkali ingin mengajak kita kembali ke masa lalu yang lebih mudah. Namun juga dari dari orang lain yang tak suka dengan sebuah perubahan. Kemarin lalu muridku bilang, orang seperti itu adalah orang-orang yang sebenarnya iri karena tidak bisa melakukan apa yang kita lakukan. Atau setidaknya pencapaian.
Hal-hal seperti di atas akan selalu ada. Ustadz Suharto selalu mengingatkan, ghayatu an-nas la tudrak. Kita menjadi lebih baik untuk siapa sih sebenarnya? Agar lebih baik di mata Allah dan baik untuk diri sendiri yang berefek baik juga untuk orang lain. Bukan agar ‘kelihatan’ baik di depan orang sehingga kita menjadi boneka atas apa yang orang lain inginkan. Ada saatnya kita mendengarkan. Selama itu untuk kebaikan. Namun bila komentar yang malah menjatuhkan dan menghalangi niat baik kita (entah di depan atau di belakang), tutup telinga rapat-rapat agar tidak menganggu istiqamah kita pada kebaikan.
Bahkan banyak lho orang yang merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Saya menulis ini pada akhirnya akan ada komentar, kamu sudah sejauh baik apa? Tidak. Saya menulis bukan karena saya orang baik, namun karena saya juga ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Ini hanya sebuah renungan yang alih-alih semoga bisa menjadi hasil. Ini sebuah harapan. Untuk saya dan orang lain yang sedang berproses.
Uusiikum wa iiyaya nafsii bitaqwallah...



“Siapa saja yang dikehendaki oleh Allah menjadi orang baik, maka akan diberikan cobaan” (HR. Bukhari)
Menjadi lebih baik seperti yang saya tulis kemarin memang mudah-mudah susah. Susahnya banyak sebenarnya. Maka kondisi yang saya alami kini mungkin termasuk salah satu cobaan seperti hadits yang diriwayatkan Bukhari di atas.
Dengan tekanan seperti ini, bisa jadi saya menginginkan untuk kembali menjadi orang yang biasa saja. Tak perlu melakukan perubahan dan bertahan di zona aman dan nyaman. Namun beberapa orang yang sudah saya curhatkan perihal masalah ini sepakat bahwa saya harus bertahan.
Untuk istiqomah itu berat lagi banyak godaannya. Ini adalah sebuah tahap, bukan? Dan setiap tahap memang tidak mudah.
“Jangan resah andai ada yang membencimu, karena masih banyak yang mencintaimu di dunia. Tapi resahlah jika Allah membencimu, karena tiada lagi yang mencintaimu di akhirat”
-Imam al-Ghazali-



Malu juga untuk mengakui bahwa judul skripsi saya sudah disetujui sejak semester enam lalu dan seminar proposal kedua di fakultas. Namun hingga hampir akhir semester delapan pun, baru kini saya move on untuk fokus dalam mengerjakan skripsi. Memang benar kata rektor saya itu. Skripsi bukan lama mengerjakannya, tapi lama tidak mengerjakannya.
Di tahun ini memang tanggung jawab yang saya miliki lumayan banyak dan besar. Menjadi pembimbing kelas enam yang katanya ‘cetar’, menjadi ketua bagian di DEMA, dan beberapa tanggung jawab pondok lainnya yang memang selalu menunggu untuk diselesaikan. Namun rupanya apa yang saya lakukan beberapa bulan lalu adalah kesalahan. Memang benar pepatah orang-orang pejuang pondok bahwa bila kita menolong pondok, maka Allah akan menolong kita. Permasalahannya adalah, apa yang sudah kita lakukan untuk diri kita sendiri sehingga Allah sudi menolong kita? Dulu sekali, petuah ini sering diingatkan oleh guru-guru kami. Mengabdi pada pondok 100 persen. Kuliah 100 persen. Mengajar pun 100 persen. Sehingga tidak pernah ada istilah tumpang tindih di semua pekerjaan. Hal yang ternyata baru bisa benar-benar saya praktekan di tahun kesepuluh saya berproses di tempat ini! Mengambil istilah angkatan, professional, maximalist, excellent.
Target tak akan terselesaikan bila hanya sampai pada batasan angan-angan saja. Ayah saya berpesan dalam emailnya minggu lalu. Waktu tak pernah menunggu kita. Pekerjaan akan selalu ada, tinggal bagaimana tiap pribadi itu dapat membagi waktu untuk seratus persen dirinya mengerjakan semua hal. Mustahil memang. Tapi beginilah kami berproses.
Saat ini saya masih perbaikan bab 2 dan waktu seringkali meninggalkan di saat saya berhenti. April benar-benar harus selesai dengan baik. Ada janji masa depan di ujung sana. Saya sedang berlari.


Powered by Blogger.