Bismillahirrahmanirrahim...
Sebelumnya aku sempat hampir putus asa. Hari ini adalah seminar motivasi menulis dari penulis Ayat-Ayat Cinta, Habiburrahman Elshirazy, yang sangat menyebalkannya diadakan pada siang hari Senin. Aku mengajar pelajaran sore. Namun mana yang lebih penting? Keegoisanku atau anak-anak calon pemimpin masa depan?
Kali ini aku sedang sangat egois.
Aku belajar menulis dan gagal menulis sudah sedari kecil. Karya yang kuhasilkan tak begitu banyak. Dan yang kebanyakan itu adalah karya gagal. Pun begitu orang-orang di sekitar masih saja menganggap diriku baik. Efek buruknya justru pada diriku yang tak mencoba untuk meningkatkan diri. Namun kini kesadaran yang sangat menyakitkan mengingatkan bahwa memang aku dengan segala kekuranganku harus segera disadarkan.
Berita buruknya kini aku tidak memiliki kepercayaan diri untuk menulis lagi. Bodoh memang. Karena hanya menulis yang dapat aku lakukan. Selebihnya aku tak bisa melakukan apapun. Namun dengan satu jam tersisa di sore tadi bersama kang Abik paling tidak dapat menyelamatkan sebagian jiwaku.
Untuk apa sebenarnya aku menulis?
Aku menulis berbagai macam hal. Kebanyakan dari hasil perenungan yang kukaitkan dengan pelajaran yang kudapatkan baik di bangku kuliah ataupun nasihat para guru. Aku menulis untuk berbagi, memahami diri dan menghidupkan jiwa-jiwa yang mati. Aku menulis karena hanya dari sanalah aku dapat berbangga diri. Aku menulis karena banyak jiwa yang menantikan tulisan. Mengetahui paling tidak sisi kehidupan dengan cara pandang yang berbeda.
Tulisanku benar-benar mati di tahun dimana aku harus mengerjakan skripsi. Aku kira setelah menjadi sarjana dan tidak memiliki beban kuliah maka dapat lebih produktif dalam menulis. Toh malah diriku dengan kata-kata yang seolah tenggelam. Menulis memang bukan perihal waktu. Namun menulis adalah saat ini.

Di suatu malam yang selalu dingin
Kamar-22.28

Senin, 23 Januari 2017



Beberapa orang berkata kepada saya, tidak sampai lima bulan lagi kita berada di pondok ini. Ada yang menanggapinya dengan bahagia, namun tidak sedikit yang melipat mukanya murung kemudian sedih.
Mengingat bagaimana sebelas tahun perjalanan saya di tempat yang kami sebut dengan tanah surga ini kembali, menyadarkan saya bagaimana hidup memberikan banyak sekali pelajaran. Dari masalah remeh hingga yang kompleks. Saya masih ingat betul bagaimana rasa malu saat menjadi salah satu pelanggar perkajum hingga muncul kemauan untuk menjadi sesuatu yang lebih dalam pramuka untuk mengobati rasa malu tersebut namun tak tersampaikan karena beberapa hal. Saya juga masih ingat rasa bahagianya menjadi kelas empat dengan wali kelas yang sangat saya hormati hingga saat sudah menjadi wali kelas saya masih ingat betul bagaimana cara beliau mendidik. Saya ingat dulu sekali saat kelas dua menuliskan mimpi-mimpi yang akan saya lakukan jika kelak menjadi kelas tiga, empat, lima dan enam. Yang rupanya hampir semua list tersebut dapat saya coret. Saya pun ingat beberapa kesalahan karena keegoisan saat menjadi kelas lima dan enam. Dan sungguh, rasa itu masih menghantui hingga saat ini. Saya juga ingat bagaimana kami kuliah di Ushuluddin. Pernah ada saat stress karena mempelajari filsafat yang tak tahu ujungnya harus diujikan secara lisan, setiap selesai kuliah membaca istighfar karena sudah meleleh akibat apa yang dosen katakan mengenai tasawuf dan akhirat, bahagianya untuk bisa yahanu dengan fakultas lain karena kami diajar oleh dosen-dosen terhebat. Tak lupa juga bagaimana saya harus jungkir balik mengurus prosesi skripsi (dengan makna majazi dan hakiki), dari proses pengajuan judul hingga penjilidan kemudian wisuda. Terlebih saya bertemu banyak sekali orang dengan sekian banyak pelajaran yang dapat saya ambil darinya. Guru, teman, adik kelas bahkan murid sendiri.
Salah seorang teman mengingatkan sebuah perkataan Ustadz Ma’ruf dulu bahwa bila kita belum maksimal saat menjadi santri, maka kita tambal saat sudah menjadi musyrifah. Akhir-akhir ini saya sedang menambal beberapa kekurangan yang saya miliki sebelum keluar. Rupanya banyak sekali yang saya lewatkan.
Ini adalah perasaan ‘tinggal’ lima bulan lagi. Yang efeknya adalah rasa tidak mau menyesal dan berusaha semaksimal mungkin untuk menumbuhkan totalitas yang nyata. You only live once.

