Rumah selalu menjadi tempat rehat saat liburan. Paling tidak, begitu yang kulakukan selama menjadi anak rantau 14 tahun terakhir. Pernah ada jeda beberapa bulan pada tahun 2017. Itu pun kuhabiskan dengan melancong ke berbagai kota. Menetap di rumah pada jangka waktu yang lama belum pernah kulakukan. Empat bulan terakhir yang juga bertepatan dengan selesainya studi, benar-benar menjadi sebuah pembelajaran bila tak bisa dikatakan keajaiban. Rumah bukan lagi tempat jeda untuk istirahat, tapi menjadi tempat aman dan refleksi banyak hal.

Tagar #dirumahaja terdengar lebih ramah daripada self-quarantine. Siapa ya yang memulai? Aku sih mendengarnya dari Mba Nana Najwa Shihab. Di rumah menjadi opsi penting yang terjadi karena keadaan dan paksaan. Selain menghindari atau mengurangi penyebaran covid-19, berada di rumah juga menjadi masa refleksi diri. Terlebih untuk masa jeda atau gap session.

Sedari dulu pasca wisuda aku meyakinkan diri. Masa jeda jangan dihabiskan sendiri atau berada di rumah karena akan rentan. Paling tidak, itu yang kurasakan pada masa jeda dulu. Bagaimana lagi harus berada di rumah pada masa rentan ini justru mengubah perspektifku terhadap rumah.

Aku tidak sendirian di rumah. Jutaan orang lain juga mengalami hal serupa. Perasaan kolektif itu membuat aktivitas di rumah saja menjadi tren global. Dari membuat dalgona coffee, memasak apa pun, bercocok tanam, hingga bersepeda. Aktivitas yang bisa jadi tidak akan dilakukan kecuali benar-benar di rumah dengan waktu yang sangat panjang. Berada di rumah juga menjadi pengalaman baru. Secara fisik kita menjaga diri dari virus corona. Namun secara mental, beberapa menjadi rapuh bahkan explode.

Waktu jeda di rumah kugunakan untuk banyak membaca buku, pikiran, dan hati. Rupanya banyak masalah batin yang belum diselesaikan. Urusannya kembali pada mindset. Belum siap menghadapi ketidakpastian, ketakutan, selalu berusaha baik-baik saja, dan beberapa hal lain yang harus segera dibereskan. Menjaga mental memang perkara mudah tak mudah. Toh perspektif pada rumah dan masa jeda kini juga turut berubah. Semua pikiran tersebut aku yang buat dan memang irasional.

Bila biasanya berada di rumah hanya bermain melepas penat dari rutinitas, membereskan rumah dan membantu orang tua, kini rutinitas baru adalah usaha beradaptasi dengan tempat dan kondisi apapun. Beberapa bulan ke depan toh keadaan belum akan berubah. Ketidakpastian akan semakin membuncah, tapi kamu akan tetap hidup.

Mindset-ku tentang sebuah tempat dan pekerjaannya sudah abu-abu. Bukan lagi perasaan dan pengkondisian setiap tempat ada rasanya, karena toh setiap pekerjaan bukan lagi berada di tempatnya. Kini rumah menjadi tempat kembali. Tempat di mana orang-orang berharga yang menghargaimu lebih dari apapun berada. Tempat untuk memulihkan banyak luka dari tempat rantau yang belum terobati. Tempat menjadi diri seutuhnya.

Badan memang berada di remote Jogja, tapi pikiran dan hati berkelana di seberang samudera.



Powered by Blogger.