Kemarin lalu saya berkesempatan ke Gontor untuk menghadiri resepsi kesyukuran 90 tahun Gontor. Berangkat dari Mantingan sejak jam setengah tiga pagi dan kembali sampai di pondok pukul lima sore. Bagian paling lama memang menunggu. Tak ada keluh. Karena menunggu hal yang pasti itu tidak akan mengecewakan.
RI 1, Jokowi, berkesempatan hadir pada acara ini. Saya ingatkan bahwa tulisan ini bukanlah berita. Hanya sebuah tulisan refleksi dari sarjana pemikiran Islam yang kalau buat status Facebook saja masih direvisi oleh dosennya. Berita cukuplah di official website Gontor.
Saya melihat beberapa wartawan disana. Dalam hati saya membandingkan. Apa yang akan mereka tulis dan penulis berita website Gontor tulis? Kata ibuku yang notabene adalah seorang mama-mama gaul kekinian (beliau selalu update berita rentetan acara 90 tahun Gontor dan tak pernah absen menonton streaming di gontor tv walau bukan alumni), tulisan yang menyebar di media massa tentang acara tadi lebih pada berita mengenai pidato singkat Jokowi mengenai politik dan ekonomi Indonesia. Singkat saja mengenai Gontor dan rasa terima kasih beliau akan hadirnya Gontor di Indonesia. Oh ya, dan juga mengenai estafet nilai-nilai.
Teman-teman yang sudah streaming berkomentar bahwa mereka tak begitu memperhatikan apa yang presiden Indonesia ini katakan. Politik dan ekonomi bukan ranah besar kami untuk berjuang memang. Namun kenyataan bahwa RI 1 berada di Gontor tentunya menggembirakan. Bahwa orang nomor satu di Indonesia masih mengapresiasi keberadaan Gontor yang sudah berumur sembilan puluh tahun.
Saat sujud syukur yang dihadiri oleh wakil presiden, Jusuf Kalla, seorang teman mendapatkan banyak pelajaran yang ia tularkan pula pada yang lain. Saya mencatat dan merekam dalam otak segala hal yang ada. Memang tidak akan ada hal yang sia-sia. Namun paling tidak saya harus mendapatkan pelajaran lain dari hanya sekedar rasa bangga. Dalam bis perjalanan pulang saya menyadari satu hal.
Tema 90 tahun Gontor kali ini adalah mengestafetkan nilai-nilai perjuangan untuk kemuliaan umat dan bangsa. Hal yang selalu ditekankan oleh kiai kami bahwa sebelum hilang sudah berganti. Bukan hanya mewarisi namun juga mengestafetkan nilai-nilai. Kemudian di awal pidato presiden, beliau mengatakan bahwa nilai-nilai keislaman Indonesia yang santun, budi pekerti, identitas, harga diri sudah hilang. Bagaimana komentar yang saling mencaci dan memaki di media sosial ataupun media massa online bertebar bebas. Disinilah singkronisasi yang dimiliki Gontor dan Indonesia. Dengan jargon Gontor, “Dari Gontor untuk Indonesia”, menurut saya saat nilai-nilai Indonesia hilang dan justru Gontor sudah mengestafetkan nilai-nilainya berarti setiap individu anak Gontor memiliki tanggung jawab besar dalam menyebarkan nilai-nilai atau paling tidak mengembalikan nilai-nilai yang hilang dari Indonesia. Yang memiliki, menebarkan. Yang mendarah daging, meluaskan. Itulah mengapa kehadiran SDM yang berasal dari Gontor diperlukan untuk Indonesia.
Yang kami pelajari dari tempat yang kami sebut kampung nan damai ini bukan hanya sekedar huruf dan angka, namun juga nilai-nilai serta jiwa. Apa saja? Apapun yang kami dapatkan dalam bentuk teori dan bukti langsung dari orang-orang sebelum kami, atau bahkan teman dan adik kami.
Meski mendengar komentar beberapa alumni awal Gontor Putri yang mengatakan bahwa ada yang hilang dari pondok ini, namun tenang kakak. Kami sedang berupaya untuk mengembalikan sesuatu yang hilang itu. Saya dan beberapa teman lain kini berada di tahun terakhir pengabdian. Tahun depan mungkin kami yang akan berkomentar. Namun sebelum kami keluar nanti, kami niati untuk mengestafetkan apa yang pernah kami dapatkan dan kami rasakan. Kalau belum bisa menjadi lebih baik, paling tidak ya tidak menjadi lebih buruk. Saya dan beberapa teman terkenal tangguh untuk hal ini.

Pusat Data_16.56
Rabu, 20 September 2016
Sambil menyadari bahwa sepertinya saya masih masuk angin


Leave a Reply

Powered by Blogger.