Hal yang sangat saya akui bahwa pondok memiliki miliu kebaikan dan mendorong semua orang yang berada di dalamnya untuk melakukan lebih banyak kebaikan itu kembali saya rasakan. Alhamdulillah selalu di-recharge setiap Kamis, atau bahkan pada beberapa pertemuan tertentu dimana para kyainya selalu menyetrumkan energi positif. Terakhir saya berkunjung ke pondok, lebih tepatnya di kampus pascasarjana putri yang setiap Magribnya selalu mengadakan kultum, saya berkesempatan mendengar setruman dari dosen pembimbing skripsi, Dr. Nur Hadi Ihsan, yang hingga kini masih masa pemulihan akibat kecalakaan Ramadhan lalu. Bertepatan dengan kegundahan hati saya mengenai masa depan. Begini pesannya,
Allah menciptakan segala sesuatu yang ada di dunia ini (baik manusia, jin, tumbuhan, hewan dan bahkan perbuatan) semata-mata untuk beribadah pada-Nya. Illa liya’budun- yang berimplikasi agar kita mengetahui bahwasanya apa yang kita kerjakan, usahakan dan dapatkan itu bukan karena kehebatan atau kemampuan kita. We are nothing. Bisa kita mengerjakan UTS karena taufiq dari Allah, ingat kita pada suatu pekerjaan karena hidayah dari Allah, untung kita pada barang dagangan karena kehendak dari Allah, ataupun sebaliknya. Bukan semata karena strategi yang top, persiapan yang matang, apalagi IQ yang dimiliki. Hal ini juga termasuk pada kebalikannya, seperti kegagalan, musibah dan lupa.
Kita sering lupa bahwa kita adalah makhluk lemah yang mendapat kekuatan dari Yang Maha Memiliki Kekuatan dan Maha Kuasa. Kita sering berpikir bahwa kita terlalu hebat saat sukses dan terlalu jatuh saat gagal. Karena kita juga lupa untuk meniati semua hal karena Allah. Ngapain belajar tinggi-tinggi? Bukan agar memiliki titel panjang dan dihargai orang, tapi karena Allah. Ngapain kerja kantoran? Bukan agar memiliki harta yang berlimpah, tapi karena Allah. Dan segala pertanyaan ‘ngapain’ yang lain. Dulu saat KMI kita belajar bahwa semua pekerjaan yang tidak dimulai dengan bismillah maka tidak akan berkah.
Starting point kita adalah Allah. bismillah (dengan nama Allah), fillah (di jalan Allah), lillah (demi Allah), ila-Llah (kepada Allah), ma’a-Llah (bersama Allah). (Kalau tidak salah masih ada lagi, tapi saya lupa). Hal ini kita sadarkan agar semakin yakin bahwa Allah ada di seluruh dimensi kehidupan kita. Cukupkan diri kita pada Allah. Hasbiyallahu wa ni’ma al-Wakiil ni’ma al-Mawla wa ni’ma al-nashir.
Pada akhirnya kita tidak akan pernah merasa takut dan pesimis bila menghadapi kesulitan. Karena kita percaya bahwa Allah akan memberikan taufiq dan hidayah bagi orang-orang yang selalu berdoa dan berbuat kebaikan, kekuatan bagi yang  bekerja keras, berkah bagi orang yang sungguh-sungguh. Kita pun akan semakin mantap dan yakin bahwa apa yang diberikan Allah adalah sebaik-baiknya hal. Seperti dibuangnya Nabi Yusuf oleh saudara-saudaranya ke dalam sumur adalah sebuah jalan agar ia bisa menjadi orang yang lebih terhormat di Mesir. 
Di penghujung kultum itu saya kembali bertanya pada diri sendiri. “Kamu ngapain masih banyak mencitakan hal yang tinggi?” Saya kini memiliki jawaban yang tepat.
Uusiikum wa iyyaya nafsii bitaqwallah

Surabaya, 10 Oktober 2017

Bersama secangkir lemon tea yang sudah tidak dingin

edited- Bogor, 14 Desember 2018


Leave a Reply

Powered by Blogger.