Buku ini adalah buku kesepuluh Pak Cik Andrea Hirata. Banyak sekali  iklan di  semua toko buku, akun instagram dan beberapa media yang mengatakan bahwa buku ini akan hadir pada Agustus 2017. Spoiler yang ada, yaitu sehari sebelum dilirisnya, adalah sebuah video mengenai seorang badut yang menjelajahi sebuah daerah sambil menemukan buku-buku Andrea Hirata. Tak ada bayangan bahwa seorang badut akan menjadi tokoh utama dalam buku yang berjudul Sirkus Pohon ini.
Masih menggunakan setting tempat kelahirannya di Belitong, buku ini berfokus pada dua cerita. Pertama mengenai seorang lelaki paruh baya yang tak menyelesaikan pendidikan SMP karena drop out akibat olah seorang teman. Ia akhirnya menemukan cinta dan pekerjaan tetap berseragam yang memiliki lika-likunya. Kedua adalah cerita dua anak lima tahun yang saling bertemu di pengadilan agama untuk menemai ibu mereka. Dari pertemuan singkat karena si anak lelaki menolong anak perempuan  dari tiga anak lainnya tumbuhlah cinta yang susah sekali ditemukan. Tak sempat berkenalan, maka keduanya saling mencari dengan ingatan masing-masing. Kedua fokus ini tidak saling berhubungan, namun memiliki sedikit keterikatan, yaitu Sirkus Pohon.
Sobiri, nama tokoh dari cerita pertama, hidup bersama Ayah, adik bernama Azizah dan suaminya yang nyaris tak ada guna bernama Instalatur Listrik Suruhudin. Karena SMP saja tak tamat, sementara mayoritas pekerjaan menstandarkan minimum memiliki ijazah SMA atau sederajat, alhasil Sobiri hanya bisa kerja serabutan di pasar. Menurut Azizah, lelaki itu harus bekerja tetap dan berwibawa, memiliki jam kerja, seragam, pulpen di saku, gaji tetap per bulan, kalau demam dapat ongkos ke puskesmas, kerja pakai kemeja lengan panjang dimasukkan ke dalam dan pakai sepatu. Pada akhirnya Sobiri mendapat tawaran bekerja tetap sebagai badut di sebuah sirkus milik seorang perempuan yang ditinggalkan mantan suaminya. Good morning, let’s go! Menjadi slogan baru Sobiri. Ah, betapa banyak hal berharga yang tak bisa diukur dengan selembar ijazah. Ia adalah ikon manusia tak patah arang dan berusaha menuntaskan harapannya. Menikah.
Harapan Sobiri terus bertahan bersama sakitnya calon istri, Dinda. Segala cara sudah dilakukan hingga orang tuanya pun menyerah. Tapi Sobiri dengan segala kekurangan yang dimiliki gadis tersebut tetap bersiteguh untuk menemani bahkan menikah dengannya. Meski harus dilupakan dan didiamkan, Sobiri tetap mengusahakan cara-cara terkonyol sekalipun untuk membangkitkan emosi Dinda.
Taripol, kawan lama yang membuat Sobiri drop out kelas 2 SMP. Hingga tumbuh dewasa pun ia masih belum berubah. Keluar dari penjara dan diterima bekerja di Sirkus keliling Blasia merubah Taripol menjadi seorang yang giat bekerja. Kepercayaan yang dimiliki pemiliknya terhadap Taripol, meski mantan napi, menjadi sebuah alasan dari loyalitas. Ia menunjukkan bahwa seburuk-buruknya manusia meski banyak pula yang memandang buruk dirinya, tentu masih memiliki hal baik. Terkadang seorang pecundang bagi banyak orang akan sangat loyal bagi satu orang yang mempercayainya.
Cerita Sobiri tak lengkap tanpa pohon delima yang tumbuh di depan rumahnya. Dari menjadi rumah bagi sepasang 00, mistik pengabul harapan yang menjadi rebutan, hingga penyembuh sakit 00.
Tara adalah anak dari pemilik Sirkus keliling Blasia. Sedari kecil ia sudah pandai menggambar bahkan merias demi kepentingan sirkusnya. Lelaki yang diingatnya dulu, yang kemudian ia beri nama Sang Pembela, hanya bisa ia gambar di berlembar-lembar kertas. Berbagai usaha dilakukannya. Dari harus ikut Pramuka karena menemukan anak yang sedikit mirip, iklan kehilangan orang di radio yang tak jelas karena tidak ada nama, sampai mengadakan pameran dari semua gambar-gambar tersebut.
Sedangkan Tegar hanya meningat wangi vanili yang persis dengan kue lumpang dari anak perempuan yang ditolongnya. Meski tidak terlalu pintar, ia menguasai Biologi terutama mengenai vanili. Tegar memberi julukan anak itu sebagai layang-layang karena ketika memikirkannya ia seakan melayang-layang. Ia pun turut mencari cinta pertamanya. Dari menjadi pemenang lomba lari hingga anggota paskibra tujuhbelasan agar dirinya diketahui. Dengan bantuan Adun, kawannya yang hanya pintar menganalisa bau, ia mencari pemilik wangi vanili tersebut. Meski wangi yang ia cium dulu ternyata adalah kenanga.
Kisah Tara dan Tegar mengingatkan kita akan cinta sederhana yang penuh perjuangan. Kalau saja mereka menyerah dengan cinta tersebut, maka ia hanya akan menjadi kenangan.
Banyak sekali pelajaran hidup yang tersirat dalam buku Sirkus Pohon ini. Kebahagiaan sederhana yang sering terlupakan dari kita yang terbawa bersama teknologi. Maka tak ayal Andrea Hirata katakan bahwa fiksi adalah cara terbaik menceritakan fakta.

