Sabtu lalu saya dan adik akhirnya menonton Detective Conan Movie di CGV Marvell City Surabaya setelah bertahun-tahun di pondok dan hanya bisa menonton hasil download-an entah siapa yang mendownload. Di umur 24 dan masih suka anime bahkan mengumpulkan komiknya. Hobi ini sudah saya miliki sejak SD. Sangat tidak bermanfaat sekali dan membuang-buang uang memang. Komik yang pada awalnya seharga 7.500 sampai 25.000. Saya tumbuh bersama perkembangan harga tersebut.
Sewaktu kecil yang bisa saya lakukan hanyalah membaca dan bermain Play Station. Tidak aneh bila kenangan masa kecil yang saya miliki tidak banyak. Rumah yang selalu pindah ke tempat yang tak pernah ramah juga menjadi faktor lain. Selain teman sekolah, saya tidak memiliki banyak teman. Tapi mereka adalah orang-orang yang berharga karena pernah mengisi masa kecil saya.
Detektif Conan memiliki fans banyak dan setia. Bisa jadi kasusnya kurang lebih sama. Tumbuh bersama Conan. Sama seperti Harry Potter yang meski sudah tamat novel dan filmnya pun masih tetap ada penggemarnya. Kami tumbuh bersama mereka. Saya tidak tahu bagaimana anak kecil zaman sekarang menikmati hari-hari di sela sekolah, les dan pekerjaan rumah. Setiap masa ada ceritanya.
Saya tidak merasa harus melupakan atau meninggalkan kenangan masa kecil tersebut. Dulu kita pernah bahagia dengan cara sesederhana bisa kalahkan Ayah untuk menguasai TV di hari Ahad pagi.
Sekarang di umur 24 dengan banyak sekali pertimbangan hidup, saya sering menoleh ke belakang. Bukan hanya kenangan masa kecil, Conan, Harry Potter ataupun Harvest Moon, tapi juga kenangan-kenangan di pondok. Mencari sedikit energi disana yang seringnya terkuras karena menentukan langkah masa depan sembari mengusahakan kesusahan hari ini.

Jum’at, 10 Agustus 2018
Surabaya
12.19




Dulu saya pernah berniat menerbitkan buku mengenai perjalanan dua minggu ke Turki. Bukan travelling pribadi, tapi studi akademik yang di dalamnya saya temukan banyak inspiratif. Tulisan mengenai perjalanan tersebutsudah saya posting di blog setiap harinya tanpa saya edit. Khawatir bila saya tunggu esok hari bisa-bisa feelingnya hilang dan terparahnya saya lupa. Karena tulisan-tulisan itu saya biarkan dan banyak sekali tugas yang harus saya lakukan kala itu, maka membukukannya hanya menjadi angan. Saya pikir, “Nanti sajalah kalau sudah selesai kuliah. Kan sudah nggak banyak tugas.” Ketika lulus kuliah, hilang sudah apa yang mau saya lakukan terhadap tulisan tersebut. Bahkan pekerjaan semakin bertambah banyak. aah... seandainya saja saya cepat bergerak dulu...
Sama seperti kita yang harus menunggu ulang tahun, tahun baru, semester baru atau besok, bulan depan untuk mengerjakan sesuatu maupun melakukan perubahan. Memulai sesuatu adalah bagian terberat dari sebuah pekerjaan dan perjalanan. Melanjutkannya menjadi PR tersendiri. Padahal apa bedanya hari ini dan enam bulan ke depan. Bahkan bisa jadi enam bulan ke depan kita malah berharap jika saja dari kemarin-kemarin dikerjakan dan dimulai.
Jadi mengapa harus  menunggu? Niat baik yang dijalankan bukan hanya mendapat dua kali pahala, tapi niat baik yang disegerakan lebih baik daripada menunggu sempurna. Atau kalau kita waktu dan momen yang tepat. Pertanyaannya, kapan semua itu bisa menjadi tepat?

Surabaya, Senin, 30 Juli 2018
11.12

(cr image: www.authenticthought.net)



