Aku memiliki sahabat bukan hanya seorang langit yang tinggi, tapi dia juga lautan dengan hati yang sangat luas dan tanah dengan pikiran yang sangat dalam. Aku pernah dengan jahatnya iri padanya dalam satu hal yang sebenarnya sepele. Namun kemudian rasa bersalahku melampaui rasa iriku. Bagaimana aku bisa punya pikiran seperti hal tersebut kepada orang yang sudah terlalu sangat baik dan mengerti diriku? Hal yang baginya adalah manusiawi bahkan ia yang merasa tak enak. Bukan. Itu bukan salahmu, kawan. Menjadi langit itu bukan sesuatu yang instan. Butuh proses panjang dan kau sudah melakukan proses tersebut jauh saat orang lain masih mengedepankan egoismenya menghadapi dunia. Inilah yang harusnya banyak orang dapat ketahui. Akupun begitu.
Di samping tingginya dia sebagai langit dalam pencapaian dan prestasi, ia memiliki banyak hal lain yang aku, bahkan tak orang lain miliki. Ia melapangkan hatinya dari kebencian dan penolakan orang disekitarnya disamping ia masih memiliki banyak orang lain yang menyayangi dan mencintainya. Di antara kegemilangan dan ketenaran, ia masih menapakkan dirinya di atas bumi. Memikirkan orang-orang di sekitarnya tanpa melupakan dirinya sendiri sedalam tanah yang entah dimana ujungnya. Karena baginya, bagaimana kita akan menolong orang lain bila kita tidak dapat menolong diri sendiri.

Maka diantara orang-orang yang masih membingungkan dirinya, aku sudah cukup bahagia menjadi sahabat dari seorang langit, lautan dan tanah. 


Leave a Reply

Powered by Blogger.