Judul buku     : Sirkus Pohon
Pengarang      : Andrea Hirata
Penerbit         : Bentang Pustaka, 2017
Halaman         : 383 hlm


Surabaya, 13 Oktober 2017


Semasa di pondok saya bertemu dengan berbagai macam karakter dan sifat. Ada teman saya yang saking menjaga kesucian pakaian untuk sholat sampai menyiapkan baju khusus untuk sholat. Jadi setiap waktu sholat dia akan mengganti bajunya terlebih dahulu. Ada juga yang saking menjaga keabsahan wudhunya maka ia sangat berhati-hati dalam berwudhu. Bila terkena cipratan air sedikit dari teman, maka ia akan berwudhu lagi. Ada pula teman yang memakai jilbab lebar (yang sekarang sudah semakin menjamur) dan manset di tangannya.
Beberapa orang akan menganggap ini adalah hal ribet maka mereka tidak melakukan hal tersebut. Padahal hal-hal yang dianggap ribet itu menurut orang yang sudah terbiasa menjalaninya ya nyantai dan biasa aja. Sama seperti orang yang tidak terbiasa sholat lima waktu dan puasa penuh selama Ramadhan akan menganggap amalan yang sudah sewajarnya bagi seorang Muslim lakukan itu ribet. Padahal ya sebagai Muslim kita anggap itu hal biasa karena sudah dilakukan setiap harinya.
Banyak hal-hal ‘ribet’ dalam Islam yang tidak perlu diperdebatkan karena perbedaan golongan. Bukan karena kita tidak melakukannya maka orang lain dianggap lebay bahkan sesat. Atau malah sebaliknya. Bukan karena orang lain tidak melakukannya kita anggap mereka tidak mentaati syariat. Asalkan mengikuti syariat Islam, that’s all. Apalagi sampai mengutarakan hate speech di sosial media dan tidak suka dengan seorang ulama tertentu.
Dalam Islam ada hal yang absolut dan relatif. Absolut ini kita katakan sebagai hal-hal wajib atau fardhu. Misalnya saja perempuan Muslim harus memakai hijab yang dipanjangkan sampai di bawah dada. Kurang dari itu berarti perlu dipanjangkan. Lebih dari itu ya nggak kenapa-kenapa. Hal relatif mengenai hijab ini adalah panjangnya dimulai dari di bawah dada dan lebih panjang lagi. Masalahnya ada di hijab yang kurang dari ukuran tersebut apalagi yang tidak memakai hijab.
Banyak yang mengatakan bahwa hidup itu mudah, nggak usah diribetin. Mungkin itu juga yang ada dalam pikiran beberapa orang mengenai keribetan orang-orang yang melaksanakan sunah. Harus bangun lebih pagi untuk sholat tahajud, kelaparan sendirian karena harus puasa selain di bulan Ramadhan, kepanasan karena hijab yang panjang apalagi kalau yang dipakai hitam, mau sholat aja harus ganti baju dulu.
Islam itu sebenarnya mudah, tapi jangan digampangkan. Mudah disini karena apa yang di dalam Islam selamanya tidak pernah membebani dan menyusahkanmu. Makanya jangan terlalu kaku. Tapi juga jangan jadi Muslim yang gampangan. Ada sholat jama’ dan qashar dalam Islam, eh karena film di bioskop tayangnya mepet jadi sholat pun dijama’.
Kalau memang ada hal-hal yang tidak kita lakukan, asalkan sudah termasuk standar wajib dalam Islam, maka tidak perlu mengkritisi orang-orang yang melakukannya. Itu hal mudah bagi mereka. Pun begitu sebaliknya. Standar dalam Islam adalah hal absolut yang diikuti dan diyakini. Kalau ada yang ingin berbuat lebih, maka itu baik.


Surabaya, 12 Oktober 2017
Bersama sekotak Buavita rasa apel


Hal yang sangat saya akui bahwa pondok memiliki miliu kebaikan dan mendorong semua orang yang berada di dalamnya untuk melakukan lebih banyak kebaikan itu kembali saya rasakan. Alhamdulillah selalu di-recharge setiap Kamis, atau bahkan pada beberapa pertemuan tertentu dimana para kyainya selalu menyetrumkan energi positif. Terakhir saya berkunjung ke pondok, lebih tepatnya di kampus pascasarjana putri yang setiap Magribnya selalu mengadakan kultum, saya berkesempatan mendengar setruman dari dosen pembimbing skripsi, Dr. Nur Hadi Ihsan, yang hingga kini masih masa pemulihan akibat kecalakaan Ramadhan lalu. Bertepatan dengan kegundahan hati saya mengenai masa depan. Begini pesannya,
Allah menciptakan segala sesuatu yang ada di dunia ini (baik manusia, jin, tumbuhan, hewan dan bahkan perbuatan) semata-mata untuk beribadah pada-Nya. Illa liya’budun- yang berimplikasi agar kita mengetahui bahwasanya apa yang kita kerjakan, usahakan dan dapatkan itu bukan karena kehebatan atau kemampuan kita. We are nothing. Bisa kita mengerjakan UTS karena taufiq dari Allah, ingat kita pada suatu pekerjaan karena hidayah dari Allah, untung kita pada barang dagangan karena kehendak dari Allah, ataupun sebaliknya. Bukan semata karena strategi yang top, persiapan yang matang, apalagi IQ yang dimiliki. Hal ini juga termasuk pada kebalikannya, seperti kegagalan, musibah dan lupa.
Kita sering lupa bahwa kita adalah makhluk lemah yang mendapat kekuatan dari Yang Maha Memiliki Kekuatan dan Maha Kuasa. Kita sering berpikir bahwa kita terlalu hebat saat sukses dan terlalu jatuh saat gagal. Karena kita juga lupa untuk meniati semua hal karena Allah. Ngapain belajar tinggi-tinggi? Bukan agar memiliki titel panjang dan dihargai orang, tapi karena Allah. Ngapain kerja kantoran? Bukan agar memiliki harta yang berlimpah, tapi karena Allah. Dan segala pertanyaan ‘ngapain’ yang lain. Dulu saat KMI kita belajar bahwa semua pekerjaan yang tidak dimulai dengan bismillah maka tidak akan berkah.
Starting point kita adalah Allah. bismillah (dengan nama Allah), fillah (di jalan Allah), lillah (demi Allah), ila-Llah (kepada Allah), ma’a-Llah (bersama Allah). (Kalau tidak salah masih ada lagi, tapi saya lupa). Hal ini kita sadarkan agar semakin yakin bahwa Allah ada di seluruh dimensi kehidupan kita. Cukupkan diri kita pada Allah. Hasbiyallahu wa ni’ma al-Wakiil ni’ma al-Mawla wa ni’ma al-nashir.
Pada akhirnya kita tidak akan pernah merasa takut dan pesimis bila menghadapi kesulitan. Karena kita percaya bahwa Allah akan memberikan taufiq dan hidayah bagi orang-orang yang selalu berdoa dan berbuat kebaikan, kekuatan bagi yang  bekerja keras, berkah bagi orang yang sungguh-sungguh. Kita pun akan semakin mantap dan yakin bahwa apa yang diberikan Allah adalah sebaik-baiknya hal. Seperti dibuangnya Nabi Yusuf oleh saudara-saudaranya ke dalam sumur adalah sebuah jalan agar ia bisa menjadi orang yang lebih terhormat di Mesir. 
Di penghujung kultum itu saya kembali bertanya pada diri sendiri. “Kamu ngapain masih banyak mencitakan hal yang tinggi?” Saya kini memiliki jawaban yang tepat.
Uusiikum wa iyyaya nafsii bitaqwallah

