Malu juga untuk mengakui bahwa judul skripsi saya sudah disetujui sejak semester enam lalu dan seminar proposal kedua di fakultas. Namun hingga hampir akhir semester delapan pun, baru kini saya move on untuk fokus dalam mengerjakan skripsi. Memang benar kata rektor saya itu. Skripsi bukan lama mengerjakannya, tapi lama tidak mengerjakannya.
Di tahun ini memang tanggung jawab yang saya miliki lumayan banyak dan besar. Menjadi pembimbing kelas enam yang katanya ‘cetar’, menjadi ketua bagian di DEMA, dan beberapa tanggung jawab pondok lainnya yang memang selalu menunggu untuk diselesaikan. Namun rupanya apa yang saya lakukan beberapa bulan lalu adalah kesalahan. Memang benar pepatah orang-orang pejuang pondok bahwa bila kita menolong pondok, maka Allah akan menolong kita. Permasalahannya adalah, apa yang sudah kita lakukan untuk diri kita sendiri sehingga Allah sudi menolong kita? Dulu sekali, petuah ini sering diingatkan oleh guru-guru kami. Mengabdi pada pondok 100 persen. Kuliah 100 persen. Mengajar pun 100 persen. Sehingga tidak pernah ada istilah tumpang tindih di semua pekerjaan. Hal yang ternyata baru bisa benar-benar saya praktekan di tahun kesepuluh saya berproses di tempat ini! Mengambil istilah angkatan, professional, maximalist, excellent.
Target tak akan terselesaikan bila hanya sampai pada batasan angan-angan saja. Ayah saya berpesan dalam emailnya minggu lalu. Waktu tak pernah menunggu kita. Pekerjaan akan selalu ada, tinggal bagaimana tiap pribadi itu dapat membagi waktu untuk seratus persen dirinya mengerjakan semua hal. Mustahil memang. Tapi beginilah kami berproses.
Saat ini saya masih perbaikan bab 2 dan waktu seringkali meninggalkan di saat saya berhenti. April benar-benar harus selesai dengan baik. Ada janji masa depan di ujung sana. Saya sedang berlari.


Leave a Reply

Powered by Blogger.