Mungkin kalau tidak sekarang, nanti kau akan menemukan. Orang yang akan memahamimu melebihi dirimu sendiri. Yang tahu akar dari masalahmu di saat kau sendiri masih berusaha menggalinya. Yang tahu kapan kau sedih, sakit, marah dan bahagia. Yang tahu kata apa yang harus diucapkan untuk paling tidak meringankan bebanmu.
Mungkin kalau tidak sekarang, kelak kau akan menjumpai. Orang yang dengan ikhlas menghabiskan kuota pulsa dan waktunya. Untuk sekedar bertegur sapa atau kabar hari ini. Untuk mendiskusikan mimpi-mimpi yang sedang kalian usahakan. Untuk membicarakan hal abu-abu kehidupan. Untuk menerawang bagaimana kehidupan dua sampai sepuluh tahun ke depan. Untuk mengirimkan foto terupdate hari ini. Atau sekedar mengabarkan bahwa ia sedang mencoba shampo dengan wangi yang baru.
Mungkin kalau tidak sekarang, nanti kau akan merasakan. Bagaimana jujur membahasakan perasaan yang sedang menyelimuti. Kesedihan, kebahagiaan, kerapuhan, kelebihan, kelemahan, bahkan kebencian. Bagaimana tidak mengenakkannya marah dan kemudian saling bermaafan tiga jam setelahnya. Bagaimana sebuah ketulusan dan keikhlasan melenyapkan iri dengki atau kebeteean menunggu. Bagaimana bahagianya dimengerti dan mengerti. Bagaimana khawatirnya saat orang lain sakit atau tidak tidur dengan terhormat. Bagaimana tanpa ketidaksengajaan apa yang kamu lakukan ternyata juga dilakukan orang lain.
Mungkin kalau tidak sekarang, kelak kau akan menerima perubahan. Dirimu yang ternyata berubah menjadi lebih baik karena ajakan dari orang lain untuk menambah rakaat tahajud. Dirimu yang melapangkan banyak hal karena nasehat dari orang lain agar tak menggundahkan diri. Dirimu yang bercermin pada orang lain yang ternyata langit.
Dan, sebut saja aku beruntung, menemukan, menjumpai, merasakan dan menerima semua hal itu bertahun-tahun lamanya di sini. Di tempat ini. Bila ada yang bilang sahabat sejati adalah yang sudah berteman selama tujuh tahun, maka bisa saja kubenarkan. Bahkan saya berteman sudah sebelas tahun. Apakah ada kata akhir dalam sebuah persahabatan? Tidak akan ada. Mellow sekali lagu-lagu itu. Zaman sekarang ada yang namanya WhatsApp dan Messanger. Belum lagi transportasi yang semakin mudah dijangkau.
Maka bila belum sekarang, kelak kau akan menemukan. Bila tak kau temukan semua yang kuceritakan, bisa jadi sebagian atau persahabatan dalam bentuk lain. Kalian tahu semua itu karena apa? Karena Allah. Kami bersahabat sampai di surga.






Kamis, 2 Februari 2017
23.59



Leave a Reply

Powered by Blogger.