Surabaya, 10 Oktober 2017

Bersama secangkir lemon tea yang sudah tidak dingin

edited- Bogor, 14 Desember 2018


Jangan pacaran!
Jangan lupa sholat!
Jangan dekati api!
Jangan makan jeruk kalau perut sedang kosong!”
-dan lain-lain
Interpretasi kita akan berbeda-beda dengan kalimat larangan di atas. Bisa jadi ada yang mengatakan orang yang melarang pacaran dan mengingatkan untuk sholat sebagai sok alim. Namun bisa juga orang itu tahu agama. Entah hanya permukaannya saja, dangkal ataupun dalam. Semua orang tahu bahwa pacaran tidak diperbolehkan karena mendekatkan kepada mudharat dan sholat adalah sebuah kewajiban.
Dua kalimat larangan terakhir, karena dilakukan oleh semua orang, maka tidak akan ada komentar bagi orang yang melontarkan larang tersebut. Kamu nggak harus menjadi seorang profesor atau dokter untuk melarang seseorang mendekati api karena akan panas dan kebakar atau melarang seseorang untuk memakan jeruk bila perut sedang kosong karena akan meningkatkan asam lambung. Karena sayang maka dilarang. Karena takut kamu terbakar, maka dilarang mendekati api. Karena khawatir bila kamu sakit perut atau maag, maka dilarang makan jeruk bila perut dalam keadaan kosong. Sama juga dengan dua kalimat larangan pertama.
Pada beberapa hal seperti ibadah, sosial dan gaya hidup, seseorang  akan mengikuti apa kata dirinya dan bagaimana ia tumbuh bersamanya. Ada yang memilih untuk memperbaiki diri dengan mengupgrade diri atau recharging dengan berbagai caranya. Bisa dengan melihat, mendengar, mencontoh dan terinspirasi. Meski ada juga yang malah memperburuk dirinya dengan empat cara tersebut.
Agar tidak memperburuk diri, Alhamdulillah kita masih memiliki orang-orang yang sayang dan peduli untuk mengingatkan. Bukan hanya para ulama dengan kearifan ilmunya, kebaikan akhlaknya dan ketajaman lisannya, tapi juga orang-orang baik tak bungkam untuk peduli terhadap diri kita. Meski bukan bertitel ulama, orang-orang baik itu ada yang memiliki sedikit jejak kebaikan para ulama dan ada pula yang masih berusaha menjadi baik. Tidak harus menunggu baik untuk sayang dan peduli kepada sesama.
Sayangnya, berapa sih dari kita yang masih suka mencibir, “Emang lo siapa bisa ngomong gitu? Punya ilmunya nggak”, yang justru malah menyudutkan para penyebar rasa sayang tersebut. Tak ayal akhirnya banyak juga yang tidak berani speak up untuk saling mengingatkan dan mengajak kepada kebaikan. Memang sudah sewajarnya bila ada yang mengatakan bahwa orang yang mengingatkan itu harus bisa baik terlebih dahulu (komentar ini banyak saya temukan di pondok ketika seorang a’do’ diingatkan mudabbirah atau seorang temen yang hanya mau diingatkan oleh ketuanya). Pertanyaannya adalah, bila menunggu semua orang untuk baik terlebih dahulu agar bisa mengingatkan orang lain sebagai tanda kasihnya, maka tidak akan ada yang mau mengingatkan kita. Kelak mungkin hanya seorang expert seperti ulama atau profesor saja yang akan didengar. Bahkan tiap orang memiliki standar baiknya sendiri sehingga ukuran tersebut menjadi abstrak.
Saya tulis ini sebagai perwakilan diri akan ketakutan bahwa saya juga bukan orang baik. Bagaimana mungkin saya bisa menulis dan mengungkapkan ini itu sedangkan diri sendiri masih berantakan. Tapi ada satu statement yang cukup menginspirasi saya. Done is better than perfect. Bila saya menyempurnakan diri terlebih dahulu, maka saya tidak akan pernah bisa menulis apapun. Termasuk tulisan ini.

