Buku ini adalah buku kesepuluh Pak Cik Andrea Hirata. Banyak sekali  iklan di  semua toko buku, akun instagram dan beberapa media yang mengatakan bahwa buku ini akan hadir pada Agustus 2017. Spoiler yang ada, yaitu sehari sebelum dilirisnya, adalah sebuah video mengenai seorang badut yang menjelajahi sebuah daerah sambil menemukan buku-buku Andrea Hirata. Tak ada bayangan bahwa seorang badut akan menjadi tokoh utama dalam buku yang berjudul Sirkus Pohon ini.
Masih menggunakan setting tempat kelahirannya di Belitong, buku ini berfokus pada dua cerita. Pertama mengenai seorang lelaki paruh baya yang tak menyelesaikan pendidikan SMP karena drop out akibat olah seorang teman. Ia akhirnya menemukan cinta dan pekerjaan tetap berseragam yang memiliki lika-likunya. Kedua adalah cerita dua anak lima tahun yang saling bertemu di pengadilan agama untuk menemai ibu mereka. Dari pertemuan singkat karena si anak lelaki menolong anak perempuan  dari tiga anak lainnya tumbuhlah cinta yang susah sekali ditemukan. Tak sempat berkenalan, maka keduanya saling mencari dengan ingatan masing-masing. Kedua fokus ini tidak saling berhubungan, namun memiliki sedikit keterikatan, yaitu Sirkus Pohon.
Sobiri, nama tokoh dari cerita pertama, hidup bersama Ayah, adik bernama Azizah dan suaminya yang nyaris tak ada guna bernama Instalatur Listrik Suruhudin. Karena SMP saja tak tamat, sementara mayoritas pekerjaan menstandarkan minimum memiliki ijazah SMA atau sederajat, alhasil Sobiri hanya bisa kerja serabutan di pasar. Menurut Azizah, lelaki itu harus bekerja tetap dan berwibawa, memiliki jam kerja, seragam, pulpen di saku, gaji tetap per bulan, kalau demam dapat ongkos ke puskesmas, kerja pakai kemeja lengan panjang dimasukkan ke dalam dan pakai sepatu. Pada akhirnya Sobiri mendapat tawaran bekerja tetap sebagai badut di sebuah sirkus milik seorang perempuan yang ditinggalkan mantan suaminya. Good morning, let’s go! Menjadi slogan baru Sobiri. Ah, betapa banyak hal berharga yang tak bisa diukur dengan selembar ijazah. Ia adalah ikon manusia tak patah arang dan berusaha menuntaskan harapannya. Menikah.
Harapan Sobiri terus bertahan bersama sakitnya calon istri, Dinda. Segala cara sudah dilakukan hingga orang tuanya pun menyerah. Tapi Sobiri dengan segala kekurangan yang dimiliki gadis tersebut tetap bersiteguh untuk menemani bahkan menikah dengannya. Meski harus dilupakan dan didiamkan, Sobiri tetap mengusahakan cara-cara terkonyol sekalipun untuk membangkitkan emosi Dinda.
Taripol, kawan lama yang membuat Sobiri drop out kelas 2 SMP. Hingga tumbuh dewasa pun ia masih belum berubah. Keluar dari penjara dan diterima bekerja di Sirkus keliling Blasia merubah Taripol menjadi seorang yang giat bekerja. Kepercayaan yang dimiliki pemiliknya terhadap Taripol, meski mantan napi, menjadi sebuah alasan dari loyalitas. Ia menunjukkan bahwa seburuk-buruknya manusia meski banyak pula yang memandang buruk dirinya, tentu masih memiliki hal baik. Terkadang seorang pecundang bagi banyak orang akan sangat loyal bagi satu orang yang mempercayainya.
Cerita Sobiri tak lengkap tanpa pohon delima yang tumbuh di depan rumahnya. Dari menjadi rumah bagi sepasang 00, mistik pengabul harapan yang menjadi rebutan, hingga penyembuh sakit 00.
Tara adalah anak dari pemilik Sirkus keliling Blasia. Sedari kecil ia sudah pandai menggambar bahkan merias demi kepentingan sirkusnya. Lelaki yang diingatnya dulu, yang kemudian ia beri nama Sang Pembela, hanya bisa ia gambar di berlembar-lembar kertas. Berbagai usaha dilakukannya. Dari harus ikut Pramuka karena menemukan anak yang sedikit mirip, iklan kehilangan orang di radio yang tak jelas karena tidak ada nama, sampai mengadakan pameran dari semua gambar-gambar tersebut.
Sedangkan Tegar hanya meningat wangi vanili yang persis dengan kue lumpang dari anak perempuan yang ditolongnya. Meski tidak terlalu pintar, ia menguasai Biologi terutama mengenai vanili. Tegar memberi julukan anak itu sebagai layang-layang karena ketika memikirkannya ia seakan melayang-layang. Ia pun turut mencari cinta pertamanya. Dari menjadi pemenang lomba lari hingga anggota paskibra tujuhbelasan agar dirinya diketahui. Dengan bantuan Adun, kawannya yang hanya pintar menganalisa bau, ia mencari pemilik wangi vanili tersebut. Meski wangi yang ia cium dulu ternyata adalah kenanga.
Kisah Tara dan Tegar mengingatkan kita akan cinta sederhana yang penuh perjuangan. Kalau saja mereka menyerah dengan cinta tersebut, maka ia hanya akan menjadi kenangan.
Banyak sekali pelajaran hidup yang tersirat dalam buku Sirkus Pohon ini. Kebahagiaan sederhana yang sering terlupakan dari kita yang terbawa bersama teknologi. Maka tak ayal Andrea Hirata katakan bahwa fiksi adalah cara terbaik menceritakan fakta.

Judul buku     : Sirkus Pohon
Pengarang      : Andrea Hirata
Penerbit         : Bentang Pustaka, 2017
Halaman         : 383 hlm


Surabaya, 13 Oktober 2017


Leave a Reply

Powered by Blogger.