Depan kantor data, dingin.
Ahad, 8 Januari 2017

23.38




Jangan pernah mengerdilkan kuasa Tuhan dengan impian-impian kerdil kita. Kalau Tuhan kita Maha Hebat, kenapa kita minta yang remeh-remeh?
Ahmad Rifai Rifan

Memiliki predikat sarjana dari sebuah universitas Islam berlembaga tua nan terkenal itu menyisakan pertanyaan. Apa yang akan dan harus dilakukan selepas mengabdi dari pondok ini? Beberapa teman sudah ada yang menikah dan proses akan menikah. Bagi teman-teman yang masih jomblo yang mengenaskannya mengobrol perihal masa depan yang masih abu-abu. Menabung untuk bayar dp katering yang tidak tahu kapan akan dipesan dan desain undangan yang entah kapan akan disebar. Namun di samping obrolan sangat tidak penting tersebut, para sarjana itu berusaha dengan matang merencanakan masa depannya. Mayoritas banyak yang ingin melanjutkan studi baik di dalam dan luar negeri, tapi ada juga yang berencana untuk berwirausaha. Berusaha realilstis dengan keadaan.
Adalah aku dan seorang teman yang dengan sangat pedenya berencana melanjutkan studi hingga harus menyebrang lintas benua. Impian hebat yang dengan sangat hati-hatinya kujaga, kurawat dan kuusahakan. Rencana yang kami atur bukan hanya untuk satu atau hingga lima bulan ke depan. Namun rencana tiga tahunan. Karena dengan sangat sadarnya kami tahu bahwa jalan yang harus ditempuh memanglah berat dan panjang. Anehnya tak ada keraguan di dalamnya. Karena kami sangat percaya dengan kuasa Tuhan yang Maha Hebat. Usaha-usaha kecil yang dapat kami lakukan saat ini dibarengi tirakat sebesar yang dapat kami lakukan sebagai manusia.
Allahumma istajib...
Sebagai salah satu hal yang ditakutkan Ali bin Abi Thalib adalah panjang angan yang akan melalaikan akhirat. Namun angan ini justru berasaskan dengan akhirat. Karena ilmu yang diniatkan untuk dituntut nanti adalah ilmu yang bercampur iman bersamanya.
Kami percaya.


January 1, 2017


Ahad, 1 Januari 2017
19.45


Semalam pondok menjadi sepi. Senyap membiarkan ingar bingar konser dari luar dan kembang api besar yang bersautan. Biarkan bagaimana orang lain menyambut tahun baru, aku dan seorang teman menghabiskannya dalam sujud panjang di masjid dengan penerangan seadanya. Tidak banyak rupanya yang mendatangi masjid. Namun momentum ini kami gunakan untuk bermuhasabah meski dalam tahun masehi.
2016 aku habiskan dengan perjuangan. Skripsi dengan segala cobaannya, DEMA dengan segala acaranya dan Identity Generation dengan segala ujian dan ceritanya. Kemudian memasuki setengah tahun akhir dengan cerita wisuda yang menguapkan segala lelah perjuangan skripsi dan memulai banyak hal baru menjadi seorang senior. Menjadi wali kelas anak intensif terbawah dan senior di kamar dan berbagai aktivitas. Sejujurnya aku tak begitu suka menggunakan kalimat senior. Kakak yang baik lebih tepatnya. Di samping itu aku memiliki idealisme yang sangat besar bagaimana tahun terakhirku seharusnya berjalan. Namun sayang. Rupanya aku terlalu lama kebingungan bersama diri sendiri dan kemudian sedih dan terpuruk sendiri. Kesedihan yang memang adalah hasil dari pemikiran yang kubuat sendiri. Efek dari rasa khawatir dan ketakutan yang berlebihan. Hingga pada satu titik aku mendapatkan pelajaran. Untuk apa mengkhawatirkan sesuatu yang belum pasti? Mengapa tak kita jalankan saja saat ini yang pasti ada.
Namun tanpa 2016 aku tidak akan berubah menjadi lebih dewasa. Baik dalam cara berpikir maupun bertindak. Aku dipertemukan oleh banyak orang yang berhati putih dan berkelakuan baik dan pejuang-pejuang dengan penuh rasa ikhlas. Aku dihadapkan dengan banyak sekali masalah yang mengajarkanku agar menjadi pribadi yang tangguh dengan jiwa yang kuat. Hingga kelak aku mengerti makna hakiki sebuah perjuangan dan kuasa Tuhan.
2017 ini akan menjadi dua periode yang akan menentukan hidupku kelak. Periode setengah tahun pertama sebagai masa terakhirku mengabdi pada pondok ini. Dengan esensi, bukan lagi mengenai apa yang kita dapat namun apa yang sudah kita berikan. Periode kedua adalah setengah tahun kedua selepasnya aku dari pondok ini.
Sebelas tahun memang bukanlah hitungan angka yang sedikit. Dhita Ayomi saat ini adalah bentukan dari bertahun-tahun asahan Gontor baik secara fisik dan jiwa. Bagaimana nanti harapanku hanya satu. Semoga tidak akan ada penyesalan. You only live once.

Depan kantor DATA bersama kak Puput yang sedang memilih foto

Sedang rindu Magenta....


Powered by Blogger.