Surabaya, 9 Oktober 2017

Bersama secangkir black tea rasa mint


Siapa yang tidak tahu Gita Savitri? Saya tulis review buku ‘Rentang Kisah’ sebagai representasi kehadiran pemikiran seorang Gita Savitri yang dikenal sebagai vlogger influencer.
Saya tahu seorang Gita Savitri dari rekomendasi seorang teman yang bilang kalau vlog ini meski bukan dari tangan profesional tapi memiliki penjelasan yang nikmat dan mudah dipahami. Lama kelamaan ada segmen beropini yang mengupas berbagai isu sosial bukan semata tentang dirinya. Seorang Gita bukan hanya mengandalkan tampang dan posisinya di German yang membuatnya berbeda, tapi juga worldview yang dimiliki hingga kemudian menjadi influencer bagi anak muda Indonesia yang seakan kehilangan role model. Namun sayang, saat saya mampir ke blog Gita Savitri, followernya tak sebanyak subscriber Youtube apalagi follower Instagram. Padahal ada pelajaran lain yang tak bisa hanya disampaikan di sebuah tayangan video ataupun gambar. Tulisan-tulisan Gita yang bukan hanya ‘garang’ berani, tapi juga meng-klik otak akan sebuah pemikiran terhadap keresahan sosial. Oh iya juga ya sebenarnya.
Buku ‘Rentang Kisah’ ini menjadi sebuah catatan perjalanan rotasi kehidupan Gita  sejak SMA yang ‘nggak banget’ hingga menemui jalan yang ia tapaki kini. Masa remaja Gita di kota metropolitan Jakarta dihabiskan dengan tuntutan orang tua dan egoisme khas anak umur tanggung. Tapi secara magisnya sebuah sakit mengubah beberapa potong ke-klisean hidup Gita bersama Ibu.
Tulisan kembali dilanjutkan dengan kegalauan khas anak usia umur tanggung. Dibilang dewasa belum, tapi disebut anak kecil juga tak mau. Banyak mimpi yang sudah ditumpuk meski nyatanya kita selalu dihadapkan pada pilihan bahwa hidup ini bukan sekedar angan-angan, tapi butuh tindakan nyata. Sosial kita juga sudah menetapkan sebuah standar kesuksesan mengenai pekerjaan, kampus bahkan jurusan yang dituju. Pada titik ini seorang Gita tidak melulu mengikuti mainstream sosialnya. Pertama, proses memilih jurusan yang menurut kadar sosial tidak ‘menghasilkan’. Kedua, ia bisa bertahan dengan keadaan sosial yang mengatakan bahwa selesai SMA harus kuliah. Ketiga, menatap ke depan tanpa perlu mendengar apa kata banyak orang di kanan kirinya. Disinilah Gita memulai menetapkan bagaimana pendiriannya harus mulai terbentuk.
Titik hidup terpenting bagi semua manusia adalah agama dan Tuhan. Kita dilahirkan, dinikahkan dan akan dimakamkan dengan ritual agama masing-masing. Hal ini sudah paten. Meski bila ada yang tidak religius dan kita ketahui agamanya saja melalui KTP, dua fase terakhir yang saya sebutkan juga tetap saja harus dijalani secara agama. Pertanyaannya adalah, sebagai seseorang yang beragama apakah kita sudah membuktikan keseriusan terhadap keyakinan dalam kehidupan? Inilah yang menjadi kegelisahan seorang Gita di umur dua puluhan. Cahaya yang ia dapatkan melalui melihat, keingintahuan dan observasi. Bahwa hidup tentang berproses menjadi lebih baik dan kembali kepada fitrah.
Semua memiliki jalannya dan sudah tertulis di lauhul mahfudz. Masalahnya, pilihan apa yang kita ambil?
Bila ingin mendapatkan sebuah motivasi bersekolah di luar negri seperti yang ada kebanyakan, maka saya gugurkan terlebih dahulu ekspektasi tersebut. Buku ini, yang saya baca hanya beberapa jam, adalah refleksi seorang Gita pada kehidupannya dan sosial kita saat ini. Dia memang bukanlah seorang artis (meski kini kerap kali hadir di layar kaca), tapi pengaruh yang dimiliki untuk generasi milenial, kehidupan sekitar dan bahkan dirinya sendiri sudah mengundang inspirasi. Bagaimana seorang ‘kita’ bisa menjadi ‘kita’, bukannya ‘mereka’.
Judul Buku  : Rentang Kisah
Penulis        : Gita Saviti Devi
Penerbit      : Gagas Media
Halaman       : vii+207