Sewaktu masih di pondok saya mengalami sedikit sekali perbedaan. Mungkin hanya perbedaan ide, tanpa merubah konsep asli. Kalaupun ada maka itu adalah pembaharuan yang bersifat teknis. Bukan ideologis. Karena di Gontor kami sudah memiliki konsep jelas hasil ijtihad para kyai selama sembilan puluh tahun lebih berkiprah di Indonesia.
Di Gontor saya bertemu dengan banyak sekali jenis manusia yang berasal dari berbagai ras. Sehingga tak bisa dipungkiri watak setiap individu pun berbeda-beda. Namun selalu ada hal yang menyatukan kami, yaitu nilai-nilai Islam, Iman, Ihsan dan kepondokmodernan. Bila belum bisa memahami pondok, maka kami tidak akan bisa mengungkap tabir islam, iman, ihsan yang berada di sela-selanya.
Saat saya keluar dari pondok, tentu nilai-nilai kepondokmodernan tidak bisa menjadi pengikat atas perbedaan. Sementara perbedaan terus saja muncul mengagetkan saya. Mungkin bagi orang lain saya juga berbeda. Tapi bagi saya yang besar di pondok, perbedaan-perbedaan itu adalah hal asing. Salah saya karena dulu memang tidak begitu peduli dengan kondisi umat dan bangsa. Yang saya pedulikan dulu adalah apa yang apa yang bisa saya lakukan untuk pondok, teman, santri, adik kelas dan diri sendiri. Padahal kini saya hampir kehilangan semua momen itu. Perbedaan adalah sebuah realita yang perlu saya sikapi dengan bijak.
Klise memang. Tapi inilah sedikit yang bisa saya baca dari keadaan.
Bila kita menghadapai perbedaan agama, sampai akar-akarnya pun sudah pasti akan berbeda. Hanya kesadaran akan berbangsa yang bisa menyatukan kita. Bila beda bangsa pun kita memiliki nilai yang bernama kemanusiaan.
Bila kita menghadapi perbedaan pemikiran dan madzhab, hanya keimanan dan keislaman yang bisa menyatukan kita. Saya punya cara pandang sendiri yang tentu tidak semua orang miliki. Pun sebaliknya.
Dalam menyikapi perbedaan kita tidak perlu saling membenci, memaki, atau merasa paling benar dan yang lain salah. Bukan konsep relatif yang mau saya utarakan. Ini tentang toleransi. Menerima perbedaan tanpa harus membenarkan yang berbeda. Karena kita punya prinsip dan keyakinan. Kalau kata kyaiku, toleransi harus dilaksanakan kecuali toleransi syariat. Orang yang tidak melaksanakan syariat itu tidak bisa ditoleransi. Dengan catatan bahwa syariat yang dimaksudkan adalah yang bersifat ushuli, bukan furu’i apalagi masalah khilafiyah.
Memang sih kalau kita tidak suka sama seseorang atau sesuatu maka tangan dan mulut ini gatal kalau tidak mengutarakannya. Tangan yang ingin segera typing hate status atau hate comment dan mulut yang ingin segera memaki atau paling tidak membicarakannya dengan orang lain. Kalau kata seorang teman, hal seperti itu kalau ditahan malah kita yang sakit dan menyesakkan. Saya hanya bisa komen, bitter but sweet.
Love and peace J
Senin, 21 Mei 2018/5 Ramadhan 1439
Di kamar depan setelah pusing baca materi UAS besok dan beralih ke masak sahur lalu menulis *nggapenting

Image source https://unsplash.com/photos/y0HerwKQLMk



Dulu saat masih KMI atau sepantaran sekolah menengah cita-cita saya tidak pernah berubah. Menjadi seorang wartawan. Beberapa kegiatan yang saya ikuti juga seputar jurnalistik dan tulis menulis. Hingga saat kuliah S1 saya masuk program studi Aqidah dan Filsafat Islam namun kegiatan non akademik yang saya ikuti juga masih mengenai jurnalistik.
Kini saya S2 di Kajian Timur Tengah dengan peminatan politik dan hubungan internasional yang tidak pernah saya rencanakan sebelumnya. Niat awal untuk meneruskan studi di luar negeri terpaksa saya undur karena nilai IELTS yang belum mencukupi dan tentu saja beasiswa. Keadaan memaksa saya harus tetap belajar. Kalau tidak otak saya akan semakin tumpul. Meski saya harus merasa kaget dan harus belajar dari dasar lagi, namun saya harus membuat pilihan dengan keadaan tersebut.
Saya pernah posting di Instagram dengan caption sederhana mengenai pilihan dan keterpaksaan. Ada yang memilih kuliah, ada yang kuliahnya dipaksa. Ada yang memilih kuliah, ada juga yang menikahnya dipaksa. Ada yang memilih bekerja, tapi ada juga yang bekerja masih terpaksa. Hidup ini pilihan tergantung bagaimana kita menyikapi dan menghadapinya. Sampai seorang teman ada yang bertanya bagaimana jadinya kalau kuliah dipaksa? Bagaimana harus menyikapinya? Bagaimana harus menjalaninya?
Saya memilih untuk tidak menikah dan bekerja dulu untuk kuliah. Namun kuliah yang saya jalani sebenarnya juga karena terpaksa. Keadaan yang memaksa. Kalau saya mengundur waktu kuliah, Ayah saya tak akan mampu lagi membiayai. Kalau saya tak kuliah tahun ini, maka hasrat keilmuan saya bisa saja pudar. Jadilah saya kuliah di Jakarta. Ke kota yang tidak pernah saya bayangkan untuk tinggali.
Kita punya pilihan. Tentu sangat banyak pilihan. Terlebih bagi kamu yang berusia sekitar dua puluhan. Mimpi-mimpi remaja yang masih belum menguap, pilihan hidup yang masih segar. Tapi pilihan-pilihan itu juga tidak bisa kita jadikan alasan untuk lari dari kenyataan dan keadaan yang kita hadapi saat ini. We live at the moment, kan. Karena keadaan yang memaksa. Klise sebenarnya. Namun jangan sampai keadaan mengubahmu. Menjadikanmu untuk menjalani kehidupan dengan keterpaksaan. Kamu tetap punya pilihan dengan keadaan tersebut. Pilihanmu untuk menjadi baik atau tidak. Pilihanmu untuk tetap menjadi baik atau tidak.
Uusiikum wa iyyaya nafsii bitaqwaLlah

Bogor, Jum’at 13 April 2018
7.41 AM
Sudah baca al-Kahfi hari ini?


