Beberapa orang berkata kepada saya, tidak sampai lima bulan lagi kita berada di pondok ini. Ada yang menanggapinya dengan bahagia, namun tidak sedikit yang melipat mukanya murung kemudian sedih.
Mengingat bagaimana sebelas tahun perjalanan saya di tempat yang kami sebut dengan tanah surga ini kembali, menyadarkan saya bagaimana hidup memberikan banyak sekali pelajaran. Dari masalah remeh hingga yang kompleks. Saya masih ingat betul bagaimana rasa malu saat menjadi salah satu pelanggar perkajum hingga muncul kemauan untuk menjadi sesuatu yang lebih dalam pramuka untuk mengobati rasa malu tersebut namun tak tersampaikan karena beberapa hal. Saya juga masih ingat rasa bahagianya menjadi kelas empat dengan wali kelas yang sangat saya hormati hingga saat sudah menjadi wali kelas saya masih ingat betul bagaimana cara beliau mendidik. Saya ingat dulu sekali saat kelas dua menuliskan mimpi-mimpi yang akan saya lakukan jika kelak menjadi kelas tiga, empat, lima dan enam. Yang rupanya hampir semua list tersebut dapat saya coret. Saya pun ingat beberapa kesalahan karena keegoisan saat menjadi kelas lima dan enam. Dan sungguh, rasa itu masih menghantui hingga saat ini. Saya juga ingat bagaimana kami kuliah di Ushuluddin. Pernah ada saat stress karena mempelajari filsafat yang tak tahu ujungnya harus diujikan secara lisan, setiap selesai kuliah membaca istighfar karena sudah meleleh akibat apa yang dosen katakan mengenai tasawuf dan akhirat, bahagianya untuk bisa yahanu dengan fakultas lain karena kami diajar oleh dosen-dosen terhebat. Tak lupa juga bagaimana saya harus jungkir balik mengurus prosesi skripsi (dengan makna majazi dan hakiki), dari proses pengajuan judul hingga penjilidan kemudian wisuda. Terlebih saya bertemu banyak sekali orang dengan sekian banyak pelajaran yang dapat saya ambil darinya. Guru, teman, adik kelas bahkan murid sendiri.
Salah seorang teman mengingatkan sebuah perkataan Ustadz Ma’ruf dulu bahwa bila kita belum maksimal saat menjadi santri, maka kita tambal saat sudah menjadi musyrifah. Akhir-akhir ini saya sedang menambal beberapa kekurangan yang saya miliki sebelum keluar. Rupanya banyak sekali yang saya lewatkan.
Ini adalah perasaan ‘tinggal’ lima bulan lagi. Yang efeknya adalah rasa tidak mau menyesal dan berusaha semaksimal mungkin untuk menumbuhkan totalitas yang nyata. You only live once.

Depan kantor data, dingin.
Ahad, 8 Januari 2017

23.38


Leave a Reply

Powered by Blogger.