Tahun terbit  : 2017



Bismillahirrahmanirrahim
Kemarin saya bersama serombongan teman ‘penghuni terakhir’ pondok mengambil ijazah. Bukan hanya satu, namun dua sekaligus. Ijazah KMI bukti tamat belajar selama enam tahun dalam jenjang sekolah menengah dan ijazah UNIDA tanda selesainya kami menempuh studi di UNIDA Gontor dan berhaknya kami menyandang gelar sarjana (Ushuluddin benar-benar ganti gelar menjadi Sarjana Agama). Bukan ribetnya proses mengurus ijazah ini yang akan saya ceritakan. Meski harus mondar-mandir dengan susahnya birokrasi pengambilan ijazah, toh kami lakukan juga. Terima kasih untuk para sekretaris fakultas yang sudi direpotkan di sepertiga akhir Ramadhan ini demi membantu menyelesaikan bagian terakhir dari cerita kami di Gontor.
Pada akhirnya saya memang harus menulis beberapa potong cerita yang layak saya bagikan selama sebelas tahun hidup di Gontor. Awalnya angkatan kami berencana untuk membuat buku  dari kumpulan cerita tersebut setelah sukses lima tahun yang lalu mencetak Pandora dalam edisi terbatas. Pandora adalah kumpulan cerita ‘nggak penting’ kami selama di KMI. Bahkan ada yang menceritakan kisahnya sejak menjadi calon pelajar. Maksud saya Pandora edisi dua ini akan merangkum cerita semasa pengabdian dan menjadi mahasiswa. Sayangnya rencana hanya menjadi rencana. Dengan selesainya perkuliahan dan pengabdian niat tersebut baru sekedar angan-angan. Semoga saja ke depannya mimpi ini bisa terlaksana. Bukan hanya teman yang di Gontor Putri 1, tapi seluruh angkatan di kampus lainnya baik putra dan putri.
Hasil dari ijazah KMI tidak begitu memuaskan dibandingkan nilai saya tahun-tahun sebelumnya. Saat saya merenungi ini kata beberapa teman toh tak akan ditanya lagi kemudian hari saat melanjutkan S2. Namun yang saya renungi bukanlah angka-angka yang tercetak pada kertas tersebut, melainkan apa yang saya lakukan selama kelas enam sehingga bisa turun kasta. Perenungan ini saya lanjutkan dengan memikirkan apa yang sudah saya lalui lima tahun terakhir. Rupanya saya telah melewati banyak hal untuk dapat menuliskan cerita ini.
Sukses bagi saya sedari dulu adalah mengenai pencapaian. Hal yang dapat dibuktikan dengan hasil dan kepercayaan. Bagaimana orang dapat mempercayakan banyak hal berarti bagaimana pula saya dapat mencapai taraf dimana tak ada seorang pun dapat melakukannya. Hasil yang diperolah menjadi tanda bahwa apa yang saya kerjakan itu baik dan benar. Episode terburuk saya adalah kelas lima dan enam. Selalu selfish sehingga tak peduli lagi apa yang saya lakukan untuk memenuhi kata sukses dalam kamus saya tersebut. Hingga harus menyakiti hati orang lain, membuat orang tua sedih, menjadi munafik dan sombong. Banyak kebodohan yang saya lakukan untuk mencapai kata sukses absurd tersebut hingga tak lagi memiliki prioritas hidup. Hingga belajar tak lagi menjadi sebuah kenikmatan seperti yang saya rasakan sebelumnya.
Hidup saya berlanjut hingga lima tahun kemudian di Gontor. Pada titik untuk mengatakan, “I found myself and lost it.”

16 Juni 2017
6.52

Pusat Data


Kemarin lalu saya terlibat dalam suatu obrolan mengenai nafsu manusia dengan beberapa teman dan junior di kamar. Sebelumnya kami membahas tentang santri yang kini menjadi begitu konsumtif dengan kehidupan di luar yang tak lagi sama dengan apa yang kami rasakan dulu. Bahasan selanjutnya tidak akan saya tulis secara detail. Namun kesimpulan yang dapat kami ambil adalah Gontor masih mengerem kita dengan sikap sederhana. Sebagaimanapun orang lain mengatakan kemegahan dan kebesaran Gontor, tapi Gontor masih menyederhanakan diri. Menjaga setiap individunya untuk tidak bersikap berlebihan meskipun bisa. Jilbab putih salah satunya.
Di Gontor Putri setiap santri bahkan guru harus memakai jilbab dengan warna yang serupa. Putih. Yang membedakan jilbab satu dan lainnya hanyalah bentuk renda dan bordir. Bila sedang jam sekolah maka jilbab seragam tanpa bordir yang dipakai. Kami tak pernah menyadarinya sebelum obrolan ini muncul. Bagi kami jilbab putih adalah simbol santri. Bila tidak, bisa jadi akan ada yang berlomba-lomba mengenakan jilbab dengan bahan yang lebih baik, warna yang mencolok, harga yang lebih mahal. Obrolan kemudian terhenti karena kami harus segera bersiap mengajar.
Saya kemudian merapikan bentuk jilbab yang saya pakai. Di hadapan cermin saya berpikir sejenak. Ternyata jilbab putih ini adalah salah satu rem Gontor agar tidak ada yang merasa lebih baik dari orang lain. Semua orang sama. Ini baru dari segi pakaian. Manusia dengan segala macam sifatnya terkadang memiliki rasa untuk dapat lebih unggul dari yang lain. Lebih kaya, lebih pintar, lebih hebat, lebih berpengaruh, dan segala kelebihan-kelebihan lainnya. Beberapa ada yang mendapatkan dengan cara yang baik, beberapa tidak. Beberapa memang memiliki kelebihan tanpa ditunjukkan atau sekedarnya, beberapa tidak. Padahal apalah kita di hadapan Allah.
Salah satu bahasan fathul kutub kelas lima lalu saya membahas mengenai riya’ yang menjadi bagian dari syirik kecil. Riya’ pada hal yang kadang kali tidak kita sadari. Mengaji agar orang menilai kita qori’. Sholat agar orang menilai kita ahlul ibadah. Na’udzubillah. Siapa yang tahu kalau rupanya dari sepersekian persen dalam diri kita memiliki perasaan tersebut. Maka kita dianjurkan untuk berdoa, Allahumma inni a’udzubika min al-takabbur wa al-riya’.
Bila jilbab putih itu menjadi rem tersirat agar menjadi orang yang secara sederhana dalam berpakaian, semoga masih ada jilbab-jilbab putih lainnya yang menyederhanakan sikap, niat dan pikiran kita. Sehingga dengan rem di bawah alam sadar pun tak pernah terlintas rasa membanggakan diri dengan riya’. Apalah manusia hina ini.


