Ahad, 1 Januari 2017
19.45


Semalam pondok menjadi sepi. Senyap membiarkan ingar bingar konser dari luar dan kembang api besar yang bersautan. Biarkan bagaimana orang lain menyambut tahun baru, aku dan seorang teman menghabiskannya dalam sujud panjang di masjid dengan penerangan seadanya. Tidak banyak rupanya yang mendatangi masjid. Namun momentum ini kami gunakan untuk bermuhasabah meski dalam tahun masehi.
2016 aku habiskan dengan perjuangan. Skripsi dengan segala cobaannya, DEMA dengan segala acaranya dan Identity Generation dengan segala ujian dan ceritanya. Kemudian memasuki setengah tahun akhir dengan cerita wisuda yang menguapkan segala lelah perjuangan skripsi dan memulai banyak hal baru menjadi seorang senior. Menjadi wali kelas anak intensif terbawah dan senior di kamar dan berbagai aktivitas. Sejujurnya aku tak begitu suka menggunakan kalimat senior. Kakak yang baik lebih tepatnya. Di samping itu aku memiliki idealisme yang sangat besar bagaimana tahun terakhirku seharusnya berjalan. Namun sayang. Rupanya aku terlalu lama kebingungan bersama diri sendiri dan kemudian sedih dan terpuruk sendiri. Kesedihan yang memang adalah hasil dari pemikiran yang kubuat sendiri. Efek dari rasa khawatir dan ketakutan yang berlebihan. Hingga pada satu titik aku mendapatkan pelajaran. Untuk apa mengkhawatirkan sesuatu yang belum pasti? Mengapa tak kita jalankan saja saat ini yang pasti ada.
Namun tanpa 2016 aku tidak akan berubah menjadi lebih dewasa. Baik dalam cara berpikir maupun bertindak. Aku dipertemukan oleh banyak orang yang berhati putih dan berkelakuan baik dan pejuang-pejuang dengan penuh rasa ikhlas. Aku dihadapkan dengan banyak sekali masalah yang mengajarkanku agar menjadi pribadi yang tangguh dengan jiwa yang kuat. Hingga kelak aku mengerti makna hakiki sebuah perjuangan dan kuasa Tuhan.
2017 ini akan menjadi dua periode yang akan menentukan hidupku kelak. Periode setengah tahun pertama sebagai masa terakhirku mengabdi pada pondok ini. Dengan esensi, bukan lagi mengenai apa yang kita dapat namun apa yang sudah kita berikan. Periode kedua adalah setengah tahun kedua selepasnya aku dari pondok ini.
Sebelas tahun memang bukanlah hitungan angka yang sedikit. Dhita Ayomi saat ini adalah bentukan dari bertahun-tahun asahan Gontor baik secara fisik dan jiwa. Bagaimana nanti harapanku hanya satu. Semoga tidak akan ada penyesalan. You only live once.

Depan kantor DATA bersama kak Puput yang sedang memilih foto

Sedang rindu Magenta....


Leave a Reply

Powered by Blogger.