Di dalam salah satu tulisannya Muhammad Assad menulis, if you want to get something you have to sacrifice about something. Untuk mendapatkan sesuatu maka kita harus mengorbankan sesuatu. Dalam terma ini aku sempat bertanya-tanya. Apa untuk mendapatkan suatu pencapaian maka harus dengan merelakan hal lainnya. Namun lama masa itu aku berpikir. Rupanya yang harus dikorbankan bukanlah urusan kita yang lainnya, namun pengorbanan bersama usaha, waktu dan niat yang kuat.
Banyak yang menggunakan terma semacam in idalam hidupnya. Mengejar pekerjaan hingga mengorbankan keluarga. Mengejar kebahagiaan hingga mengorbankan kewajiban. Padahal apa sih yang sebenarnya kita kejar itu?
Pagi ini aku mendapatkan pemahaman baru. Untuk mendapatkan apa yang disebut pencapaian bukan berarti harus mengeluhkan waktu yang terbatas dan pekerjaan yang melimpah. Justru di sinilah hebatnya anak Gontor. Dapat melakukan banyak hal dengan maksimal tanpa melepaskan yang lainnya. Bahasanya Ustadz Hidayatullah dan Ustadz Ma’ruf dulu adalah 100 persen di setiap hal. Bukannya membagi kekuatan dengan banyaknya pekerjaan. Misalkan, kita memiliki 3 pekerjaan dan membagi kekuatan dii menjadi 33 persen di tiap hal. Maka dengan anggapan seperti itu ia tak akan pernah bisa maksimal.
Klise memang. Karena jarang ada motivator yang menyarankan untuk bisa fokus pada banyak hal. Fokuslah pada satu hal. Namun di kamus anak Gontor, semua hal harus bisa difokuskan dan dimaksimalkan.
Aku kali ini sedang dalam proses persiapan IELTS, mendaftar universitas dan beasiswa. Dan saat ini aku harus menguatkan diri pada banyak hal di pondok. Rasa yang aneh-aneh tentu sempat menyelimuti. Terlalu lelah, jenuh dan khawatir pada hal yang kuusahakan sebelumnya. Pagi ini aku sedang memperbaiki hati dan pikiran. Semua harus dapat berjalan dengan sempurna. Tenang. Semua akan baik-baik saja. Yang penting ikhlasnya. Yang penting usahanya.

Senin, 06 Maret 2017

DATA – 5.36


Leave a Reply

Powered by Blogger.