Selasa, 21 Maret 2017
19.38

Kantor Pusat Data


Di dalam salah satu tulisannya Muhammad Assad menulis, if you want to get something you have to sacrifice about something. Untuk mendapatkan sesuatu maka kita harus mengorbankan sesuatu. Dalam terma ini aku sempat bertanya-tanya. Apa untuk mendapatkan suatu pencapaian maka harus dengan merelakan hal lainnya. Namun lama masa itu aku berpikir. Rupanya yang harus dikorbankan bukanlah urusan kita yang lainnya, namun pengorbanan bersama usaha, waktu dan niat yang kuat.
Banyak yang menggunakan terma semacam in idalam hidupnya. Mengejar pekerjaan hingga mengorbankan keluarga. Mengejar kebahagiaan hingga mengorbankan kewajiban. Padahal apa sih yang sebenarnya kita kejar itu?
Pagi ini aku mendapatkan pemahaman baru. Untuk mendapatkan apa yang disebut pencapaian bukan berarti harus mengeluhkan waktu yang terbatas dan pekerjaan yang melimpah. Justru di sinilah hebatnya anak Gontor. Dapat melakukan banyak hal dengan maksimal tanpa melepaskan yang lainnya. Bahasanya Ustadz Hidayatullah dan Ustadz Ma’ruf dulu adalah 100 persen di setiap hal. Bukannya membagi kekuatan dengan banyaknya pekerjaan. Misalkan, kita memiliki 3 pekerjaan dan membagi kekuatan dii menjadi 33 persen di tiap hal. Maka dengan anggapan seperti itu ia tak akan pernah bisa maksimal.
Klise memang. Karena jarang ada motivator yang menyarankan untuk bisa fokus pada banyak hal. Fokuslah pada satu hal. Namun di kamus anak Gontor, semua hal harus bisa difokuskan dan dimaksimalkan.
Aku kali ini sedang dalam proses persiapan IELTS, mendaftar universitas dan beasiswa. Dan saat ini aku harus menguatkan diri pada banyak hal di pondok. Rasa yang aneh-aneh tentu sempat menyelimuti. Terlalu lelah, jenuh dan khawatir pada hal yang kuusahakan sebelumnya. Pagi ini aku sedang memperbaiki hati dan pikiran. Semua harus dapat berjalan dengan sempurna. Tenang. Semua akan baik-baik saja. Yang penting ikhlasnya. Yang penting usahanya.

Senin, 06 Maret 2017

DATA – 5.36


Mungkin kalau tidak sekarang, nanti kau akan menemukan. Orang yang akan memahamimu melebihi dirimu sendiri. Yang tahu akar dari masalahmu di saat kau sendiri masih berusaha menggalinya. Yang tahu kapan kau sedih, sakit, marah dan bahagia. Yang tahu kata apa yang harus diucapkan untuk paling tidak meringankan bebanmu.
Mungkin kalau tidak sekarang, kelak kau akan menjumpai. Orang yang dengan ikhlas menghabiskan kuota pulsa dan waktunya. Untuk sekedar bertegur sapa atau kabar hari ini. Untuk mendiskusikan mimpi-mimpi yang sedang kalian usahakan. Untuk membicarakan hal abu-abu kehidupan. Untuk menerawang bagaimana kehidupan dua sampai sepuluh tahun ke depan. Untuk mengirimkan foto terupdate hari ini. Atau sekedar mengabarkan bahwa ia sedang mencoba shampo dengan wangi yang baru.
Mungkin kalau tidak sekarang, nanti kau akan merasakan. Bagaimana jujur membahasakan perasaan yang sedang menyelimuti. Kesedihan, kebahagiaan, kerapuhan, kelebihan, kelemahan, bahkan kebencian. Bagaimana tidak mengenakkannya marah dan kemudian saling bermaafan tiga jam setelahnya. Bagaimana sebuah ketulusan dan keikhlasan melenyapkan iri dengki atau kebeteean menunggu. Bagaimana bahagianya dimengerti dan mengerti. Bagaimana khawatirnya saat orang lain sakit atau tidak tidur dengan terhormat. Bagaimana tanpa ketidaksengajaan apa yang kamu lakukan ternyata juga dilakukan orang lain.
Mungkin kalau tidak sekarang, kelak kau akan menerima perubahan. Dirimu yang ternyata berubah menjadi lebih baik karena ajakan dari orang lain untuk menambah rakaat tahajud. Dirimu yang melapangkan banyak hal karena nasehat dari orang lain agar tak menggundahkan diri. Dirimu yang bercermin pada orang lain yang ternyata langit.
Dan, sebut saja aku beruntung, menemukan, menjumpai, merasakan dan menerima semua hal itu bertahun-tahun lamanya di sini. Di tempat ini. Bila ada yang bilang sahabat sejati adalah yang sudah berteman selama tujuh tahun, maka bisa saja kubenarkan. Bahkan saya berteman sudah sebelas tahun. Apakah ada kata akhir dalam sebuah persahabatan? Tidak akan ada. Mellow sekali lagu-lagu itu. Zaman sekarang ada yang namanya WhatsApp dan Messanger. Belum lagi transportasi yang semakin mudah dijangkau.
Maka bila belum sekarang, kelak kau akan menemukan. Bila tak kau temukan semua yang kuceritakan, bisa jadi sebagian atau persahabatan dalam bentuk lain. Kalian tahu semua itu karena apa? Karena Allah. Kami bersahabat sampai di surga.






Kamis, 2 Februari 2017
23.59



Aku memiliki sahabat bukan hanya seorang langit yang tinggi, tapi dia juga lautan dengan hati yang sangat luas dan tanah dengan pikiran yang sangat dalam. Aku pernah dengan jahatnya iri padanya dalam satu hal yang sebenarnya sepele. Namun kemudian rasa bersalahku melampaui rasa iriku. Bagaimana aku bisa punya pikiran seperti hal tersebut kepada orang yang sudah terlalu sangat baik dan mengerti diriku? Hal yang baginya adalah manusiawi bahkan ia yang merasa tak enak. Bukan. Itu bukan salahmu, kawan. Menjadi langit itu bukan sesuatu yang instan. Butuh proses panjang dan kau sudah melakukan proses tersebut jauh saat orang lain masih mengedepankan egoismenya menghadapi dunia. Inilah yang harusnya banyak orang dapat ketahui. Akupun begitu.
Di samping tingginya dia sebagai langit dalam pencapaian dan prestasi, ia memiliki banyak hal lain yang aku, bahkan tak orang lain miliki. Ia melapangkan hatinya dari kebencian dan penolakan orang disekitarnya disamping ia masih memiliki banyak orang lain yang menyayangi dan mencintainya. Di antara kegemilangan dan ketenaran, ia masih menapakkan dirinya di atas bumi. Memikirkan orang-orang di sekitarnya tanpa melupakan dirinya sendiri sedalam tanah yang entah dimana ujungnya. Karena baginya, bagaimana kita akan menolong orang lain bila kita tidak dapat menolong diri sendiri.

