Dulu saat masih KMI atau sepantaran sekolah menengah cita-cita saya tidak pernah berubah. Menjadi seorang wartawan. Beberapa kegiatan yang saya ikuti juga seputar jurnalistik dan tulis menulis. Hingga saat kuliah S1 saya masuk program studi Aqidah dan Filsafat Islam namun kegiatan non akademik yang saya ikuti juga masih mengenai jurnalistik.
Kini saya S2 di Kajian Timur Tengah dengan peminatan politik dan hubungan internasional yang tidak pernah saya rencanakan sebelumnya. Niat awal untuk meneruskan studi di luar negeri terpaksa saya undur karena nilai IELTS yang belum mencukupi dan tentu saja beasiswa. Keadaan memaksa saya harus tetap belajar. Kalau tidak otak saya akan semakin tumpul. Meski saya harus merasa kaget dan harus belajar dari dasar lagi, namun saya harus membuat pilihan dengan keadaan tersebut.
Saya pernah posting di Instagram dengan caption sederhana mengenai pilihan dan keterpaksaan. Ada yang memilih kuliah, ada yang kuliahnya dipaksa. Ada yang memilih kuliah, ada juga yang menikahnya dipaksa. Ada yang memilih bekerja, tapi ada juga yang bekerja masih terpaksa. Hidup ini pilihan tergantung bagaimana kita menyikapi dan menghadapinya. Sampai seorang teman ada yang bertanya bagaimana jadinya kalau kuliah dipaksa? Bagaimana harus menyikapinya? Bagaimana harus menjalaninya?
Saya memilih untuk tidak menikah dan bekerja dulu untuk kuliah. Namun kuliah yang saya jalani sebenarnya juga karena terpaksa. Keadaan yang memaksa. Kalau saya mengundur waktu kuliah, Ayah saya tak akan mampu lagi membiayai. Kalau saya tak kuliah tahun ini, maka hasrat keilmuan saya bisa saja pudar. Jadilah saya kuliah di Jakarta. Ke kota yang tidak pernah saya bayangkan untuk tinggali.
Kita punya pilihan. Tentu sangat banyak pilihan. Terlebih bagi kamu yang berusia sekitar dua puluhan. Mimpi-mimpi remaja yang masih belum menguap, pilihan hidup yang masih segar. Tapi pilihan-pilihan itu juga tidak bisa kita jadikan alasan untuk lari dari kenyataan dan keadaan yang kita hadapi saat ini. We live at the moment, kan. Karena keadaan yang memaksa. Klise sebenarnya. Namun jangan sampai keadaan mengubahmu. Menjadikanmu untuk menjalani kehidupan dengan keterpaksaan. Kamu tetap punya pilihan dengan keadaan tersebut. Pilihanmu untuk menjadi baik atau tidak. Pilihanmu untuk tetap menjadi baik atau tidak.
Uusiikum wa iyyaya nafsii bitaqwaLlah

Bogor, Jum’at 13 April 2018
7.41 AM
Sudah baca al-Kahfi hari ini?


(image source : www.bbc.com, credit: Gary Image)


Leave a Reply

Powered by Blogger.