Siapa yang tidak tahu Gita Savitri? Saya tulis review buku ‘Rentang Kisah’ sebagai representasi kehadiran pemikiran seorang Gita Savitri yang dikenal sebagai vlogger influencer.
Saya tahu seorang Gita Savitri dari rekomendasi seorang teman yang bilang kalau vlog ini meski bukan dari tangan profesional tapi memiliki penjelasan yang nikmat dan mudah dipahami. Lama kelamaan ada segmen beropini yang mengupas berbagai isu sosial bukan semata tentang dirinya. Seorang Gita bukan hanya mengandalkan tampang dan posisinya di German yang membuatnya berbeda, tapi juga worldview yang dimiliki hingga kemudian menjadi influencer bagi anak muda Indonesia yang seakan kehilangan role model. Namun sayang, saat saya mampir ke blog Gita Savitri, followernya tak sebanyak subscriber Youtube apalagi follower Instagram. Padahal ada pelajaran lain yang tak bisa hanya disampaikan di sebuah tayangan video ataupun gambar. Tulisan-tulisan Gita yang bukan hanya ‘garang’ berani, tapi juga meng-klik otak akan sebuah pemikiran terhadap keresahan sosial. Oh iya juga ya sebenarnya.
Buku ‘Rentang Kisah’ ini menjadi sebuah catatan perjalanan rotasi kehidupan Gita  sejak SMA yang ‘nggak banget’ hingga menemui jalan yang ia tapaki kini. Masa remaja Gita di kota metropolitan Jakarta dihabiskan dengan tuntutan orang tua dan egoisme khas anak umur tanggung. Tapi secara magisnya sebuah sakit mengubah beberapa potong ke-klisean hidup Gita bersama Ibu.
Tulisan kembali dilanjutkan dengan kegalauan khas anak usia umur tanggung. Dibilang dewasa belum, tapi disebut anak kecil juga tak mau. Banyak mimpi yang sudah ditumpuk meski nyatanya kita selalu dihadapkan pada pilihan bahwa hidup ini bukan sekedar angan-angan, tapi butuh tindakan nyata. Sosial kita juga sudah menetapkan sebuah standar kesuksesan mengenai pekerjaan, kampus bahkan jurusan yang dituju. Pada titik ini seorang Gita tidak melulu mengikuti mainstream sosialnya. Pertama, proses memilih jurusan yang menurut kadar sosial tidak ‘menghasilkan’. Kedua, ia bisa bertahan dengan keadaan sosial yang mengatakan bahwa selesai SMA harus kuliah. Ketiga, menatap ke depan tanpa perlu mendengar apa kata banyak orang di kanan kirinya. Disinilah Gita memulai menetapkan bagaimana pendiriannya harus mulai terbentuk.
Titik hidup terpenting bagi semua manusia adalah agama dan Tuhan. Kita dilahirkan, dinikahkan dan akan dimakamkan dengan ritual agama masing-masing. Hal ini sudah paten. Meski bila ada yang tidak religius dan kita ketahui agamanya saja melalui KTP, dua fase terakhir yang saya sebutkan juga tetap saja harus dijalani secara agama. Pertanyaannya adalah, sebagai seseorang yang beragama apakah kita sudah membuktikan keseriusan terhadap keyakinan dalam kehidupan? Inilah yang menjadi kegelisahan seorang Gita di umur dua puluhan. Cahaya yang ia dapatkan melalui melihat, keingintahuan dan observasi. Bahwa hidup tentang berproses menjadi lebih baik dan kembali kepada fitrah.
Semua memiliki jalannya dan sudah tertulis di lauhul mahfudz. Masalahnya, pilihan apa yang kita ambil?
Bila ingin mendapatkan sebuah motivasi bersekolah di luar negri seperti yang ada kebanyakan, maka saya gugurkan terlebih dahulu ekspektasi tersebut. Buku ini, yang saya baca hanya beberapa jam, adalah refleksi seorang Gita pada kehidupannya dan sosial kita saat ini. Dia memang bukanlah seorang artis (meski kini kerap kali hadir di layar kaca), tapi pengaruh yang dimiliki untuk generasi milenial, kehidupan sekitar dan bahkan dirinya sendiri sudah mengundang inspirasi. Bagaimana seorang ‘kita’ bisa menjadi ‘kita’, bukannya ‘mereka’.
Judul Buku  : Rentang Kisah
Penulis        : Gita Saviti Devi
Penerbit      : Gagas Media
Halaman       : vii+207

Tahun terbit  : 2017


Leave a Reply

Powered by Blogger.