Maka diantara orang-orang yang masih membingungkan dirinya, aku sudah cukup bahagia menjadi sahabat dari seorang langit, lautan dan tanah. 


Manusia tumbuh bersama lingkungannya, tapi tetap diri sendirilah yang menjadi pengontrol bagaimana seharusnya diri itu berlaku. Hidup bersama orang-krang malam tak langsung membuat diri menjadi pribadi yang demikiran. Namun penilaian orang pada akhirnya akan sampai pada titik tersebut. Generalisasi penilaian yang dalam ilmu logika merupakan sebuah kesalahan dalam berpikir. Tapi itulah yang terjadi di dalam masyarakat. Meski begitu penilaian ini bisa dipatahkan dengan bagaimana sebuah pribadi itu bersikap dan dilihat orang. Akhirnya akan terjadi sebuah perbandingan dan penyaringan.
Kalau tidak bisa merubah lingkungan, paling tidak (dan ini adalah serendah-rendahnya perasaan) diri tersebut tidak berubah terwarnai lingkungan.
Kembali lagi. Self control.

Depan DATA
Kamis, 2 Februari 2017
23.35

Setelah dengan yakinnya, “Mengapa harus takut dan merasa salah pada sebuah kebenaran yang ditegakkan?”


Bismillahirrahmanirrahim...
Sebelumnya aku sempat hampir putus asa. Hari ini adalah seminar motivasi menulis dari penulis Ayat-Ayat Cinta, Habiburrahman Elshirazy, yang sangat menyebalkannya diadakan pada siang hari Senin. Aku mengajar pelajaran sore. Namun mana yang lebih penting? Keegoisanku atau anak-anak calon pemimpin masa depan?
Kali ini aku sedang sangat egois.
Aku belajar menulis dan gagal menulis sudah sedari kecil. Karya yang kuhasilkan tak begitu banyak. Dan yang kebanyakan itu adalah karya gagal. Pun begitu orang-orang di sekitar masih saja menganggap diriku baik. Efek buruknya justru pada diriku yang tak mencoba untuk meningkatkan diri. Namun kini kesadaran yang sangat menyakitkan mengingatkan bahwa memang aku dengan segala kekuranganku harus segera disadarkan.
Berita buruknya kini aku tidak memiliki kepercayaan diri untuk menulis lagi. Bodoh memang. Karena hanya menulis yang dapat aku lakukan. Selebihnya aku tak bisa melakukan apapun. Namun dengan satu jam tersisa di sore tadi bersama kang Abik paling tidak dapat menyelamatkan sebagian jiwaku.
Untuk apa sebenarnya aku menulis?
Aku menulis berbagai macam hal. Kebanyakan dari hasil perenungan yang kukaitkan dengan pelajaran yang kudapatkan baik di bangku kuliah ataupun nasihat para guru. Aku menulis untuk berbagi, memahami diri dan menghidupkan jiwa-jiwa yang mati. Aku menulis karena hanya dari sanalah aku dapat berbangga diri. Aku menulis karena banyak jiwa yang menantikan tulisan. Mengetahui paling tidak sisi kehidupan dengan cara pandang yang berbeda.
Tulisanku benar-benar mati di tahun dimana aku harus mengerjakan skripsi. Aku kira setelah menjadi sarjana dan tidak memiliki beban kuliah maka dapat lebih produktif dalam menulis. Toh malah diriku dengan kata-kata yang seolah tenggelam. Menulis memang bukan perihal waktu. Namun menulis adalah saat ini.

Di suatu malam yang selalu dingin
Kamar-22.28

Senin, 23 Januari 2017



Beberapa orang berkata kepada saya, tidak sampai lima bulan lagi kita berada di pondok ini. Ada yang menanggapinya dengan bahagia, namun tidak sedikit yang melipat mukanya murung kemudian sedih.
Mengingat bagaimana sebelas tahun perjalanan saya di tempat yang kami sebut dengan tanah surga ini kembali, menyadarkan saya bagaimana hidup memberikan banyak sekali pelajaran. Dari masalah remeh hingga yang kompleks. Saya masih ingat betul bagaimana rasa malu saat menjadi salah satu pelanggar perkajum hingga muncul kemauan untuk menjadi sesuatu yang lebih dalam pramuka untuk mengobati rasa malu tersebut namun tak tersampaikan karena beberapa hal. Saya juga masih ingat rasa bahagianya menjadi kelas empat dengan wali kelas yang sangat saya hormati hingga saat sudah menjadi wali kelas saya masih ingat betul bagaimana cara beliau mendidik. Saya ingat dulu sekali saat kelas dua menuliskan mimpi-mimpi yang akan saya lakukan jika kelak menjadi kelas tiga, empat, lima dan enam. Yang rupanya hampir semua list tersebut dapat saya coret. Saya pun ingat beberapa kesalahan karena keegoisan saat menjadi kelas lima dan enam. Dan sungguh, rasa itu masih menghantui hingga saat ini. Saya juga ingat bagaimana kami kuliah di Ushuluddin. Pernah ada saat stress karena mempelajari filsafat yang tak tahu ujungnya harus diujikan secara lisan, setiap selesai kuliah membaca istighfar karena sudah meleleh akibat apa yang dosen katakan mengenai tasawuf dan akhirat, bahagianya untuk bisa yahanu dengan fakultas lain karena kami diajar oleh dosen-dosen terhebat. Tak lupa juga bagaimana saya harus jungkir balik mengurus prosesi skripsi (dengan makna majazi dan hakiki), dari proses pengajuan judul hingga penjilidan kemudian wisuda. Terlebih saya bertemu banyak sekali orang dengan sekian banyak pelajaran yang dapat saya ambil darinya. Guru, teman, adik kelas bahkan murid sendiri.
Salah seorang teman mengingatkan sebuah perkataan Ustadz Ma’ruf dulu bahwa bila kita belum maksimal saat menjadi santri, maka kita tambal saat sudah menjadi musyrifah. Akhir-akhir ini saya sedang menambal beberapa kekurangan yang saya miliki sebelum keluar. Rupanya banyak sekali yang saya lewatkan.
Ini adalah perasaan ‘tinggal’ lima bulan lagi. Yang efeknya adalah rasa tidak mau menyesal dan berusaha semaksimal mungkin untuk menumbuhkan totalitas yang nyata. You only live once.

