Posts

Showing posts from 2017

Review Sirkus Pohon

Image
Buku ini adalah buku kesepuluh Pak Cik Andrea Hirata. Banyak sekali  iklan di  semua toko buku, akun instagram dan beberapa media yang mengatakan bahwa buku ini akan hadir pada Agustus 2017. Spoiler yang ada, yaitu sehari sebelum dilirisnya, adalah sebuah video mengenai seorang badut yang menjelajahi sebuah daerah sambil menemukan buku-buku Andrea Hirata. Tak ada bayangan bahwa seorang badut akan menjadi tokoh utama dalam buku yang berjudul Sirkus Pohon ini. Masih menggunakan setting tempat kelahirannya di Belitong, buku ini berfokus pada dua cerita. Pertama mengenai seorang lelaki paruh baya yang tak menyelesaikan pendidikan SMP karena drop out akibat olah seorang teman. Ia akhirnya menemukan cinta dan pekerjaan tetap berseragam yang memiliki lika-likunya. Kedua adalah cerita dua anak lima tahun yang saling bertemu di pengadilan agama untuk menemai ibu mereka. Dari pertemuan singkat karena si anak lelaki menolong anak perempuan  dari tiga anak lainnya tumbuhlah cinta yang susah

(Bukan) Orang Baik

Image
“ Jangan pacaran! ” “ Jangan lupa sholat! ” “ Jangan dekati api! ” “ Jangan makan jeruk kalau perut sedang kosong !” -dan lain-lain Interpretasi kita akan berbeda-beda dengan kalimat larangan di atas. Bisa jadi ada yang mengatakan orang yang melarang pacaran dan mengingatkan untuk sholat sebagai sok alim. Namun bisa juga orang itu tahu agama. Entah hanya permukaannya saja, dangkal ataupun dalam. Semua orang tahu bahwa pacaran tidak diperbolehkan karena mendekatkan kepada mudharat dan sholat adalah sebuah kewajiban. Dua kalimat larangan terakhir, karena dilakukan oleh semua orang, maka tidak akan ada komentar bagi orang yang melontarkan larang tersebut. Kamu nggak harus menjadi seorang profesor atau dokter untuk melarang seseorang mendekati api karena akan panas dan kebakar atau melarang seseorang untuk memakan jeruk bila perut sedang kosong karena akan meningkatkan asam lambung. Karena sayang maka dilarang. Karena takut kamu terbakar, maka dilarang mendekati api. Karena

Illa al-Liqa, Gontor

Image
Bismillahirrahmanirrahim Kemarin saya bersama serombongan teman ‘penghuni terakhir’ pondok mengambil ijazah. Bukan hanya satu, namun dua sekaligus. Ijazah KMI bukti tamat belajar selama enam tahun dalam jenjang sekolah menengah dan ijazah UNIDA tanda selesainya kami menempuh studi di UNIDA Gontor dan berhaknya kami menyandang gelar sarjana (Ushuluddin benar-benar ganti gelar menjadi Sarjana Agama). Bukan ribetnya proses mengurus ijazah ini yang akan saya ceritakan. Meski harus mondar-mandir dengan susahnya birokrasi pengambilan ijazah, toh kami lakukan juga. Terima kasih untuk para sekretaris fakultas yang sudi direpotkan di sepertiga akhir Ramadhan ini demi membantu menyelesaikan bagian terakhir dari cerita kami di Gontor. Pada akhirnya saya memang harus menulis beberapa potong cerita yang layak saya bagikan selama sebelas tahun hidup di Gontor. Awalnya angkatan kami berencana untuk membuat buku   dari kumpulan cerita tersebut setelah sukses lima tahun yang lalu mencetak Pan

Jilbab Putih

Image
Kemarin lalu saya terlibat dalam suatu obrolan mengenai nafsu manusia dengan beberapa teman dan junior di kamar. Sebelumnya kami membahas tentang santri yang kini menjadi begitu konsumtif dengan kehidupan di luar yang tak lagi sama dengan apa yang kami rasakan dulu. Bahasan selanjutnya tidak akan saya tulis secara detail. Namun kesimpulan yang dapat kami ambil adalah Gontor masih mengerem kita dengan sikap sederhana. Sebagaimanapun orang lain mengatakan kemegahan dan kebesaran Gontor, tapi Gontor masih menyederhanakan diri. Menjaga setiap individunya untuk tidak bersikap berlebihan meskipun bisa. Jilbab putih salah satunya. Di Gontor Putri setiap santri bahkan guru harus memakai jilbab dengan warna yang serupa. Putih. Yang membedakan jilbab satu dan lainnya hanyalah bentuk renda dan bordir. Bila sedang jam sekolah maka jilbab seragam tanpa bordir yang dipakai. Kami tak pernah menyadarinya sebelum obrolan ini muncul. Bagi kami jilbab putih adalah simbol santri. Bila tidak, bisa ja