(image source : www.bbc.com, credit: Gary Image)


Origin adalah buku fenomenal Dan Brown yang ketujuh. Masih mengenai simbol-simbol agama dan petualangan Robert Landon, kini Brown akan mengajak kita mempertanyakan esensi kehidupan semesta. Darimana asal itu bermula dan berakhir.
Kini Langdon berada di Spanyol untuk memenuhi undangan dari sahabatnya, Edmond Krisch, seorang ilmuwan ateis yang sangat menentang keberadaan agama. Malam itu Kirsch akan mengumumkan ke seluruh dunia mengenai sebuah penemuan ilmiah untuk menjawab asal mula kehidupan yang dimana manusia sedari dulunya hanya berlandaskan pada mitos dan doktrin agama. Penemuan ini tentu saja akan menggemparkan dunia karena bertentangan dengan ajaran semua agama dunia. Terbukti dari terkejut dan takutnya tiga pemuka agama dunia, Islam, Kristen dan Yahudi saat diperlihatkan potongan dari presentasi penemuan tersebut. Sayangnya, pada puncak presentasi, setelah pembukaan yang sangat memukau, Kirsch dibunuh oleh seorang perwira angkatan laut Spanyol.
Dunia gempar. Besar kemungkinan bahwa pembunuh Kirsch tidak ingin penemuan tersebut disebarluaskan karena mengancam agama dunia. Bukan hanya kematian Kirsch, tapi juga terbunuhnya dua dari tiga pemuka agama yang mengetahui penemuan tersebut hingga akhirnya menimbulkan teori konspirasi serta antusiasme seluruh dunia untuk mengikuti perkembangan malam tersebut. Kejelasan kematian Kirsch, penemuannya dan kaburnya calon ratu Spanyol, Ambra Vidal dan Robert Langdon dari mata pengawal.
Ambra sebagai pengelola museum tempat diselenggarakannya acara tersebut diberitahu Kirsch bagaimana ia akan mendemonstrasikan penemuannya. Demi menuntaskan publikasi penemuan tersebut pada dunia, ia dan Robert Landon dibantu oleh Winston, sebuah sistem cerdas buatan Kirsch, menuju Barcelona mencari kode dengan empat puluh tujuh huruf sebagai akses dari penemuan Kirsch.
Setting yang dipakai pada novel ini dibagi menjadi tiga. Pertama, perjalanan Langdon dan Ambra yang terus diikuti oleh pengawal kerajaan, polisi setempat dan pembunuh Kirsch. Dimulai dari rumah kediaman Kirsch, gereja, hinga pusat penelitian Kirsch. Kedua, hiruk pikuk istana akan kehilangannya Ambra Vidal serta pangeran Julian yang dibawa pergi oleh uskup Valdespino, salah seorang pemuka agama dunia yang mengetahui penemuan Kirsch dan satu-satunya yang masih hidup. Ketiga, website konspirasi yang terus meng-update perkembangan malam tersebut dan teori-teori konspirasi seputar Kirsch, agama dunia, pembunuh Kirsch dan penemuannya. Seorang anonim berkontribusi besar dalam tulisan-tulisan tersebut.
Novel ini tidak banyak menjelaskan simbol-simbol agama sebagaimana novel Dan Brown yang sebelumnya. Menitikberatkan pada perseteruan sains dan agama yang jarang bertemu pada titik yang sama, Brown mengajak kita berpikir lebih luas. Bukan agama yang salah, tapi pemahaman agama yang gelaplah yang salah. Bukan sains yang salah, tapi pemahaman kita terhadap kehidupanlah yang salah. Meski pada akhirnya penemuan Kirsch sudah berhasil dipublikasikan pada dunia, menjadi sebuah misteri penting siapakah otak dari pembunuh Kirsch yang sebenarnya. Karena rupanya perwira angkatan laut tersebut hanyalah tangan yang dibayar dengan uang bersama dendam membabi buta. Landon berhasil melacak kode anonim dari kontributor website konspirasi yang rupanya menjadi otak dari rangkaian malam tersebut sekaligus sistem yang membantu perjalanannya. Dari sanalah kita belajar bahwa secanggih-canggihnya teknologi, ia bukan manusia.


Have a nice read! 


Powered by Blogger.