Depan kantor data, dingin.
Ahad, 8 Januari 2017

23.38




Jangan pernah mengerdilkan kuasa Tuhan dengan impian-impian kerdil kita. Kalau Tuhan kita Maha Hebat, kenapa kita minta yang remeh-remeh?
Ahmad Rifai Rifan

Memiliki predikat sarjana dari sebuah universitas Islam berlembaga tua nan terkenal itu menyisakan pertanyaan. Apa yang akan dan harus dilakukan selepas mengabdi dari pondok ini? Beberapa teman sudah ada yang menikah dan proses akan menikah. Bagi teman-teman yang masih jomblo yang mengenaskannya mengobrol perihal masa depan yang masih abu-abu. Menabung untuk bayar dp katering yang tidak tahu kapan akan dipesan dan desain undangan yang entah kapan akan disebar. Namun di samping obrolan sangat tidak penting tersebut, para sarjana itu berusaha dengan matang merencanakan masa depannya. Mayoritas banyak yang ingin melanjutkan studi baik di dalam dan luar negeri, tapi ada juga yang berencana untuk berwirausaha. Berusaha realilstis dengan keadaan.
Adalah aku dan seorang teman yang dengan sangat pedenya berencana melanjutkan studi hingga harus menyebrang lintas benua. Impian hebat yang dengan sangat hati-hatinya kujaga, kurawat dan kuusahakan. Rencana yang kami atur bukan hanya untuk satu atau hingga lima bulan ke depan. Namun rencana tiga tahunan. Karena dengan sangat sadarnya kami tahu bahwa jalan yang harus ditempuh memanglah berat dan panjang. Anehnya tak ada keraguan di dalamnya. Karena kami sangat percaya dengan kuasa Tuhan yang Maha Hebat. Usaha-usaha kecil yang dapat kami lakukan saat ini dibarengi tirakat sebesar yang dapat kami lakukan sebagai manusia.
Allahumma istajib...
Sebagai salah satu hal yang ditakutkan Ali bin Abi Thalib adalah panjang angan yang akan melalaikan akhirat. Namun angan ini justru berasaskan dengan akhirat. Karena ilmu yang diniatkan untuk dituntut nanti adalah ilmu yang bercampur iman bersamanya.
Kami percaya.


January 1, 2017


Ahad, 1 Januari 2017
19.45


Semalam pondok menjadi sepi. Senyap membiarkan ingar bingar konser dari luar dan kembang api besar yang bersautan. Biarkan bagaimana orang lain menyambut tahun baru, aku dan seorang teman menghabiskannya dalam sujud panjang di masjid dengan penerangan seadanya. Tidak banyak rupanya yang mendatangi masjid. Namun momentum ini kami gunakan untuk bermuhasabah meski dalam tahun masehi.
2016 aku habiskan dengan perjuangan. Skripsi dengan segala cobaannya, DEMA dengan segala acaranya dan Identity Generation dengan segala ujian dan ceritanya. Kemudian memasuki setengah tahun akhir dengan cerita wisuda yang menguapkan segala lelah perjuangan skripsi dan memulai banyak hal baru menjadi seorang senior. Menjadi wali kelas anak intensif terbawah dan senior di kamar dan berbagai aktivitas. Sejujurnya aku tak begitu suka menggunakan kalimat senior. Kakak yang baik lebih tepatnya. Di samping itu aku memiliki idealisme yang sangat besar bagaimana tahun terakhirku seharusnya berjalan. Namun sayang. Rupanya aku terlalu lama kebingungan bersama diri sendiri dan kemudian sedih dan terpuruk sendiri. Kesedihan yang memang adalah hasil dari pemikiran yang kubuat sendiri. Efek dari rasa khawatir dan ketakutan yang berlebihan. Hingga pada satu titik aku mendapatkan pelajaran. Untuk apa mengkhawatirkan sesuatu yang belum pasti? Mengapa tak kita jalankan saja saat ini yang pasti ada.
Namun tanpa 2016 aku tidak akan berubah menjadi lebih dewasa. Baik dalam cara berpikir maupun bertindak. Aku dipertemukan oleh banyak orang yang berhati putih dan berkelakuan baik dan pejuang-pejuang dengan penuh rasa ikhlas. Aku dihadapkan dengan banyak sekali masalah yang mengajarkanku agar menjadi pribadi yang tangguh dengan jiwa yang kuat. Hingga kelak aku mengerti makna hakiki sebuah perjuangan dan kuasa Tuhan.
2017 ini akan menjadi dua periode yang akan menentukan hidupku kelak. Periode setengah tahun pertama sebagai masa terakhirku mengabdi pada pondok ini. Dengan esensi, bukan lagi mengenai apa yang kita dapat namun apa yang sudah kita berikan. Periode kedua adalah setengah tahun kedua selepasnya aku dari pondok ini.
Sebelas tahun memang bukanlah hitungan angka yang sedikit. Dhita Ayomi saat ini adalah bentukan dari bertahun-tahun asahan Gontor baik secara fisik dan jiwa. Bagaimana nanti harapanku hanya satu. Semoga tidak akan ada penyesalan. You only live once.

Depan kantor DATA bersama kak Puput yang sedang memilih foto

Sedang rindu Magenta....


Powered by Blogger.