Obrolan orang-orang di sekitar saya setelah wisuda ini makin beragam. Obrolan masa depan yang menyangkut studi master ataupun menikah, obrolan masa kini perihal maksimalisasi di tahun terakhir pengabdian, ataupun obrolan abu-abu tentang hal atau orang yang tidak jelas keberadaannya. Beginilah efek sudah bebas tugas dan kosong dari keilmuan.

Saya sendiri sering diingatkan untuk ingat umur, terlebih sebagai anak perempuan yang paling sulung. Mungkin saya terlalu sibuk pada masa kini dan masa depan dengan mimpi-mimpi sehingga tak sempat untuk memikirkan hal yang abu-abu. Untuk apa pula memikirkan sesuatu yang tidak jelas? Meski mimpi dan masa depan yang sedang saya usahakan juga sebenarnya bukannya juga sudah jelas, tapi saya memiliki kejelasan untuk meraihnya. Hal abu-abu yang saya sebutkan di atas adalah hal yang tidak bisa memiliki kejelasan walau mungkin saat ini. Saya sedang menikmati belajar tentang kehidupan bersama kehidupan. 


Sembari keringkan rambut dan menunggu Maghrib
Selasa, 2 Agustus 2016

Aku terbiasa mengetik dengan mendengarkan lagu bervolume keras agar tak ada yang dapat mengganggu konsentrasi. Meski sebenarnya kadang aku pun ikut larut dengan lagu tersebut. Maka aku usahakan agar mengetik yang berpikir keras janganlah disamakan dengan mengetik kerja. Beda hal beda usaha, karena tingkat fokus yang dibutuhkan pun berbeda. Hal yang seharusnya dapat kujadikan acuan pula dalam melakukan banyak hal.
Aku memiliki mimpi yang besar. Mimpi yang hebat. Setelah kutelisik beberapa kegagalan yang pernah menimpa, sebenarnya kesalahan ada pada diriku yang tidak bisa fokus dan terlalu banyak berpikir. Beruntunglah aku memiliki teman yang selalu dapat menjadi sandaran dan penopang.
Aah... belik lagi saja ke poin peenunganku hari ini.
Menjadi seorang Muslim itu aneh-aneh susah. Saat ia diberikan cobaan, ia malah bahagia. Berarti Allah menyayanginya sehingga ingat masih mau memperhatikan tingkat ketakwaan hambaNya dengan memberikan cobaan. Menjadi Muslim juga harus berlevel tinggi. Dengan selalu upgrade program diri dan ibadah. Itulah mengapa hanya ditemukan di buku tasawuf perihal janib lain tentag shalat dari segi bathini, yaitu khusyu’. Bahwa shalat bukannya mengenai kewajiban yang harus dilaksanakan lima kali sehari dengan jungkir balik gerakannya. Namun ia sebagai dzikir, media untuk mengingat Allah, dan juga berdialog.

Kita coba, yaaa....


Senin, 1 Agustus 2016
Sembari menunggu selesainya gladi PBB kedua di kamar. Panas sangat menyengat.

Aku sepertinya hapal sekali begaimana rasanya waktu mampu membunuhku. Diam tanpa melakukan apapun. Terlebih menunggu. Maka tadi saat pemeriksaan RPS sejak jampel ketiga hingga keenam aku memutuskan untuk membawa buku tulis Istanbul yang selalu kubawa saat menjaga perpustakaan KMI dulu. Isinya adalah hasil bacaku yang lebih banyak mengenai petuah hidup. Aku ingat. Ada satu buku menarik yang belum selesai kubaca. Mukhtashar Ihya’ ‘Ulumuddin.
Di bab awal buku ini terdapat bab ilmu. Hal yang menurutku sangat menarik. Karena judul besar buku ini adalah tasawuf dan ilmu menjadi dasar dari segala hal, membuat Ihya’ bagiku adalah salah satu pedoman orang yang tak perlu lagi memikirkan dunia. berilmu-beragama-beramal.
Salah satu yang mengusik hatiku sebagai sarjana fakultas Ushuluddin, apalagi Aqidah, adalah bila semua ilmu yang kumiliki itu tak bisa kuamalkan. Bila saja tak dapat dengan baik kusebarkan, paling tidak sudah dapat aku aplikasikan dalam kehidupan. Mengenai bagaimana cara berpikir, berakhlak dan beragama,
Man izdada ‘ilman wa lam yazdad hudan lam yazdad mina Allah illa bu’dan.
Bukan hanya karena mahfudzat kelas satu dulu, ilmu tanpa amal layaknya pohon tanpa buah. Namun esensi lain yang baru kutemukan. Perintah untuk selalu tafaqquh fi al-din itulah yang menjadi kunci Muslimin untuk menjadi hamba yang selalu mengupgrade dan improve diri. Itulah mengapa Allah katakan bahwa Ia meninggikan derajat orang yang berilmu. Bukan hanya sekedar deretan angka ataupun huruf. Bukan sekedar bagaimana orang lain menganggap kita dengan ilmu yang dimiliki.

Aku masih harus memperbaiki diri.


Depan lemari Ami dengan lagu Kahitna “soulmate”
Ahad, Juli 31, 2016

Khatam sudah dua buku Supernova edisi Gelombang dan Intelegensi Embun Pagi yang berarti aku harus kembali stabil melakukan aktivitas. Beginilah kalau jadinya Dhita Ayomi dihadapkan dengan sebuah F5 dalam bentuk novel tebal ataupun film berepisode tingkat pegal. Nyatanya memang rasa penasaranku yang sangat besar itu tak bisa terbendungi.
Otak, hati dan ketajaman akan keduanya membutuhkan latihan. Bila sedari dulu yang kupunya adalah dengan mengajar dan kuliah untuk berlatih, maka setelah wisuda ini aku harus bisa lebih mandiri dalam mengkontrol semua hal tersebut. mau jadi apa aku ini?
Pekerjaanku tak lebih banyak dengan teman lain. paling tidak menulis dan membaca harus dapat menjadi sebuah rutinitas yang tak terelakkan. Bila tidak, hati dan otakku akan tumpul dan tak bisa lagi berpikir selayaknya sarjana filsafat Islam yang baik.
Tadi pagi iseng saja aku buka Lama’at milik Said Nursi. Hanya satu sub-bab, namun inti dari satu setengah halaman tersebut belum tentu bisa aku deskripsikan dengan baik. Yang bisa kutangkap adalah perihal derita Nabi Ayub dan kesulitan kita yang lebih membutuhkan istighfar. Apalah kita ini dibandingkan dengan sabarnya, ikhlasnya dan rahmatnya para Nabi. Namun mereka masih tetap beribadah dan beristighfar pada Allah. Lebih banyak pula.
Aaah... apalah aku ini. Masih juga menganggap diri ini lebih baik hingga sempat merendahkan orang lain. Hal yang sangat aku usahakan kini untuk kuhilangkan. Bukan juga untuk rendah diri tinggikan mutu seperti istilah Mase. Aku sadar bahwa aku, kita, sebagai manusia tak memiliki apapun yang dapat dibanggakan. Sangat kecil sehingga mungkin makhluk tak kasat mata akan mentertawai diri kita yang sok besar ini.

Setelah wisuda memang banyak sekali yang aku renungi. Hal yang akan aku tulis pada media lain. insya Allah akan kuniatkan untuk melanjutkan rutinitas ini setiap hari.


Powered by Blogger.