Bismillahirrahmanirrahim
Kemarin saya bersama serombongan teman ‘penghuni terakhir’ pondok mengambil ijazah. Bukan hanya satu, namun dua sekaligus. Ijazah KMI bukti tamat belajar selama enam tahun dalam jenjang sekolah menengah dan ijazah UNIDA tanda selesainya kami menempuh studi di UNIDA Gontor dan berhaknya kami menyandang gelar sarjana (Ushuluddin benar-benar ganti gelar menjadi Sarjana Agama). Bukan ribetnya proses mengurus ijazah ini yang akan saya ceritakan. Meski harus mondar-mandir dengan susahnya birokrasi pengambilan ijazah, toh kami lakukan juga. Terima kasih untuk para sekretaris fakultas yang sudi direpotkan di sepertiga akhir Ramadhan ini demi membantu menyelesaikan bagian terakhir dari cerita kami di Gontor.
Pada akhirnya saya memang harus menulis beberapa potong cerita yang layak saya bagikan selama sebelas tahun hidup di Gontor. Awalnya angkatan kami berencana untuk membuat buku  dari kumpulan cerita tersebut setelah sukses lima tahun yang lalu mencetak Pandora dalam edisi terbatas. Pandora adalah kumpulan cerita ‘nggak penting’ kami selama di KMI. Bahkan ada yang menceritakan kisahnya sejak menjadi calon pelajar. Maksud saya Pandora edisi dua ini akan merangkum cerita semasa pengabdian dan menjadi mahasiswa. Sayangnya rencana hanya menjadi rencana. Dengan selesainya perkuliahan dan pengabdian niat tersebut baru sekedar angan-angan. Semoga saja ke depannya mimpi ini bisa terlaksana. Bukan hanya teman yang di Gontor Putri 1, tapi seluruh angkatan di kampus lainnya baik putra dan putri.
Hasil dari ijazah KMI tidak begitu memuaskan dibandingkan nilai saya tahun-tahun sebelumnya. Saat saya merenungi ini kata beberapa teman toh tak akan ditanya lagi kemudian hari saat melanjutkan S2. Namun yang saya renungi bukanlah angka-angka yang tercetak pada kertas tersebut, melainkan apa yang saya lakukan selama kelas enam sehingga bisa turun kasta. Perenungan ini saya lanjutkan dengan memikirkan apa yang sudah saya lalui lima tahun terakhir. Rupanya saya telah melewati banyak hal untuk dapat menuliskan cerita ini.
Sukses bagi saya sedari dulu adalah mengenai pencapaian. Hal yang dapat dibuktikan dengan hasil dan kepercayaan. Bagaimana orang dapat mempercayakan banyak hal berarti bagaimana pula saya dapat mencapai taraf dimana tak ada seorang pun dapat melakukannya. Hasil yang diperolah menjadi tanda bahwa apa yang saya kerjakan itu baik dan benar. Episode terburuk saya adalah kelas lima dan enam. Selalu selfish sehingga tak peduli lagi apa yang saya lakukan untuk memenuhi kata sukses dalam kamus saya tersebut. Hingga harus menyakiti hati orang lain, membuat orang tua sedih, menjadi munafik dan sombong. Banyak kebodohan yang saya lakukan untuk mencapai kata sukses absurd tersebut hingga tak lagi memiliki prioritas hidup. Hingga belajar tak lagi menjadi sebuah kenikmatan seperti yang saya rasakan sebelumnya.
Hidup saya berlanjut hingga lima tahun kemudian di Gontor. Pada titik untuk mengatakan, “I found myself and lost it.”

16 Juni 2017
6.52

Pusat Data


Leave a Reply

Powered by Blogger.